Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Kedatangan Alex


__ADS_3

New York, Amerika serikat


Di Dalam kamar utama, sang mafia yang tengah di mabuk rindu meluapkan segalanya kepada sang istri. Rasa yang membuncah di dalam dada, kini sudah tersalurkan.


“Baby, semakin bertambahnya usia, kau semakin pandai saja,” puji Alex


Dia merasa puas dengan pelayanan yang di berikan oleh Laras.


“Ehm ... benarkah? aku hanya mengikuti apa yang baby B inginkan sayang. Rasanya selalu rindu setiap hari.” Sejak hamil Baby B, gairah bercinta sangatlah besar, justru Alex yang kewalahan karena harus melayani permintaan sang istri.


“Itu akal bulus baby,” tukas Alex sembari memainkan hidung sang istri, kedua mata mereka saling bertatap. Cinta yang dimiliki keduanya terlihat sempurna.


“Baby, aku harus pergi setelah ini ke Macau. Ada banyak hal yang harus aku lakukan di sana,” imbuh sang mafia berterus terang agar tidak mendapatkan masalah dikemudian hari akibat tidak berbicara terlebih dahulu.


“Satu permainan lagi sebelum pergi, ya?” rengek Laras. Dia terlalu ingin bermesraan sepertinya hari ini.


“Ya,” jawab Alex menyanggupi.


Kedua orang yang tak berbusana itu, kembali melakukan pergulatan yang luar biasa panas sebelum sang mafia pergi.

__ADS_1


Alex meraih tengkuk sang istri dan semakin menekannya agar pertautan bibir keduanya semakin dalam. Tangan nakalnya juga sudah siap untuk menerobos buah surgawi dengan pucuk ranum yang menggoda untuk dipermainkan olehnya.


“Baby, kau nakal!” ucap Laras saat sang suami melepaskan pertautan itu dan mengganti dengan mempermainkan bagian bawahnya.


Permainan panas berulang kali terjadi hingga tubuh sang mafia pun kembali roboh.


Pelepasan yang diinginkan telah terlaksana. Keduanya sepakat untuk mandi bersama.


....


Ritual mandi bersama telah usai, tubuh keduanya juga telah mengenakan pakaian lengkap.


“Iya baby. Kau berhati-hatilah. Musuh diluar sana sangatlah banyak.” Laras berjinjit dan mencium bibir sang suami dengan airmata yang mengalir.


“Baby, jangan menangis,” ucap sang suami saat pertautan bibir itu telah usai.


“Hiks, bodoh! ini karena aku sangat mencintaimu Lex,” jawab Laras memeluk tubuh kekar itu tak ada puasnya.


“Baby, stop! Kau ikut denganku juga kasihan anak-anak. Kau bersabar ya baby? jangan terlalu memikirkan hal yang aneh-aneh. Aku disana ingin membasmi musuh, bukan mencari kesenangan bersama para gadis. Kau paham aku kan? mafia yang paling setia sejagad raya.”

__ADS_1


Alex sangat percaya diri, meskipun itu memang kebenarannya. Sang mafia satu-satunya penjahat yang memiliki satu istri saja. Ini menular ke anak buahnya.


“Aku pergi baby, jangan lupa jaga kesehatan, jaga anak-anak, jaga dirimu sayang. Hubungi tiap jamnya, aku tidak akan bisa tanpa kabar darimu,” ucap sang mafia sembari mencium kening sang istri.


“Ya baby, hati-hati di jalan. Kau tidak perlu berpamitan dengan anak-anak. Mereka akan banyak bicara dan tidak akan memperbolehkanmu pergi.” Laras memberikan solusi terbaik.


“Oke. Aku akan memesan tiket yang paling cepat hari ini,” ucap Alex sembari menelepon Franklin.


Dia meminta Frank untuk memesan tiket ke Macau, tidak beberapa lama kemudian tiket sudah berhasil dipesan dengan penerbangan satu jam lagi.


Alex melepas genggaman tangan sang istri, tapi Laras ingin mengantar sampai bandara.


Sang mafia tidak mampu menolak karena entah kapan dia akan kembali.


Laras dan Alex keluar dari kamar utama menuju depan rumah, tempat mobil mewah itu berada, namun saat akan membuka pintu utama, terdengar tangisan baby A.


“Baby, aku tidak jadi ikut, anak kita menangis, kau pergilah! hati-hati di jalan." Laras berlalu sembari mempercepat langkahnya agar baby A tidak menangis lagi.


"Oke baby."

__ADS_1


...


__ADS_2