
Di dalam mobil, Alex menunggu panggilan teleponnya di jawab oleh sang kekasih. Cukup lama Alex menunggu dan akhirnya suara yang ingin bos Alex dengar menggema juga di ujung telepon.
"Darimana?" tanya Alex.
"Temanku baru saja menelpon, maaf." jawab Laras.
"Siapa?" tanya Alex.
"Gerald, dia tet--"
Belum sempat Laras meneruskan ucapannya, bos Alex sudah menyuruhnya diam.
"Diam, jangan sebut nama si brengsek itu, buang ponselmu, aku akan belikan kau ponsel beserta simcard yang baru, turuti ucapanku! jangan mendebat!" perintah Alex.
"Tuan? kau baik-baik saja kan?" tanya Laras.
"Aku baik, sudah kau buang ponselmu?" jawab Alex.
"Tuan?" ucap Laras.
"Jawab pertanyaanku!" perintah Alex.
"Kenapa kau membentakku, Tuan?" tanya Laras.
"Karena kau berbicara dengan Gerald! jika ponsel itu belum kau buang, Gerald akan jadi mayat setelah ini."
Tuttt ... tuuttt ...
Alex menutup panggilan teleponnya dan melempar ponselnya keluar lewat jendela.
"Bos? kau kenapa?" tanya Richi.
"Kau menyetir saja, jangan hiraukan aku!" jawab Alex membuang mukanya keluar jendela.
"Dia sedang cemburu, Richi," bisik Tuan Hans.
"Sepertinya iya Tuan, tapi kita diam saja, daripada api di dadanya itu akan membakar yang lainnya." jawab Richi.
"Richi, turun di toko ponsel, borong semua ponsel yang ada di toko itu." perintah Alex.
"Jangan kalap bos, kau akan membuat toko ponsel sendiri?" tanya Richi heran.
"Lakukan saja, jangan membantah!" jawab Alex semakin marah.
"Tuan Hans, aku terkena api itu, sial sekali," umpat Richi.
"Sabarlah, kau turuti saja apa yang bosmu perintahkan," bisik Tuan Hans sambil menepuk pundaknya pelan.
Kedua orang yang biasanya sering berdebat kini terlihat sangat akrab dan saling mendukung satu sama lain. Setelah sampai di sebuah pusat perbelanjaan, Richi memarkirkan mobilnya dan segera turun dari mobil, setelah itu dia berjalan menuju toko ponsel yang ada di dalamnya, Richi benar-benar membeli semua ponsel di toko tersebut, dia menyuruh penjaga toko untuk segera membungkus semua ponsel dan simcard yang di jual di toko tersebut, setelah itu, dia membayarnya. Banyak orang yang memandang dirinya dengan wajah heran, Richi mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di tempat parkir.
__ADS_1
Sesampainya di tempat parkir, dia menuju mobil milik Tuan Hans. Dia membuka pintu mobil itu dan menyerahkan satu kardus ponsel beserta simcardnya kepada Alex.
"Tugasku telah tuntas, ini semua untukmu bos." ucap Richi.
"Kau pandai juga merampok," jawab Alex.
"Demi kau bos, agar hatimu senang." gerutu Richi.
"Iya aku tahu, aku tadi juga tidak serius mengatakannya," jawab Alex menahan tawa.
"Sial! kau mengerjaiku." ucap Richi.
"Sudahlah Richi, bosmu itu memang tidak waras," bisik Hans.
Richi masih terlihat kesal, dia langsung menghidupkan mesin mobilnya dan segera mengendarai mobil itu, Ia membawa mobil itu menjauh dari pusat perbelanjaan.
Beberapa menit kemudian, sampailah ketiganya di apartemen milik bos Alex.
"Aku masuk dulu," ucap Alex sambil membawa dus yang berisi ponsel.
Tuan Hans dan Richi saling pandang dan melempar senyum ke arah masing-masing, mereka heran saat bos Alex cemburu.
"Menantumu sungguh luar biasa Tuan Hans!" ucap Richi.
"Ya, dia memang berbeda dari bos yang lain, lebih baik kita masuk ke dalam, sebelum si brengsek kembali berulah." pinta Tuan Hans.
Tuan Hans dan Richi mengekor langkah Alex, namun langkah mereka tertinggal karena bos Alex telah sampai di kamar nomor 15. Setelah memasukkan kode dan menggesek kunci kartu, Alex membuka pintu itu dan mendapati sang kekasih, mertua serta anak buahnya sedang sibuk memasak makanan khas Jepang kesukaannya. Karena dia sedang kesal, dia melewati semua makanan itu dan mengajak Laras masuk ke dalam kamar dan segera mengunci dari dalam kamar tersebut.
"Ponsel mana yang kau mau, ambil!" perintah Alex
"Apa maksudmu?" tanya Laras.
"Serahkan ponsel lamamu." pinta Alex.
Laras menyerahkan ponsel miliknya dan ...
Prank!!
Alex membanting ponsel itu ke lantai serta menginjaknya, setelah puas, bos mafia itu masuk ke kamar mandi dan membuang ponsel milik Laras ke dalam kloset.
"Sudah selesai." ucapnya.
"Kau seperti kerasukan Tuan, tingkahmu sangat aneh." jawab Laras.
"Diam dan ambil ponsel yang kau mau beserta simcardnya." perintah Alex.
"Kau cemburu Tuan?" tanya Laras.
"Tentu saja, jangan hubungi dia lagi!" jawab Alex.
__ADS_1
"Dia yang menghubungiku lebih dulu Tuan, lebih baik kau makan saja agar suasana hatimu menjadi lebih baik." jawab Laras.
"Benarkah? apa kata-katamu bisa aku percaya? makanan? aku lebih suka memakanmu, gadis di depanku ini juga santapan lezat, selezat makanan yang sedang kau masak." ucap Alex yang langsung mendekati sang kekasih.
"Tuan, apa yang kau lakukan?" tanya Laras yang curiga dengan tingkah sang bos yang mulai tidak wajar.
"Menikmati hidangan," jawab Alex dengan wajah sumringah.
"Kau bisa melakukannya lain waktu Tuan," ucap Laras.
"Tidak ada lain waktu, sayang, kau adalah milikku, tidak akan kuizinkan Gerald mendekatimu, semua yang ada padamu adalah milikku." jawab Alex.
Dengan sigap Alex membungkam mulut sang kekasih dengan sentuhannya, semakin dalam dan terlampau dalam. Laras mencoba mempertahankan kesadarannya agar dia tidak tergoda oleh sentuhan sang kekasih. Jari jemari bos mafia itu sudah menyusup ke dalam hal yang sangat rahasia dari sang kekasih dan mencari kenyamanan di sana. Laras tidak lagi mampu menahannya, kesadarannya perlahan mulai menghilang, dia sudah terbuai dengan aksi sang kekasih.
"Laras? apa si brengsek itu menyakitimu?" tanya Tuan Hans dari balik pintu.
"Sial!" umpat Alex.
"Itu ayahku, Tuan!" jawab Laras sambil beranjak dari dekapan sang kekasih, ia merapikan rambut dan bajunya kemudian membuka pintu.
"Dimana Alex, apa dia melukaimu?" tanya Tuan Hans.
"Tidak, mari kita makan saja ayah." jawab Laras sembari mendorong tubuh sang ayah menuju meja makan.
"Apa kau tidak ingin mengajak mafia itu makan?" tanya Tuan Hans.
"Dia akan makan nanti, dia kan bukan manusia, dia lebih suka memakan daging manusia daripada daging hewan." canda Laras.
"Selain bukan manusia, dia juga brengsek." timpal Tuan Hans.
Mereka berlima kini telah berkumpul di meja makan, namun bos Alex tak kunjung keluar dari kamarnya. Nyonya Fira berinisiatif membawa makanan untuk Alex. Dia membuka pintu kamar Alex dan mendekati bos mafia yang sedang duduk di atas ranjang.
"Lex, makanlah." pinta nyonya Fira.
"Ya, terima kasih." jawab Alex.
Alex mengajak ibu mertuanya untuk sedikit mengobrol tentang Gerald.
"Nyonya, apa hubungan Laras dan Gerald?" tanya Alex.
"Gerald adalah teman masa kecil Laras. Ada apa? apa kau mengenalnya?" jawab nyonya Fira.
"Dia bos mafia Blood Line, Laras harus berhati-hati dengannya." jelas Alex.
"Tak ku sangka anak kecil itu menjadi bos mafia." ucap nyonya Fira.
"Apa kau tahu dimana Gerald berada saat ini?" tanya Alex.
"Aku tidak tahu persis soal itu, sudah lama sekali sejak kami terakhir bertemu." ucap nyonya Fira.
__ADS_1
Kemunculan mendadak Gerald masih menjadi tanda tanya besar baginya. Rasa amarah itu membuat Alex tidak sabar memberikan Gerald pelajaran.
'Kau selanjutnya Gerald Leonard.' batin Alex.