
Sang mafia memahami sakit hati Yuen, dia tidak mengatakan apapun setelahnya.
"Tunggu aku di Cafe yang kau maksud, nanti kita berbincang-bincang di sana."
"Oke."
Panggilan telepon telah berakhir.
"Putar balik, kita ke Cafe yang dekat dengan kantor polisi pusat kota Macau!" Perintah sang mafia.
"Siap bos!"
Mobil jemputan membawa sang mafia menuju tempat tujuannya, hanya butuh berapa menit untuk sampai di tempat hidup meskipun harus terjadi karena jalurnya hanya satu arah.
"Bos, itu Yuen, yang dulu seorang pria yang sangat membencimu?" tanya sang anak buah.
"Iya, tapi karena dia mengetahui aku tidak sejahat itu, dia membantu sampai saat ini. Biasanya Richi yang akan menemuinya tetapi, Richi sedang sibuk. Alhasil, aku saja yang bertemu dengan Yuen," jawab sang mafia.
"Apa dia bisa menjadi orang kepercayaan kita?" Anak buahnya seperti tidak mempercayai Yuen.
__ADS_1
"Tendang saja jika membocorkan rahasia kita, dia adalah seorang anggota badan intelijen, mana bisa membuka rahasia kita? itu namanya cari mati!" jelas sang mafia, dia memahami sangat detail tentang Yuen. Sebuah pengkhianatan hanya akan membuat Yuen dalam kesulitan.
"Kau selalu menendangnya setiap bertemu, apa kau tidak takut dengan nenek moyangnya bos?" Nenek moyang Yuen, memang terkenal di kalangan anggota Death Angel, seorang nenek dengan usia lebih dari 90 tahun tetapi masih saja awet muda, dia adalah nenek Yuen bernama Li.
"Haha, itu aku tidak terlalu takut hanya saja ngeri." Kata-kata sang mafia membuat seisi mobil menjadi tertawa.
Sang mafia yang terkenal sekarang sangat pandai mengocok perut. Apalagi kalau ada Tuan Hans, ya lupa akan statusnya yang seorang pembunuh berantai.
Beberapa menit kemudian ...
Mobil sang mafia telah terparkir di depan Cafe yang dimaksud.
Sang mafia melarang anak buahnya untuk ikut keluar dari mobil karena ini adalah pertemuan yang penting, tak lupa, dia meminjam kacamata hitam milik salah satu anggotanya agar tidak diketahui jika dia adalah buronan.
"Temannya nenek moyang?" panggil suara yang sangat familiar.
Alex menelisik ke segala arah dan akhirnya menemukan pemilik suara itu.
"Cucu gilanya nenek moyang," jawab Alex sembari berjalan menuju menuju meja si Yuen, pemilik suara menyebalkan itu.
__ADS_1
Alex duduk berhadapan dengan Yuen.
"Kau pandai memanipulasi namaku," ucap sang mafia.
"Tentu saja, di sini banyak orang dan mereka sudah mengetahui wajahmu yang sebenarnya serta namamu, mana bukan aku memanggil dengan nama asli! sehabis dikeroyok nanti," jawab Yuen yang selalu meremehkan sang mafia, meskipun Yuen tahu jika sang mafia kalau pembunuh berdarah dingin.
Yuen sudah memesan jus jeruk kesukaan temannya.
Alex maksud meminum jus itu dengan segera, dia terlihat seperti orang tidak pernah minum 1 tahun.
"Hah! segar sekali rasanya, aku baru saja keluar dari hutan dan belum minum sama sekali, tidak memesan makanan? sangat lapar Yuen!" pinta sang mafia, sangat cerewet dia.
"Aku sudah memesannya tapi pesananku belum datang." Yuen sudah mempersiapkan segalanya tetapi memang dia harus mengantri untuk mendapatkan.
Sembari mengantri, dia mengatakan sesuatu kepada sang mafia.
"Temannya nenek moyang, kau harus selalu mengatakan kata ini kepada dirimu sendiri selama berada di Macau, kau sedang menjadi barang rebutan. Ada hal baru lagi, pada sayembara yang menyatakan akan mendapatkan uang 200 juta dolar jika mampu menemukan!!!."
Alex tercengang.
__ADS_1
"Sialan!"
....