Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Apartemen Dimitri


__ADS_3

Perjalanan menuju apartemen Dimitri, cukup menyenangkan karena semua orang yang ada di dalam mobil itu sangat suka bercanda. Meskipun seorang mafia, Alex bukan orang yang kaku. Dia sama seperti yang lainnya, hanya saja saat bertemu dengan para musuh dia pasti akan menunjukkan jati dirinya.


"Lex, apa yang kau pikirkan? aku sedari tadi melihat mu dan kau melamun saja?" tanya Joan disamping jok kemudi.


"Aku tidak memikirkan apapun selain anak dan istri," jawab sang mafia lugas.


"Aku memikirkan siapa ya? istri tidak punya? apalagi kekasih? aku adalah jomblo tulen," ucap Dimitri.


"Maaf D, sepertinya tidak ada yang bertanya tentang pasangan kepadamu?"


Seketika semua ada di dalam mobil itu menahan tawanya kecuali sang mafia, dia hanya melihat pemandangan di luar jendela.


Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajahnya.


Sang anak buah menegur Alex saat ponselnya berdering, tetapi bos mafia itu sama sekali tidak menghiraukan perkataan anak buahnya.


Hingga maksudnya terjatuh dan dia menyadari ada panggilan telepon.


Saat Alex meraih ponselnya yang jatuh itu, terlihat nomor sang ayah mertua menelponnya.

__ADS_1


"Lex?" tanya Tuan Hans disambungan telepon.


"Ada apa ayah mertua menelponku?" jawab Alex.


"Aku mendengar dari Laras bahwa kau sedang mendapatkan masalah?" Tuan Hans ternyata khawatir dengan anak menantunya itu.


"Iya, tapi tidak masalah. Aku pasti bisa menyelesaikannya." Sang mafia tidak ingin merepotkan ayah mertuanya.


"Aku sangat memahamimu, aku menyukai dirimu karena kemandirian dan sifat kepemimpinan yang kau miliki, tetapi aku riskan! kasus yang memberi dirimu cukup sulit untuk di selesaikan karena sudah menyebar diseluruh Macau dan dunia internasional, kau telah menjadi buronan. Jika dirimu ingin aku membantu, aku akan mencari orang yang telah membuat berita bohong ini," jelas Tuan Hans.


"Tidak perlu repot-repot ayah mertua, kau baru saja mendapatkan jabatanmu kembali di kepolisian NY, jika kau membantuku reputasimu akan buruk!" Sang mafia sudah mengetahui ini sebisa mungkin dia tidak akan melibatkan Tuan Hans dalam masalahnya.


"Baiklah, tapi jika kau membutuhkan bantuan ku, aku akan membantumu tenang saja, ehm ... udah ya Lex, aku masih banyak pekerjaan, see you," ucap Tuan Hans menutup panggilannya.


"Lex, ayah mertuamu sudah bekerja di kantor kepolisian NY ya?" tanya Joan.


"Iya, aku ikut senang. Dia sudah mendapatkan apa yang menjadi haknya." Alex hanya mampu mendoakan agar sang ayah mertua tetap bisa bekerja sesusai dengan kapasitasnya tanpa melihat dirinya yang seorang mafia, ayah mertuanya dan dia memang memiliki latar belakang yang berbeda, oleh sebab itu, Alex tidak ingin publik tahu, Tuan Hans adalah ayah mertuanya, meskipun berita itu sudah mulai tersebar.


...

__ADS_1


Di apartemen milik Dimitri ...


Akhirnya, mobil Dimitri terparkir sempurna di depan apartemen yang cukup mewah miliknya.


"Turun," pinta Dimitri.


Semua orang yang ada di dalam mobil tersebut, kemudian turun satu persatu.


Setelah semuanya turun dari mobil, Dimitri mengajak ketiga orang termasuk sang bos ikut dengannya menuju unit apartemen miliknya.


Tap ... tap ... tap.


Langkah ke empat orang itu kini terhenti di depan pintu lift yang masih tertutup, mereka harus menunggu beberapa saat agar bisa masuk ke dalamnya.


Ting!


Akhirnya, pintu itu terbuka juga, ternyata banyak juga yang turun ke lantai dasar. Terlihat dari berdesak-desakannya orang yang keluar dari lift itu.


"Ini apa tidak jebol liftnya ya? banyak sekali isinya," celetuk Joan heran.

__ADS_1


"Masuk dulu, baru komentar," ucap Dimitri yang sudah berada di dalam lift terlebih dahulu bersama bos dan satu anggota Death Angel.


....


__ADS_2