
Setelah usai dengan tugasnya membantu Laras membersihkan diri, Alex mengendong tubuh itu keluar dari bathup, ia menelan ludah kala nampak di pandangannya tubuh polos, kulit putih nan bersih terpampang nyata di depannya.
'Sial! Lex sadar, sadar!' Kata hati sang mafia bergejolak, antara ingin menyentuh lagi atau sudahi.
Alex menurunkan tubuh sang isteri sembari mengambil handuk kimono yang sudah siap di rak kecil di samping bath up tersebut. Laras melihat keanehan pada sang suami kemudian membelai wajahnya.
"Biar aku pakai sendiri handuk kimononya," pinta Laras sembari meraih handuk kimono yang ada di tangan Alex. Namun Alex mencegahnya, dia ingin melayani sang isteri.
"Kau diamlah, aku yang akan melayanimu," ucap Alex, Laras menuruti apapun keinginan sang suami. Dia berdiri di belakang Laras dan meminta sang isteri merentangkan kedua tangannya. Satu persatu, tangan Laras masuk ke dalam lengan panjang handuk kimono itu. Ia mengikat tali yang ada di pinggang, dan membopong sang isteri keluar dari kamar mandi.
"Sayang i love you," Laras melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Ciuman itu hanya berlangsung beberapa menit saja sampai pada akhirnya Alex merebahkan tubuh sang isteri di atas ranjang.
"I love you too," jawab sang suami mesra.
Sang mafia memilih satu baju hamil berwarna peach, meski tak bermotif, tidak membuat baju hamil Laras kuno ataupun ketinggalan zaman.
Perlahan tapi pasti, kini ibu hamil telah mengenakan kain penutup di tubuhnya, sebuah baju hamil dengan warna yang sangat cocok dengan kulit Laras. Terlihat jelas aura ibu hamil yang cantik dan menggemaskan itu.
"Akhirnya kau pakai baju juga, bisa mati berdiri aku melihat tubuh polosmu sepanjang hari," Jerit hati sang mafia sungguh miris, dia orang yang tak mampu jika harus menunggu namun dia harus terbiasa dengan itu.
"Haha, apa kau ingin bermain? aku akan membantumu," Laras sudah menduga sejak awal jika sang suami ingin melakukannya.
"Bantuan macam apa yang ingin kau berikan?" tanya sang mafia penasaran.
Laras meminta sang suami mendekat padanya, Alex yang belum memahami situasi ini menurut saja apa yang isterinya katakan.
"Dada bidangmu sangat indah," Laras mengecup kulit penuh goresan itu, Alex menahan nafas, masih mencoba mempertahankan kesadarannya. Jika dia menggila, akan sangat berbahaya.
Sang isteri semakin nakal, tangan mungilnya kini bergerilya ke bawah sana, menyusup helai kain sang suami dengan lihai.
"Sayang, hentikan!" Alex menahan gerakan tangan Laras yang sudah menguasai seluruh miliknya.
"Nikmati saja sayang, kau sudah terlalu baik padaku. Saatnya aku membalas budi," Laras tidak memperdulikan ucapan sang suami, dia mulai menaik turunkan ritme gerakan tangannya.
Alex tak kuasa menahan diri, dia hanya bisa pasrah dengan apa yang sang isteri lakukan. Sang mafia menikmati pelayanan luar biasa yang Laras berikan padanya.
__ADS_1
"Sayang, kau sangat tampan saat bergairah," Laras bersandar di dada bidang Alex dengan tangan masih asyik bermain di bawah sana.
Beberapa menit berlalu, Alex sudah merasa ada yang ingin lepas dari tubuhnya. Dia mampu bertahan lebih dari satu jam untuk tidak terpengaruh dengan ritme gerakan tangan itu, namun mengingat kekuatan sang isteri masih terbatas, ia ingin segera menuntaskannya.
Bisikan kata cinta Laras mengiringi gerakan tangannya yang semakin intens. Sampai pada akhirnya...
"Sayang, kau terlalu berani bermain di bawah sana, siapa yang mengajarimu?" Alex menghela nafas, dia merasakan nyaman di sekujur tubuhnya. Entah sejak kapan dia menahan gelora itu. Sang mafia telah belajar arti kesabaran sejak Laras menjadi isteri dan hamil anaknya.
"Memangnya aku melupakan setiap hal yang kau ajarkan padaku, kau yang memberikan pelajaran ini, apa kau lupa?" Laras menahan tawanya saat mata sayu sang suami menampakkan keinginanan yang lain bukan hanya sekedar gerakan tangan.
"Punggungku sakit sekali, jika tidak, kau boleh melakukannya," sambung Laras meminta sang mafia untuk segera mandi, Alex mengangguk namun sebelum ia benar-benar beranjak dari ranjang, sang mafia membisikkan sesuatu pada Laras, "Jangan lupa cuci tanganmu,"
Sontak Laras tersenyum menahan malu, dia baru menyadari jika ulah kurang ajarnya membuat tangan mungil itu di penuhi noda yang harus segera di bersihkan.
...* * *...
Di markas Death Angel...
Richi dan Angela berada di ruang tamu, mereka berdua menyantap makanan yang baru saja di buat oleh Richi. Meski hanya mie ramen, tapi mereka sangat menikmati kebersamaan itu.
"Apa kakakmu itu tidak akan marah? dia meminta kita pergi besok," jawab Richi ragu, dia tidak ingin bosnya marah hanya karena tidak mendengarkan titahnya.
"Tenang saja, biar aku yang bertanggung jawab. Aku ingin bertemu nona Laras, aku sangat merindukannya juga," pinta Angela memelas.
"Aku yang aku menelepon kakak," sambung Angela yang meletakkan sumpit di samping mangkuk mie ramenya, kemudian mengambil ponsel di saku celananya.
Ia mulai melakukan panggilan ke nomor sang mafia. Cukup lama dia menunggu, akhirnya panggilan itu mendapatkan jawaban.
"Kak, aku ingin menemuimu sekarang," pinta Angela tanpa basa-basi.
"Apa kau menghubungiku hanya untuk mengatakan hal itu?" tanya sang mafia dengan nada suara berbeda.
"Kak, apa kau sedang sakit?" ucap Angela merasa jika bosnya sedang tidak sehat.
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir," jawab Alex menenangkan sang adik.
__ADS_1
"Boleh ya? aku pergi ke pulaumu sekarang," rengek Angela.
"Datang saja, tapi acara pernikahan yang telah aku siapkan akan gagal, untuk setelahnya kau minta Richi untuk membiayai pernikahan kalian berdua. Aku tidak ingin ikut campur," jelas sang mafia yang membuat Angela terkejut.
Angela mencoba memahami situasi ini, gadis itu tidak percaya dengan rencana luar biasa sang bos.
"Mengapa kau diam? apa Richi sudah jadi milyader hingga tidak mau menerima uangku?" Alex menggoda Angela yang hanya diam dia ujung sana.
"Aku mau! mau menikah," Spontan ucapan Angela membuat Richi tersedak. Dia meraih gelas bening berisi air putih di hadapannya dan segera meminumnya.
"Kau mau menikah dengan siapa?" tanya Richi penasaran.
"Tentu saja denganmu, siapa lagi," ucap Angela sumringah.
"Kapan? dimana? siapa orang yang dermawan ingin membiayai acara pernikahan kita?" tanya Richi heran, dia belum menyadari tentang kenyataan yang membahagiakan di depannya.
"Bos, dia ingin membuat acara pernikahan untuk kita berdua, dia baikkan?" jawab Angela, energi positif langsung terpancar dari matanya. Dia merasa sangat bahagia.
Richi kembali menyantap mie ramen, dia tidak menyangka sang mafia begitu perhatian dengan dirinya. Angela menutup panggilan telepon itu dengan kata-kata terimakasih yang tiada terhingga. Keduanya menjadi sedikit canggung setelah Alex mengungkapkan tujuannya meminta Angela dan Richi datang ke pulaunya esok hari. Keduanya saling mencuri pandang, sesekali Richi melempar pandangan ke arah lain saat ia ketahuan memandangi wajah imut sang kekasih.
Suasana menjadi sangat romantis saat Richi memberanikan diri mengungkap isi hatinya.
"Angela," ucap Richi lembut.
"Iya kak," jawab Angela tak kalah lembut.
"Your marry me?"
Deg!
Jantung Angela seakan berhenti berdetak saat kata-kata itu meluncur bebas dari mulut Richi yang ia kenal kaku dan kurang romantis itu.
Angela diam untuk sesaat, dia menghela nafas, dan...
"Yes, i will," jawab Angela yakin.
__ADS_1
Richi terlihat sangat puas dengan jawaban yang keluar dari mulut manis sang kekasih, tanpa basa-basi ia langsung melahap mie ramen di depannya tanpa jeda. Reaksi kebahagiaan dari seorang Richard yang memicu rasa lapar yang berlebih.