
Alex segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin melupakan ancaman Dama dan segera sampai di rumahnya. Dia sudah terlalu rindu dengan 5 baby-nya yang sangat lucu dan menggemaskan.
Apalagi, Dia memiliki janji untuk bermain bersama mereka sampai malam menjelang.
Beberapa menit telah berlalu, akhirnya mobil sang mafia telah terlahir sempurna di depan rumahnya.
Dia asal karena bisa menatap rumah yang penuh kebahagiaan.
Sang mafia segera turun dari mobilnya kemudian masuk ke dalam rumah. Saat dia membuka pintu, semua anak-anak sudah menunggunya dan langsung memeluk tubuh kekar nya.
"Daddy lama sekali? Kemana saja?" tanya Adya.
"Daddy baru saja menyelesaikan tugas, tidak bisa pulang secepat itu sayang!" Alex memberikan alasan yang logis agar sang anak tidak terlalu memikirkan kepergiannya yang menurut mereka mungkin terlalu lama.
Alex langsung membawa kelima anaknya masuk ke dalam rumah, sang ayah mertua yang masih berada di dalam kamar kemudian keluar saat mendengar keributan di ruang keluarga.
"Wah, juara kita sudah kembali ya? Bagaimana kabarmu Lex?" tanya ayah mertua yang pura-pura tidak mengetahui apapun.
"Baik kakek, oh ya lebih baik kakak bermain dengan kami. Bermain ular tangga, kakek hebat lho dalam permainan ular tangga." Alex menjerumuskan sang ayah mertua agar anak-anaknya mengerjai si kakek.
"Haha, ayahmu yang lebih jago bukan kakek." Tuan Hans tapi memilih untuk mengajak mereka semua bercanda daripada bertikai.
__ADS_1
Alex beranjak dari ruang keluarga dan segera mengambil permainan ular tangga yang ada di laci kamarnya.
Tetapi saat dia masuk ke dalam kamar, ponselnya kembali berdering.
Dia menatap layar kaca tersebut dan mendapati nomor baru lagi.
Sang mafia malas untuk menjawab panggilan telepon tersebut, tetapi nomor yang tidak dikenal itu terus saja melakukan panggilan kepada nomornya.
Saking menyebalkannya, si penelepon mengirimkan pesan beruntun dalam waktu berapa detik.
Dia segera membuka isi dari pesan tersebut.
"Lex, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Oh ya, aku memiliki kabar baik untukmu. Aku sudah membuat sesuatu yang luar biasa untukmu dan istrimu, kau lihat saja besok pagi di acara televisi. Kau akan tahu akibat dari membunuh anggota keluarga dari Dama!"
Pesan tidak berguna dari Tuan Dama membuatnya muak, dia menjadi kesal akibat pesan tersebut sehingga dia mengamuk di dalam kamar. Apalagi, mendapatkan video yang sangat menyayat hatinya.
"Ini pasti bukan Laras, ya ini pasti gadis yang mirip dengan istriku itu! sebelum pagi menjelang, aku harus menemukan gadis itu dan menghancurkan video serta softcopy-nya. Aku tidak ingin istriku dipermalukan, Dama! Kau terlalu berani! tunggu pembalasanku!"
….
Anak-anaknya sudah menunggu sang mafia lebih dari 10 menit, tapi sang daddy tak kunjung keluar dari kamar utama.
__ADS_1
Alexis berinisiatif untuk masuk ke dalam kamar utama, tetapi sang kakek mencegahnya dengan alasan sang mafia sedang mencari permainan ular tangga itu.
Beberapa menit kemudian, sang daddy keluar dari kamar utama dan segera menuju ruang keluarga.
Dia mencoba menjadi seorang daddy yang profesional, dia tidak ingin anak-anaknya mengetahui tentang fakta yang belum jelas adanya.
Kepala polisi itu mendapati wajah sang menantu terlihat murung, dia berinisiatif untuk mengajaknya berbicara. Tetapi, dia hanya ingin bermain dengan anak-anaknya.
Tuan Hans tidak bisa mengatakan apapun lagi selain mengiyakan permintaannya.
"Dia pasti sedang mendapatkan banyak masalah, tetapi masalah apa? Aku harus menyelidikinya."
Tuan Hans secara diam-diam mengirimkan pesan kepada Guru Fu.
"Guru, anak menantuku sepertinya sedang mengalami masalah. Apa kau tahu apa penyebabnya?"
Pesan itu di kirim ke nomor ponsel Guru Fu.
Beberapa menit kemudian, dia mendapatkan balasan pesannya.
"Aku mendengar dari Willy, dia sedang bermasalah dengan Dama, ayah dari Raf."
__ADS_1
'Oh, ternyata,' batin Tuan Hans yang memahami akar permasalahannya.