Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Siapa mereka?


__ADS_3

Dua jam lebih mereka bertiga bercengkrama sampai Alex lupa dengan pesanan anaknya. Dia berpamitan kepada Guru Fu dan Nyonya Dian.


"Aku harus segera pulang. Aarav, anak kembarku ingin daddynya segera kembali. Dia mengancam akan menahan kasih sayang mommynya, jika tidak segera kembali dan membawa mainan untuknya." Alex beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri Guru Fu dan memeluknya.


"Kau pulanglah Lex, nanti anak-anakmu bisa memecatmu menjadi daddy jika tak segera kembali," ucap nyonya Dian sembari menepuk lembut pundak sang mafia.


"Iya Lex, kau lebih baik segera kembali. Kau saja dulu akan mengamuk saat Tuan Fernando tak kunjung menemuimu," celetuk Guru Fu.


Sang mafia melepaskan pelukannya.


Alex menahan tawa, dia memang seperti itu. Jika anaknya memiliki sifat yang sama, berarti buah jatuh tidak jauh dari pohonnya memang nyata adanya.


"Baik Nyonya, Guru Fu, aku pergi dulu. Ini kartu namaku, bawalah bersamamu. Hubungi aku segera jika ada informasi tentang Asley." Sang mafia memberikan kartu nama kepada Nyonya Dian.


"Baiklah, salam untuk isteri dan anak kembarmu, sabar ya? dalam mengasuh mereka," petuah bijak dari Guru Fu yang super sabar.


Alex menggangguk, dia segera pergi dari kafe tersebut.


Saat Alex hendak masuk kedalam mobilnya, dia melihat ada sosok yang memperhatikan dirinya. Sosok itu ia lihat dari kaca spion mobilnya.


"Ada yang ingin bermain-main, baiklah! akan aku layani." Alex tancap gas, dia segera melajukan mobilnya menjauh dari kafe Orchid.


Dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, dia masih mendapati sosok penguntit yang mengikutinya. Sang penguntit mengendarai mobil mewah yang jarang di miliki oleh orang umum.


Alex memiliki rencana untuk menjebaknya, dia mengalihkan pandangan si penguntit dengan memilih jalur berbeda, dia memancing mobil yang mengikutinya masuk ke dalam tempat yang sepi, seperti tempat pembuangan mobil bekas.


Saat Alex berhenti di sana, dia turun dari mobil dan menghampiri dua pria yang juga sudah turun dari mobilnya.


"Apa mau mu?" tanya sang mafia dengan gagah berani.


"Nyawamu!" jawab kedua orang itu tanpa rasa takut.


Seketika kedua orang itu langsung menyerang sang mafia.


Satu orang memukul dada Alex, satu lagi mencoba menjatuhkan tubuhnya.


Namun, sang mafia lebih dulu mengantisipasi, dia langsung menendang tubuh salah satu penguntit dan memukul tubuh mereka secara bertubi-tubi.


Tapi saat mereka roboh, salah satu penguntit mengeluarkan senjata api dari balik jas yang ia kenakan.

__ADS_1


Alex hampir saja mendapatkan timah panas di lengannya jika tidak menghindar.


Sang mafia segera menendang tangan penguntit yang telah kurang ajar menembakkan peluru ke arahnya.


Senjata api yang di bawa sang penguntit jatuh, seketika sang mafia menggunakan senjata api tersebut untuk mengancam kedua penguntit.


"Siapa yang menyuruh kalian! KATAKAN!" Keduanya dalam posisi tengkurap, Alex berdiri di atas punggung penguntit sembari menodongkan senjata.


"Sampai matipun tidak akan aku katakan!" jawab salah satu penguntit.


"Baiklah! kita lihat, siapa yang akan menang setelah ini." Sang mafia memukul tengkuk keduanya dengan senjata api di tangannya.


Alex menyeret tubuh keduanya masuk ke dalam mobil dan membawanya ke markas Death Angel yang ada di kota New York.


"Frank, kau ada di markas?" tanya sang mafia di sambungan telepon.


"Iya bos, ada apa?" tanya Franklin.


"Ada dua orang yang mengikuti ku, kau nanti urus dia!" Sang mafia meminta Frank mengurus dua penguntit yang tidak ada rasa takut sama sekali dengannya.


"Buat dia mengakui, siapa yang menyuruhnya mengikutiku!" sambung Alex kesal.


"Baik bos! bawa padaku, akan aku kuliti mereka jika melawan!" Franklin akan menindak tegas siapapun yang membuat sang bos marah.


Dia mempercepat laju kendaraannya, beberapa menit kemudian, sang mafia sampai di markas Death Angel.


Kedatangan sang mafia langsung di sambut oleh Franklin dan Zicko yang di percaya bos Alex untuk menjaga markas.


"Dimana dua baj*ngan itu?" tanya Franklin.


"Ada di jok belakang," jawab sang mafia.


Franklin membuka pintu mobil dan segera menyeret dua penguntit di bantu oleh Zicko.


"Aku pergi dulu, ada urusan penting yang harus aku kerjakan. Nanti malam aku akan kembali!" Sang mafia pamit karena harus pulang tepat waktu agar kelima anaknya tidak menunggu terlalu lama.


"Baik bos!" jawab Frank dan Zicko secara bersamaan.


Alex segera membawa mobilnya pergi dari markas. Dia akan pergi ke sebuah toko mainan yang biasa ia datangi untuk membeli mainan untuk kelima jagoannya.

__ADS_1


Letaknya ada di pusat kota, jadi dia harus kembali ke kota untuk membeli mainan untuk Aarav dan ke empat adiknya.


Satu jam kemudian, dia telah sampai di toko mainan tersebut.


Kedatangan sang mafia membuat heboh seisi toko.


"Astaga! apa dia bos Alex? CEO Dounghun yang tampan dan rupawan itu?" ucap salah satu pengunjung.


"Iya, dia adalah hot daddy dengan lima anak kembar. Isterinya juga sangat cantik dan anggun, namanya Nyonya Laras." Banyak orang bergosip tentang dirinya dan keluarganya namun Alex cuek. Dia lebih perduli dengan hadiah untuk anak-anaknya.


"Aarav lebih suka robot yang ini," ucap sang mafia sembari mengambil salah satu robot kesukaan Aarav.


"Ini untuk adik-adiknya," sambung sang mafia.


Dia mengambil empat robot yang berbeda karena selera Aarav paling beda dengan yang lain.


Alex membawa lima robot itu ke meja kasir, dia ingin membayar.


"Berapa nona?" tanya sang mafia.


Bukannya segera menjawab pertanyaan sang mafia, justru nona kasir asyik menatap wajah tampan Alex.


"Hey? nona?" Sang mafia kembali memanggil nona kasir, kali ini sang nona tersadar dari kekagumannya.


"Oh, maaf Tuan! saya telah melakukan kesalahan!" Sang nona membungkukkan badannya.


"Berapa harga semua mainan ini?" Sang mafia mengeluarkan kartu kredit limited editionnya.


Sang kasir segera menscan barcode yang tertempel di lima mainan tersebut.


"100juta Tuan." Sang nona segera menggesek kartu kredit itu.


Setelah selesai, dia mengembalikan kartu itu. Sang nona segera membungkus kelima mainan untuk si kembar lima.


"Ini Tuan, terimakasih atas kunjungannya, lama sekali anda tidak datang kemari." Sang nona mencuri pandang kepada Alex.


"Sedang sibuk membahagiakan anak dan isteriku." Alex mengambil kartu kredit dan bungkusan berisi mainan dan segara pergi dari toko itu.


Setelah kepergian sang mafia, para pengunjung yang hanya berjumlah beberapa orang saja menghampiri nona kasir.

__ADS_1


"Astaga! apa kau melihat dengan jelas wajah tampan itu?" Salah satu pengunjung bertanya dengan wajah yang berbinar.


"Tentu saja, wow dia harum dan mempesona. Aku di buat melayang olehnya." Sang nona merasa beruntung bisa bertatap muka dengan sang mafia yang terkenal cool dan cuek itu.


__ADS_2