
"Terima kasih sayang, dari awal kita bertemu, kau selalu melindungiku. Terimakasih sayang!" ucap Laras sembari memeluk tubuh kekar sang mafia. Dia sangat beruntung mendapatkan suami yang pandai bertarung dan juga pandai menjaga hati, sangat menyayangi anak-anaknya.
Tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu semua, Laras selalu mensyukuri nikmat Tuhan yang satu ini.
"Kau adalah kesayanganku, tidak ada yang boleh menyentuhmu selain diriku, si Raf juga tidak boleh." Alex sepertinya masih memikirkan tentang pria yang pernah satu kampus dengan Laras itu. Buktinya, dia masih saja membahas Raf di sela percakapannya dengan sang istri.
"Hadeh! kau ini apa sih? kau adalah suamiku, kesayanganku juga. Tidak ada pria lain lagi, jika ada hanya ayah dan anak kita." Laras meyakinkan Alex agar tetap mempercayai dirinya dan tidak meragukan kesetiaannya.
Sang mafia ingin sekali percaya, tetapi rasa cemburu di dalam dadanya, membuat Alex tak mampu menahan diri. Tangan kekar sang mafia meraih pinggang ramping Laras dan mendekatkan ke arah dada bidangnya yang kokoh.
"I love Laras, tetaplah di sisiku! jangan lupakan kata-kata itu," ucap Alex dengan tatapan tajam ke arah mata sang istri. Terlihat jelas di dalam mata sang mafia bahwa rasa cinta yang begitu besar terpancar dari sana.
Alex mempererat pelukannya, namun ketukan pintu kembali mengusik kemesraan keduanya.
"Itu pasti anak-anak." Laras keluar dari ruang ganti baju kemudian melangkah menuju pintu utama, kali ini Alex tidak mencegah sang istri, dia membiarkan Laras untuk membuka pintu itu.
KLEK!
Pintu terbuka, tetapi bukan anak-anak yang ada di depannya, melainkan ayah dan ibunya.
"Dimana Alex?" tanya Tuan Hans.
"Ada di dalam ruang ganti ayah, ada apa ayah mencari suamiku?" Laras menatap raut wajah keduanya yang terlihat serius.
"Ayah dan ibu, jangan katakan jika kalian ingin cucu perempuan itu segera hadir?" Laras was-was, dia khawatir jika kedua orangtuanya akan memberikan saran aneh kepada Alex.
"Bukan, bukan seperti apa yang ada di pikiranmu. Lebih baik kau menjaga anak-anakmu. Mereka sangat merindukanmu," ucap Nyonya Fira penuh misteri.
"Iya, aku mengetahui tentang hal itu. Okelah, aku sekarang mengalah saja, silahkan masuk ayah dan ibu, aku akan menemani anak-anak." Laras mempersilahkan kedua orang tuanya masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Laras memilih untuk mengalah, dia tidak ingin terlalu lama berdebat karena tidak ada gunanya hal tersebut.
* * *
Di kamar anak-anak...
Laras berjalan menuju kamar ke lima anaknya yang berada di dekat dapur. Langkahnya sedikit gontai karena rasa kantuknya yang masih saja melanda.
"Hoam!" Laras menutup mulutnya yang terus saja menguap itu.
Langkah kaki Laras terhenti di depan kamar kelima babynya.
KLEK!
Laras membuka pintu kamar tersebut, mata indahnya langsung terpaku dengan tingkah kelima babynya yang sedang menonton kartun kesukaannya. Wajah polos nan tampan menghiasi paras kelima anaknya.
Mereka berlari menuju ke arah mommy Laras kemudian memeluk tubuh mungilnya, hampir saja wanita itu terjungkal saat kelima jagoannya secara bersamaan mendekap erat tubuhnya.
"Hati-hati sayang, mommy bisa jatuh nanti!" ucap Laras memperingatkan.
"Maaf mommy, kami rindu mommy, daddy juga. Tetapi saat kami mengetuk pintu kamar mommy, kenapa mommy dan daddy tidak merespon?" tanya Aarav yang penasaran.
"Oh, daddy dan mommy sedang tidur sayang, kami kelelahan," jelas Laras.
"Tetapi kakek bilang, jika pintu kamar mommy tertutup, besar kemungkinan daddy sedang menemui adik perempuan." Aarav menimpali ucapan mommynya dengan kata-kata polos.
"Kakek benar, dengarkan mereka," pinta Laras dengan senyum manisnya.
"Oke mom!" jawab kelima babynya serentak.
__ADS_1
Di tengah kebahagiaan kelima baby, satu kejutan lagi datang.
Sosok yang sangat baby A rindukan, tengah berada di belakang tubuh mommy Laras.
"Daddy!!!"
Pelukan hangat kini beralih ke arah tubuh kekar Alex.
Laras menatap wajah Alex dan anak-anaknya, sekilas ke-6 baby boy plus big baby terlihat mirip.
"Lex, kau datang? bukannya kau dan kedua orang tuaku sedang membicarakan hal penting? mengapa bisa tiba-tiba datang kemari?" Laras heran dengan kedatangan Alex.
"Oh iya, tadi aku dan kedua orang tuamu membahas hal penting." Tatapan mata Alex seperti menyembunyikan sesuatu.
"Hal penting?! apa tentang baby B?" terka Laras.
"Bukan, ehm... nanti aku akan menceritakan segalanya kepadamu, setelah anak-anak kembali tidur."
"Okay..!"
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1