Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Ada apa dengan istriku?


__ADS_3

Alex lari secepat mungkin menuju garasi mobilnya, dia meminta para anggotanya untuk menjaga ruang peradilan agar Raf tidak kabur.


Saat bos mafia masuk ke dalam garasi dengan terburu-buru, Willy melihatnya.


"Bos? ada apa?" tanya Willy yang baru saja turun dari mobilnya.


"Laras, ada masalah dengannya, kau jaga Raf, aku sudah menyuruh beberapa anggota lain untuk menjaganya juga," ucap sang mafia tanpa melihat wajah Willy, sekarang yang ada di pikirannya adalah Laras orang.


Bos mafia langsung masuk ke dalam mobil mewahnya, kemudian melajukan mobil tersebut dengan cepat.


"Ada apa dengan Nyonya bos, akh semoga dia baik-baik saja." ucap Willy menepis rasa khawatirnya.


Dia merasa tidak perlu ikut campur di dalam masalah rumah tangga sang bos. Willy lebih memilih untuk segera melaksanakan tugasnya.


....


Di sisi lain, Alex merasa khawatir dengan keadaan sang istri, dia berulang kali menghubungi nomor ponsel mertuanya, tetapi hasilnya nol besar.


Dia mencoba menelepon nomor ponsel Guru Fu, tetapi juga tidak aktif.


"Sial! mengapa nomor semua orang hari ini tiba-tiba sibuk? apa Laras terjatuh lalu mereka membawanya ke rumah sakit? atau dia ..., akh sial! mengapa aku menjadi cemas? sayang! semoga kamu baik-baik saja di sana, aku bisa gila jika melihatmu terluka!"

__ADS_1


Doa ia panjatkan untuk sang istri, disela rasa khawatirnya yang berlebihan.


Sang mafia semakin fokus menyetir dan melajukan mobilnya dengan sangat cepat, berharap akan segera tiba di rumah sang Guru.


Beberapa menit kemudian, ia memperlambat laju mobilnya setelah sampai di jalan raya menuju rumah sang Guru, karena jalannya sempit, mobilnya tidak bisa masuk ke halaman rumah Guru Fu.


Alhasil, seperti biasanya, dia memarkirkan mobil tersebut di pinggir jalan yabg jarang sekali ada mobil atau motor lewat di jalanan itu.


Alex perlahan membuka pintu mobilnya dan berlari menuju rumah Guru Fu.


Dengan nafas tersengal-sengal, Alex mengetuk pintu rumah sang Guru. Namun tidak kunjung ada jawaban dari sang pemilik rumah. Alex tidak putus asa, dia kembali mengetuk pintu tersebut. Alhasil, setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu itu terbuka.


Dia melihat sosok wanita cantik di depannya, sang mafia langsung memeluk tubuh wanita tersebut.


Laras tidak bergeming, dia meminta sang suami untuk tenang dan tidak panik.


"Aku baik-baik saja, mari kita duduk dulu."


Alex melepaskan pelukannya kemudian berjalan bersama sang istri menuju sofa yang indah berwarna putih abu-abu milik sang Guru.


Mereka duduk berdampingan, Laras segera memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Lex, ini bukan ideku. Tetapi ide ibu dan Guru Fu." Laras mencoba menjelaskan maksud dari sang Ibu menelpon suaminya itu.


"Ide apa yang kau maksud?" tanya sang mafia masih belum memahami apa yang akan sang istri sampaikan.


"Lex, coba kau lihat ini." Laras mengambil sesuatu dari saku celananya kemudian menyerahkan kotak kecil kepada sang suami.


"Apa ini sayang?" tanya Alex penasaran.


"Coba saja kau buka, semoga kau menyukainya." Laras berharap sang suami menyukai sesuatu yang ia berikan.


Alex mulai membuka kotak kecil berbentuk persegi panjang itu, saat dia mengetahui isi dari kotak tersebut, dia langsung memeluk sang istri.


"Astaga! apa benar ini sayang?" tanya Alex sembari memegang isi dari kotak kecil yang ternyata sebuah testpack.


"Iya, aku hamil!"


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2