Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 67


__ADS_3

Di perjalanan menuju apartemen miliknya, nyonya Fira berkata jika dirinya sedang merasakan duka yang mendalam. Sejak Perusahaan Farmasi miliknya jatuh ke tangan Tuan Xiauling, dia tidak bisa melakukan apapun. Semua karyawan yang bekerja di tempatnya kehilangan pekerjaan. Dia merasa bersalah kepada semua karyawannya, akibat kecerobohannya yang meminta bantuan Tuan Xiualing, kini dia harus kehilangan segalanya.


"Lex, sejak aku masih muda, aku berusaha keras membangun Dounghun Farmasi dengan peluh dan air mata, namun semua hilang begitu saja saat Tuan Xiauling datang," ucap nyonya Fira sambil meratapi kesedihannya.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan semua itu, biarkan aku yang mengurusnya." jawab Alex.


"Benarkah itu, Lex?" tanya nyonya Fira.


"Kau lihat saja, calon menantumu ini akan melakukan yang terbaik untukmu, ibu mertua." jawab Alex.


"Kau manis sekali calon menantuku, terima kasih atas segala yang kau lakukan untuk keluarga kami," ucap nyonya Fira sambil mencubit kedua pipi Alex.


"Sama-sama nyonya, sudah menjadi tugasku." jawab Alex.


Perbincangan antara Alex dan nyonya Fira terhenti saat mobil sport hitam milik bos mafia itu parkir di depan apartemennya.


Alex dan nyonya Fira turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju apartemen Alex. Untuk mencapai apartemen, mereka harus naik lift. Tepat di lantai 15, pintu Lift itu terbuka. Alex mengajak nyonya Fira berjalan menuju apartemen miliknya, setelah tepat berada di depan pintu, bos mafia itu menekan tombol kombinasi angka sebagai kata sandi, setelah itu, Ia menggesek kunci kartu. Kini terbukalah pintu besi apartemennya.


"Wow, apartemenmu indah sekali. Kau pasti menghabiskan banyak uang untuk semua ini," ucap nyonya Fira kagum.


"Tidak juga, syukurlah jika ibu mertua menyukainya." jawab Alex.


"Dimana anakku?" tanya nyonya Fira.


"Mungkin saja sedang ada di kamar." jawab Alex.


Nyonya Fira berjalan menuju kamar, di dalam kamar, dia tidak menemukan siapapun di sana. Nyonya Fira mulai mengkhawatirkan keadaan putrinya. Alex merespon kekhawatiran istri Tuan Hans, dia kemudian menghubungi Laras lewat sambungan telepon.


"Kau dimana?" tanya Alex.


"Aku di bawah, aku baru saja membeli beberapa pakaian bersama Angela." jawab Laras.


"Kenapa kau tidak bilang padaku?" tanya Alex.


"Untuk apa bilang? kan ada Angela yang menjagaku." jawab Laras.


"Iya, tapi tetap saja. Akh sudahlah, cepatlah kembali, ibumu ada di sini." pinta Alex.

__ADS_1


Tuttt...tutt.. Tuttt


"Sial!! dia menutup begitu saja panggilan dariku, awas kau, hukuman berat menantimu." batin Alex.


Beberapa menit kemudian...


Pintu besi apartemennya terbuka, di pandangnya sosok Laras yang semakin cantik. Padahal dia hanya memakai baju yang sederhana, tapi di mata Alex gadis miliknya itu akan selalu terlihat cantik.


Saat Alex ingin mendekati sang kekasih, Laras justru melewatinya begitu saja, bahkan dia meninggalkan beberapa barang belanjaannya di tangan Alex. Laras lebih memilih mendekati ibunya dan memeluknya erat. Angela yang melihat sang bos kikuk, tak mampu menahan tawa.


"Apa yang kau tertawakan Angela?" tanya Alex sambil melotot ke arah anak buahnya itu, dia meletakan barang belanjaan Laras di lantai begitu saja.


"Tidak ada bos, aku hanya sedang olahraga mulut. Ya sudah lama aku tidak melakukannya. Hahaha ..." jawab Angela beralasan.


"Kau ikut aku, ada yang ingin ku bicarakan padamu."


Alex menjewer telinga Angela dan mengajaknya masuk ke ruang kerja miliknya.


"Apa dia memiliki sifat seperti guru yang galak?" tanya nyonya Fira yang heran dengan tingkah Alex.


"Iya, dia memang seperti itu, tunggu ibu, aku akan segera kembali," ucap Laras sambil mengekor langkah Alex dan Angela yang masuk ke dalam ruang kerja bos mafia itu.


"Kenapa kau ikut campur masalahku dan anak buahku?" jawab Alex.


"Angela, kau keluarlah, biar aku yang bertanggung jawab atas apa yang tidak kau lakukan." pinta Laras..


"Tapi nona ... " jawab Angela merasa bersalah.


"Sudah, kau jangan takut. Kalau bosmu marah, aku yang akan membelamu," ucap Laras.


Alex membiarkan Angela keluar dari ruang kerjanya. Kini hanya ada Laras dan Alex di dalam ruangan itu. Alex duduk di kursi kerjanya dan menanyakan banyak hal kepada Laras.


"Kau hebat sekali, nona Laras. Kau ingin menggantikan hukuman yang akan aku berikan kepada Angela?" tanya Alex.


"Iya, hukum saja aku, aku yang memaksa Angela untuk pergi ke luar membeli beberapa pasang pakaian wanita karena kami tidak memiliki baju ganti." jelas Laras.


Alex beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati gadis pujaannya itu. Laras mengira Alex akan menjewer telinga, namun dugaan sang gadis salah. Bos mafia itu justu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Laras.

__ADS_1


Gadis itu terkejut, ada sensasi aneh yang terasa di sekujur tubuhnya saat bibir Alex mengecup belakang lehernya.


"Tuan, hentikan. Apa yang kau lakukan?" tanya Laras berusaha lepas dari pelukan Alex.


"Menghukummu." jawab Alex.


"Tapi hukuman itu harusnya ti-" kata-kata Laras terputus begitu saja saat bibir sang kekasih sudah beradu dengan bibirnya.


Laras ingin lepas dari pengaruh sang kekasih yang selalu saja mampu membuatnya terhipnotis. Tetapi usaha yang di lakukannya gagal, justru semakin lama dia merasa nyaman dengan sentuhan yang di berikan Alex di bibir ranumnya.


Mata lentik sang gadis memandang lekat wajah tampan kekasihnya. Dia melihat banyak cinta di mata bos mafia itu. Laras terbawa suasana, dia menginginkan hal yang lebih, bukan hanya sekedar sentuhan.


"Kau begitu cantik sayang," bisik Alex di telinga Laras.


"Apa kau benar-benar ingin menghukumku, Tuan?" ucap Laras lirih.


"Jika kau bersedia menerimanya, aku dengan sangat siap memberikannya." jawab Alex.


Saat suasana telah memanas, tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu.


"Laras, Lex? kalian lama sekali?? cepat keluar, ibu sudah memasak makanan untuk kalian." teriak nyonya Fira dari balik pintu.


"Ibumu mengganggu saja." gerutu Alex.


"Lebih baik kita makan dulu," jawab Laras sambil merapikan baju dan rambutnya yang berantakan.


"Hukumanmu belum selesai sayang, kau harus menuntaskannya," ucap Alex kesal.


"Kau akan mendapatnya nanti," jawab Laras sembari berjalan menjauh dari bos Alex.


Rasa gemas, kesal, campuraduk jadi satu. Bos mafia sekelas Alex Fernando di permainankan oleh gadis cantik yang notabene kekasihnya sendiri. Untuk baku hantam ataupun baku tembak dia jago, tapi untuk hal yang satu ini, dia harus lebih banyak belajar mengolah hatinya agar bisa lebih bersabar.


"Ayo, kita makan dulu." ajak Laras.


"Tapi yang ingin ku makan itu kau sayang." jawab Alex.


Laras tersenyum melihat sang mafia yang tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang merenggek karena ingin meminta sesuatu dan sesuatu itu harus di penuhi dengan segera.

__ADS_1


"Alex Fernando, kau sudah sangat berbeda dari awal kita bertemu. Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu sepenuh hatiku jika kau begitu menggemaskan seperti ini." gumam Laras.


__ADS_2