
"Sayang, setelah ini, aku akan pergi ke rumah tuan Albram Zein," ucap Alex.
"Untuk apa?" tanya Laras.
"Untuk apa lagi selain menghabisinya?" jawab Alex.
"Bisakah tinggal lebih lama lagi?" tanya Laras.
"Belum bisa, ini sudah tugasku," jawab Alex.
"Kalau begitu, kita habiskan hari ini bersama, aku ingin memberimu 5 baby A," ucap Laras malu-malu.
"Wah! inisiatif yang bagus, tapi aku benar-benar harus segera pergi," jawab Alex.
Saat Alex hendak beranjak dari tempat tidurnya, Laras menggenggam tangan kekasihnya dengan sangat kuat, entah keberanian darimana yang ia miliki hingga bisa senekat ini, namun memang Laras benar ingin menuntaskannya saat ini juga.
"Kau yang menginginkannya sayang, aku tidak bisa menolaknya, kau tahu? aku juga ingin, tapi aku menahan diri untuk tidak memakanmu," ucap Alex.
Alex mendekati sang gadis dan mulai mengecup setiap jengkal tubuh sang kekasih hingga Laras merasakan sensasi yang luar biasa, Alex menyentuh hal yang sangat rahasia bagi gadis itu dan memainkannya dengan hati-hati, Alex sangat tergoda dengan gerakan tubuh sang kekasih yang semakin lama semakin membuatnya ingin segera menuntaskan apa yang sudah tertahan sedari tadi. Namun, dia tidak ingin segera mengakhiri kesenangan ini, dia tetap bertahan, dia ingin membuat sang kekasih merasa nyaman hingga berulang-ulang.
"Kau semakin cantik," ucap Alex masih terus melakukannya lagi dan lagi.
Laras dengan sigap membalas setiap sentuhan yang di berikan oleh Alex, tanpa ia sadari, Laras menjadi semakin lihai, membuat Alex merasakan kenyamanan yang sama.
"Sayang, kau sekarang lebih pandai," ucap Alex.
"Kau akan pergi dariku jika aku tidak belajar darimu," jawab Laras.
Alex semakin gemas dengan tingkah sang kekasih yang terlalu imut itu, sang mafia tidak mampu menahan lagi, Laras yang terlalu aktif dan sangat pandai mengambil inisiatif membuat hasrat sang mafia semakin menuntut untuk segera dituntaskan. Alex membaringkan tubuh sang kekasih, entah sejak kapan tubuh mereka menjadi sama-sama polos, tiap helai kain yang menempel di tubuh keduanya telah berserakan dimana-mana, permainan kali ini sungguh membuat pasangan itu menikmati moment kebersamaan dengan sangat intens. Alex mulai dengan perlahan, dengan bibir tetap beradu tiap detiknya. Laras merasa kenyamanan itu kembali, punggung kekar Alex dipenuhi bekas luka akibat perbuatan kuku cantik sang kekasih, Alex membalas dengan memberikan bekas kepemilikan di sembarang tempat, penyatuan yang sudah terjadi itu menyisakan rasa lelah yang luar biasa bagi Laras, namun tidak untuk Alex, dia belum ingin berhenti. Laras menyanggupi keinginan gila sang kekasih dengan sekuat tenaga. Alex sudah tidak ingin menyiksa sang kekasih yang sudah lelah itu. Peluh yang membasahi wajah cantiknya membuat Alex semakin terpacu untuk segera menuntaskan hasratnya, hingga rasa nyaman yang ia inginkan tergapai sudah, seketika itu juga Alex memeluk tubuh sang gadis.
__ADS_1
"I love you, my sweet baby," ucap Alex sembari mengecup kening gadisnya.
Sang gadis tak merespon, Alex menatap wajah Laras, ia tersenyum saat menyadari jika sang kekasih telah terlelap.
"Maaf sayang, aku terlalu brutal hingga membuatmu lelah sampai kau tertidur."
Alex menutup seluruh tubuh sang gadis menggunakan selimut, ia memungut tiap helai kain miliknya yang telah berserakan itu dan membawanya ke kamar mandi. Dia segera membersihkan diri.
Setelah sesi pembersihan diri selesai, Alex melilitkan handuk di pinggangnya, saat hendak memakai baju, dia merasakan perih di punggungnya.
"Dia sudah semakin pandai menyenangkan hatiku, sampai dia melupakan semua batasan, hanya dia yang ku izinkan melukai tubuhku," ucap Alex di ikuti senyum di bibirnya.
Pria itu pergi meninggalkan sang kekasih dan segera menuju ke ruang makan, tetapi di sana tidak ada seorangpun, ia mendengar ada suara dari arah kamar tamu, saat ia membuka pintu kamar tamu, ia melihat pemandangan langka, tuan Hans,Richi,Angela dan nyonya Fira sedang larut dalam permainan kartu hingga tak menyadari kedatangannya, bahkan mereka dengan percaya diri mengoleskan tepung kepada pihak yang kalah, alhasil wajah mereka penuh dengan tepung.
"Ehm!" Alex berdehem, namun tidak ada yang menggubrisnya.
"Richi!!!" teriak Alex.
"Ikut aku!" ucap Alex sambil menjewer telinga Richi.
Angela diam-diam menatap sang kekasih yang sedang dalam kesulitan, namun ia tidak mampu membantu sang kekasih.
'Maaf kak Richi, aku juga tidak ingin di hukum bos, semoga kau hanya di jewer saja, tidak mendapatkan hukuman yang lain," batin Angela.
Richi sok cool, meski telinganya memerah, tetapi tidak ia rasakan, dia ingin tetap terlihat kuat di depan Angela.
Setelah sampai di ruang tamu, Alex melepaskan Richi dari hukuman jewer telinga.
"Duduk, aku ada tugas untukmu!" perintah Alex mengajak sang sahabat duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Sial! kau telah membuatku harus menahan rasa sakit di telingaku Lex," keluh Richi sembari mengusap telinganya yang memerah itu.
"Diam! siapa suruh kau acuh! hentikan bicara hal yang tidak penting," ucap Alex emosi.
"Iya, aku minta maaf, apa tugas untukku Lex?" jawab Richi.
"Kau cari informasi tentang Wang Zhie,Gerald dan tuan Albram Zein, aku curiga mereka bersekongkol," perintah bos Alex.
"Aku akan segera carikan, apa kau sudah berbaikan dengan nona Laras? aku tahu kau sedang salah paham dengan gadismu itu," jawab Richi.
"Iya, aku sudah berbaikkan," ucap Alex.
"Lex, di lehermu ada apa? hewan apa yang berani menggigit lehermu hingga berwarna merah seperti itu? wah, cari mati hewan itu!!" ucap Richi sok polos.
"Kau sebenarnya tahu kan ini bekas gigitan hewan atau bukan?" tanya Alex.
"Aku pria yang polos dan masih lugu, tidak tahu hal yang aneh-aneh," jawab Richi.
"Sial! anak ini!" ucap Alex sambil mengacak rambut sang sahabat.
Mereka kembali berbaikkan, Richi mengajak sang sahabat untuk pergi ke suatu tempat, mereka keluar dari apartemen Alex kemudian turun ke lantai dasar menggunakan lift, setelah itu mereka berjalan menuju mobil yang terparkir tepat di depan apartemen bos mafia itu.
"Kita mau kemana Richi?" tanya Alex
"Markas utama Wang Zhie yang baru, aku yakin mereka sedang berkumpul disana karena saat Gerald menelfon nona Laras secara tiba-tiba, aku curiga ini adalah rencana mereka bertiga," jelas Richi.
"Kau hebat sekali, luar biasa! aku beri kau sepuluh gadis cantik agar menemanimu semalaman," canda Alex.
"Ada Angela di sisiku, mengapa harus cari wanita lain? kau sajalah bos," goda Richi.
__ADS_1
"Singa betina itu akan menghabisiku jika aku bermalam dengan wanita lain," celetuk Alex.
'Akhirnya kau mengakui jika tanda merah di lehermu itu adalah bekas gigitan nona Laras, sang singa betina kesayanganmu bos,' gumam Richi menahan tawanya.