Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Momen Bahagia ll


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Setelah puas bermain dengan sang daddy, ketiga anak kembar sang mafia mengajak Alex untuk makan eskrim jumbo super sedap.




Mereka bisa memilih aneka jenis es krim kesukaan.


Sambil menunggu pesanannya datang, mereka bertiga duduk di sebuah kursi yang ada di taman bunga mawar, tak jauh dari area mandi bola.



"Daddy! halaman rumah kita harus di tanami semua bunga yang ada di sini. Adya, suka sekali bunga. Ini adalah taman terbaik, bunga merah, bunga putih, semua sangat luar biasa." Adya memuji keindahan bunga mawar merah dan putih di sekitar tempat duduknya.


Lexis yang sedang bosan menunggu, tiba-tiba memetik salah satu bunga mawar merah. Dia memberikan bunga itu kepada Adya dan Alex.


"Untuk adik tercinta dan daddy tersayang!" Lexis menyematkan 2 bunga itu di daun telinga keduanya.


Adya tertawa, dia merasa seperti seorang putri raja yang sok cantik, dengan bunga itu, Adya berlenggak-lenggok bak model papan atas.


Saat mommy Laras, Arsen dan Aarav tiba di taman itu, Adya langsung menghentikan aksi konyolnya.


"Haha... apa yang kau lakukan? itu bagus, mengapa berhenti?" goda mommy Laras.


"Iya adik, kau terlihat cocok dengan bunga mawar merah itu. Seharusnya, kau bawa semua bunga mawar merah dan putih ini pulang ke rumah. Kita bisa puas bermain dengan mereka, kita akan membuat ruang tamu penuh dengan kelopak bunga mawar yang berhamburan." Ide konyol Arsen yang membuat Laras pening kepala.


"Haduh jangan sayang, mommy akan sangat lelah hanya untuk membersihkan kelopak bunga yang berserakan. Ayolah! kasihanilah mommy," ucap Laras memohon agar Arsen tidak merealisasikan idenya.


Saat sedang asyik bercengkrama, es krim yang dipesan telah datang. Namun masih kurang 3 pesanan lagi, Alex meminta pelayan yang mengantar es krim itu untuk mengambilkan 3 cup jumbo es krim dengan rasa yang sama. Tetapi Laras tidak setuju jika anak-anak yang memakan terlalu banyak es krim, apalagi jumbo seperti yang ada di hadapannya. Sang mommy khawatir jika kelima anaknya akan flu.

__ADS_1


Alex tidak ingin berdebat, dia mengiyakan permintaan sang istri. Alhasil, dia menggagalkan pesanan untuk 3 es krim jumbo lagi.


Si kembar lima duduk di kursi yang tersedia di Taman itu dengan berbagi es krim.


Laras enggan memakan es krim karena dirinya sedang tidak enak badan. Saat kelima anaknya memakan es krim dengan lahap, Laras melihat sang suami melipat tangan di dada sembari menatap lurus ke depan.


"Ada apa?" tanya Laras penasaran dengan apa yang ada dipikiran suami.


Sentuhan tangan sang istri di pundak Alex membuatnya tersadar kemudian menoleh ke arah sang istri yang berdiri di sampingnya.


"Oh, kau disini? sedang melihat apa? apakah suka bunga mawar?" ucap Laras, dia bersandar di lengan kekar sang suami.


"Aku hanya sedang memikirkan permintaan anak kita tentang membangun sebuah Taman Bunga di depan rumah." Alex selalu memberikan yang terbaik untuk kelima anaknya, semua keinginan anak-anaknya akan berusaha ia penuhi. Jika itu hanya sebuah taman bunga, tidak masalah untuk nya segera membangun Taman tersebut.


"Memangnya siapa yang ingin Taman Bunga di depan rumah?" Laras penasaran siapa dari kelima kembar 5 nya yang yang menyukai bunga mawar.


"Adya yang menginginkan Taman Bunga mawar, menurutku bukan suatu hal yang aneh. Akan lebih terlihat estetikanya, kau tahu kan aku juga menyukai bunga mawar." Alex batuk wajah sang istri yang juga menatap wajahnya, perlahan Alex membelai wajah cantik sang istri yang semakin berumur justru semakin mempesona.


"Stop it! jika ingin mengajak kami ke Taman Hiburan? mengapa daddy dan mommy selalu mencuri kesempatan untuk bermesraan?" celetuk Lexis, dia protes dengan sikap kedua orang tuanya yang diam-diam ingin memadu kasih di belakang mereka.


Sorot mata kelima anak kembarnya, membuat Alex dan Laras merasa geli. Baru pertama kali pasangan suami istri itu mendapati baby kembarnya mengekspresikan sesuatu yang tidak mereka sukai.


Mulut manyun penuh noda eskrim, baju dan tangan belepotan, dahi berkerut, tangan melipat di dada, reaksi tubuh mereka sangat unik.


Mirip seperti dirinya saat masih seumuran dengan si kembar lima dulu, dia akan marah kepada Tuan Fernando yang selalu saja bermesraan di belakangnya dan sang kakak, Justin.


Sang mafia melihat cerminan dirinya, tidak diragukan lagi jika kelima babynya memang memiliki sifat dan watak yang sama dengannya.


Laras dan Alex berjongkok, keduanya mulai mengalihkan perhatian mereka.


"Lebih baik kita membeli baju khas Taman Hiburan di sini, sekaligus mengganti baju kalian yang kotor itu," ucap sang mommy sambari kembali berdiri.

__ADS_1


Alex masih berjongkok menghadap Lexis, anak sang mafia yang nomor tiga ini, sangat sulit untuk di bujuk daripada ke empat saudaranya yang lain. Saat mommy dan yang lain pergi dari taman itu, Lexis dan daddy mafia masih melakukan negosiasi.


"Mau pesawat terbang?" tanya sama mafia memberikan penawaran terbaik untuk Lexis.


"No Daddy! aku mau naik helikopter, bukan pesawat. Akhir bulan ini, kita pergi ke rumah kakek Hans ya dad? ayolah...! Aku sangat merindukannya, hanya dia yang tidak pernah meninggalkan kami. Tidak seperti daddy dan mommy yang selalu memikirkan diri sendiri." Protes keras terucap dari bibir mungil Lexis, membuat Alex tersenyum.


"Iya, daddy dan mommy minta maaf! tapi Lexis jangan marah ya? daddy akan beli helikopter setelah ini, tetapi Lexis harus janji jangan marah lagi. Untuk pergi ke rumah kakek Hans, harus menempuh jarak yang jauh. Sementara, Lexis menunggu kabar dari daddy ya? soalnya, daddy sedang banyak pekerjaan akhir-akhir ini. Lexis mengertikan?" Sang mafia bernegosiasi dengan salah satu putera jeniusnya.


"Iya, jangan terlalu lama. Lexis sangat rindu dengan kakek dan nenek. Mommy bilang mereka akan datang ke rumah, tetapi tak kunjung sampai." Lexis kecewa saat kakak dan neneknya, belum sampai di New York, meskipun janji bertemu sudah beberapa hari yang lalu.


Alex memberikan pengertian jika kakek dan neneknya, memiliki banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Apalagi kakek Hans, dia adalah seorang polisi. Tugas polisi adalah menangkap penjahat.


Lexis mudah mengerti apa yang diucapkan oleh sang daddy, akhirnya putera ketiganya berhasil terbujuk.


"Naik ke atas pundak daddy sayang! kita akan terbang menuju angkasa yang luas!" pinta sang mafia.


Dengan keyakinan penuh, Lexis menaiki pundak sang daddy. Kini tubuh mungilnya berada di ketinggian 170cm lebih. Lebih tinggi dari daddynya.


Sang mafia memegang kedua tangan mungil itu dan benar-benar mengajak Lexis terbang.


NB :


Alhamdulillah anakku sudah sembuh dari flu, terimakasih untuk doa kalian semua, para reader tercinta ku!!! πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜


Semoga kalian semua selalu sehat dan suksesβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ˜πŸ˜


Gambar yang ada, othor ambil dari berbagai sumber di google sebagai pelengkap halu reader terketjeh cinta satu malam bos mafia!!!


Semoga terhibur!


Love you all!

__ADS_1


__ADS_2