Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Momen indah berdua [part ll]


__ADS_3

"Sayang?" panggil Alex sembari memainkan jarinya di punggung sang istri.


"Geli sayang! kau ini! katanya mau memijat, tetapi hanya bermain-main saja! dasar!" Laras tersenyum mengetahui sang suami yang seorang mafia namun selalu bertingkah lucu dan di luar dugaan.


"Haha, punggungmu selalu seksi dan mulus! pokonya tidak ada yang boleh menyentuhnya. Semua yang ada padamu adalah milikku," ucap sang mafia sembari mendekatkan dada bidangnya di punggung mulus sang istri.


Dia memeluk tubuh itu dengan erat, dan membisikkan kata-kata cinta yang indah.


"Sayang? kau tahu? sejak pertama melihatmu, aku tidak bisa berpaling. Richi juga mengetahui betapa gilanya aku ketika penyakit cinta itu merasuki hati dan pikiranku. Aku menjadi kacau, padahal waktu itu, kami sedang banyak masalah. Tapi bisa-bisa otakku hanya tertuju padamu, Hm..! harum tubuhmu juga tidak pernah berubah, i love you sayang!" Alex memang nomor satu dalam hal rayuan maut.


"Apakah separah itu?" Laras memejamkan matanya saat tangan sang mafia kembali bergerilya.


"Parah sekali," bisik sang mafia penuh cinta.


"Aw!" pekik Laras, daddy mafia terlalu gemas dengan telinga Laras hingga tanpa sadar mengigitnya, membuat sang istri kesakitan.


"Lex! kau ini! sakit," protes Laras sembari mengusap telinganya yang memerah.


"Awas ya? aku akan balas!" Laras membalikkan tubuhnya, kini posisinya berhadapan dengan sang suami. Tanpa terduga Laras justru mencium bibir sang suami, meskipun hanya beberapa detik saja, sudah mampu membuat sesuatu di bawah sana menegang kembali.


"Kau menciumku? balasan dari gigitan tadi? ciuman?" Alex heran dengan sang istri yang ia kira akan membalas mengigit telinganya.


"Selama dua minggu penuh aku menginginkan momen ini, untuk apa menggigit? cium saja kan lebih romantis!"


Mata keduanya saling bertatap. Tak terasa bibir itu kembali pertautan.


Tetapi sesuatu menghentikannya...

__ADS_1


Drttt...drttt..drrt..


Dering ponsel sang mafia membuyarkan hasrat yang kembali menggebu.


"Sial! di saat seperti ini mengapa ada saja yang mengganggu!" Alex terlihat kesal, harusnya dia sudah melanjutkan ronde pamungkas sebelum tidur.


"Sayang, jawab saja panggilan itu. Mungkin saja itu suatu hal yang penting!" pinta sang istri yang menahan tawa ketika melihat wajah sang mafia merah padam.


Alex meraih celana yang ada di lantai, mengambil ponselnya ada di saku celananya.


Saat Alex melihat nomor si penelepon, amarahnya semakin menjadi.


"Astaga! si tua Hans!" ucap sang mafia, dia tidak habis pikir dengan mertuanya itu. Sejak awal, si kepala polisi tidak hentinya mengerjai dirinya, apalagi saat dirinya sedang bersenang-senang.


"Haha, ayah ada-ada saja. Jawab sayang, aku ingin mengetahui alasan apa yang akan terlontar dari mulut ayahku itu," jawab Laras sembari menahan tawanya karena antara Alex dan ayahnya, meskipun terlihat bermusuhan tetapi terkadang mereka berdua akur seperti sahabat dekat.


"Ada apa ayah?" tanya sang mafia berusaha setenang mungkin.


"Akhirnya kau menjawab panggilanku, hei mafia kurang ajar! apa yang kau janjikan kepada anak-anakmu?" Nada bicara Tuan Hans terdengar sangat kesal.


"Aku akan menghadirkan adik perempuan untuk mereka," jawab sang mafia dengan polos.


"Sekarang kau bertanggung jawablah atas apa yang kau janjikan, bicaralah dengan mereka. Aku sudah lelah memberikan banyak alasan!" Nada bicara Tuan Hans terdengar lebih tenang dari sebelumnya.


"Daddy! mana adik perempuan, mengapa lama sekali?" pekik salah satu anaknya yang paling aktif, si tengil Alexis.


Alex terkejut mendengar suara Lexis, ekspresinya lucu sekali. Laras menutup mulutnya karena tidak ingin ketahuan jika mentertawakan sang suami.

__ADS_1


"Sedang on the way sayang, adik perempuan tidak bisa hadir secepat itu, dia harus naik bis kemudian naik pesawat, setelah itu harus naik MRT barulah adik perempuan akan hadir di di tengah-tengah kita." Sang mafia mengatakan hal yang absurd, tetapi hanya itu yang ada dipikirannya saat ini.


"Wah lama sekali daddy! apa tidak bisa dipercepat? daddy harus menjemputnya sekarang juga!" Lexis masih saja ngeyel, dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan adik perempuan yang dijanjikan oleh sang daddy.


"Iya, tapi memang lama sayang, nanti kalau adik perempuan sudah mengatakan sesuatu kepada daddy, pasti daddy segera menjemputnya. Kalian tidur dengan nenek dan kakek dulu ya? agar adik perempuan tidak lari, saat daddy menjemputnya nanti!" Alex bahkan kembali mengatakan hal-hal yang tidak mungkin terjadi, tapi kata-kata yang aneh itu mampu membuat Lexis percaya.


"Oh, begitu ya? oke, aku akan menunggu sampai adik perempuan datang kemudian setelah itu pasti daddy menjemputnya, good night daddy!" ucap Lexis dengan polosnya tanpa mengetahui jika sang ayah terlalu pusing mencari alasan yang tepat.


Alex bisa bernapas lega, akhirnya sang putra tengil mau mempercayai ucapannya.


"Oke, good night too sayang!" jawab sang mafia.


Seketika panggilan telepon itu berakhir, Laras tertawa sampai sakit perut karena ulah sang suami.


"Kau ini! tidak baik berbohong dengan anak-anak!!" Laras mencubit lengan sang suami.


"Haha, bagaimana lagi? hanya itu yang ada di pikiranku," tukas sang mafia merasa geli dengan ucapannya sendiri yang tidak masuk akal tersebut.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2