
Setelah usai dengan latihan lamaran, Alex keluar dari ruang kerjanya. Dia segera masuk kamar untuk melakukan sesi pembersihan diri kemudian berganti pakaian karena dia bersama sang kekasih akan pergi ke pusat rehabilitasi untuk bertemu dengan Livy. Setelah siap, dia menghampiri sang kekasih yang sedang berada di dapur membantu ibunya mencuci piring.
"Kau bersiaplah! kita akan pergi ke pusat rehabilitasi untuk bertemu dengan Livy," ucap bos Alex.
"Baik sayang," jawab Laras bergegas menuju kamar bos Alex.
"Livy? siapa dia?" tanya nyonya Fira.
"Temanku," jelas Alex.
"Teman apa?" ucap nyonya Fira.
"Sebenarnya, dia adalah korban kak Justin, aku yang merawatnya selama ini," jelas Alex.
"Berapa banyak teman wanita yang kau miliki? apa kau hanya mempermainkan putriku?" tanya nyonya Fira.
"Ibu mertua, kau dengarkan aku! aku dan Livy hanya teman saja, itu juga karena ulah kakakku aku bisa bertemu dengannya, tenanglah ibu mertua, kau tidak perlu memikirkan hal yang buruk mengenai aku," pinta Alex.
Nyonya Fira mempercayai bos Alex karena selama ini, Alex juga tidak melakukan hal yang membuat Laras terluka, semisal mendua atau pergi bersama gadis lain. Tetapi dia mengingatkan kepada Alex agar berpikir ulang untuk mempertemukan Laras dan Livy karena Laras adalah tipe gadis pencemburu, dia akan marah saat melihat sang mafia di sentuh gadis lain.
Alex merasa jika apa yang di katakan ibu mertuanya ada benarnya juga, untuk berjaga-jaga, lebih baik rencana untuk bertemu Livy, ia tunda dulu. Sang mafia mengirim pesan singkat kepada Richi untuk segera mengirim helikopter ke apartemennya untuk mengantarnya ke pulau tempat Alex akan melamar Laras. Tidak lama kemudian, Richi membalas jika helikopter itu sedang dalam perjalanan menuju apartemen bos Alex dan akan turun di helipad yang berada di lantai 50 gedung apartemen itu, Alex merasa lega karena respon Richi yang bergerak cepat.
"Mengapa kau tersenyum sambil melihat ponsel?" tanya nyonya Fira.
"Oh itu, tidak ada apa-apa ibu mertua, aku hanya sedang bahagia," jawab Alex beralasan.
Nyonya Fira baru menyadari jika Alex Fernando berpenampilan berbeda, dia terlihat sangat tampan dengan stelan jas dan sepatu pantofel hitam di kakinya. Rambut hitamnya yang sangat rapi membuat Alex bak pria bangsawan.
"Wow! kau tampan dan rapi sekali, apa kau ingin melaksanakan tugas itu?" tanya nyonya Fira.
"Tugas apa?" jawab Alex heran.
"Tugas membahagiakan anakku, kau berkata ingin melamarnya hari ini," jelas nyonya Fira.
"Pasti! untuk soal itu, aku sudah mempersiapkan segalanya, kau akan melihat putrimu hidup bahagia bersamaku," tukas Alex.
"Terimakasih Lex, kau sangat baik, kau hanya terlihat kejam di luar, di dalam kau sangat lembut," ucap nyonya Fira.
"Kau terlalu berlebihan ibu mertua, aku tidak sebaik itu," jawab bos Alex.
Di saat perbincangan anak menantu dan ibu mertua berlangsung, ternyata Laras telah selesai bersiap-siap dan menghampiri keduanya yang terlihat akrab itu.
"Sayang? bagaimana penampilanku?" tanya Laras yang kini berada di belakang bos Alex.
Alex berbalik, dia terkejut dengan penampilan Laras yang begitu anggun dan elegan dengan mini dress warna putih susu, di kakinya terpasang sepatu hak tinggi tiga 5 cm warna putih susu juga. Parfum aroma mawar milik Laras yang harum mewangi menembus indera penciuman bos Alex.
__ADS_1
"Kau cantik sekali," ucap nyonya Fira.
Alex sedari tadi tidak berkedip saat melihat calon istrinya yang sangat cantik itu, dengan rambut hitam sebahu yang tergerai, ada pita hitam kecil menjepit rambut kepalanya, semakin membuat manis penampilan sederhana namun sangat mempesona itu.
"Hm, Lex, kalau kau terlalu lama melihat Laras dengan pandangan seperti itu, air liur di sudut bibirmu itu akan segera menetes," bisik nyonya Laras di telinga bos Alex.
Seketika itu juga, Alex tersadar dari lamunannya dan berpura-pura merapikan penampilannya agar tidak ketahuan kalau dia terpukau penampilan sang kekasih.
"Dia biasa saja," jawab Alex.
"Kau mengatakannya dengan sangat jelas dan lugas, apa kau tidak takut gadis kesayanganmu akan marah?" tanya nyonya Fira.
"Dia tidak akan marah hanya karena hal sepele, benarkan sayangku?" ucap bos Alex sembari menatap wajah sang kekasih.
"Tentu saja," jawab Laras yang membuat Alex heran.
'Biasanya, dia akan marah, mengapa reaksinya biasa saja?' batin Alex.
"Sayang?" panggil Laras.
Alex masih diam, dia masih terpaku dengan sikap Laras yang jauh berbeda dari sebelumnya.
"Sayang?" panggil Laras.
Kali ini dia menepuk pundak bos mafia itu lembut dan membuat Alex tersadar dari lamunannya.
"Mengapa kau menatapku seperti itu? apa jangan-jangan kau sedang terpesona oleh penampilanku?" goda Laras.
"Begitu juga boleh, ayo kita berangkat, kau akan ku ajak ke suatu tempat terlebih dahulu," pinta Alex.
"Kemana? bukannya kita akan ke pusat rehabilitasi menemui Livy?" tanya Laras.
"Pakaian kita sudah rapi, kita akan ke tempat lain yang lebih indah, kau akan ku ajak menemui Livy lain kali saja," jelas Alex.
"Tapi? aku ingin bertemu dengan gadis itu," ucap Laras.
"Ada yang lebih penting dari Livy Gracia, kau tahu?" jawab Alex.
"Apa itu sayang?" tanya Laras.
"Hubungan kita," jawab Alex.
"Maksudmu?" tanya Laras.
"Kau ikut saja denganku," pinta Alex.
__ADS_1
Merasa di abaikan, nyonya Fira meminta kedua pasangan yang sedang kasmaran itu untuk segera pergi dari apartemen.
"Kalian berdua sok romantis, cepat pergi dari sini! membuat iri saja!" gerutu nyonya Fira.
"Kau juga bisa seperti kita ibu mertua," jawab Alex.
"Tutup mulutmu! pergilah, lakukan yang terbaik Lex, aku tahu apa rencanamu," jelas nyonya Fira.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Laras.
"Biarkan menantu kesayanganku yang menjelaskannya, cepatlah pergi! hati-hati di jalan, semoga berhasil dengan rencanamu Lex!" jawab nyonya Fira.
"Terimakasih ibu mertua atas dukungannya, kami pergi dulu," pamit Alex.
Setelah berpamitan kepada nyonya Fira, Alex mengajak Laras keluar dari kamar dan berjalan menuju lift kemudian masuk ke dalamnya, Alex menekan tombol angka 5 dan 0, dia mengajak sang kekasih naik ke lantai paling atas apartemen. Setelah pintu lift terbuka, Alex mengandeng tangan Laras, di depan mereka ada sebuah helikopter yang terparkir di helipad yang tersedia di lantai paling atas gedung apartemen itu.
"Sayang? kau mau ajak aku kemana?" tanya Laras.
"Nanti kau juga akan tahu, aku minta kau tutup matamu sampai aku memperbolehkanmu membukanya," jelas Alex.
Laras menuruti permintaan sang kekasih, agar tidak terjatuh saat berjalan dengan mata tertutup, Alex meminta Laras menggenggam lengannya dengan erat.
Alex memeluk tubuh Laras agar terlindung dari angin kencang yang berasal dari putaran baling-baling helikopter itu, perlahan mereka berdua telah sampai pintu helikopter dan masuk ke dalamnya secara bergantian.
"Tuan Alex, aku adalah pilot khusus yang tuan Immanuel kirim untuk mengantarmu ke tempat itu," ucap sang pilot.
"Ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada tuan Immanuel yang telah berbaik hati membantu memberikan kejutan kepada calon isteriku," jawab bos Alex.
"Bukan masalah besar tuan, nanti akan aku sampaikan," ucap sang pilot.
"Tuan Alex, apa ini calon isterimu?" tanya sang pilot.
"Iya, apa dia cantik?" tanya Alex.
"Sangatlah cantik tuan, kapan kalian akan menikah?' tanya sang pilot.
"Besok," jawab Alex.
Laras yang sangat penasaran tentang rencana Alex, dia meminta izin kepada bos mafia untuk membuka matanya.
"Tuan, apa aku boleh membuka mataku?" tanya Laras.
"Belum, kau masih harus menutupnya," jelas Alex.
'Kalian berdua romantis sekali, membuatku ingin kembali ke masa mudaku,' batin sang pilot.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, sang pilot menerbangkan helikopternya menuju pulau pribadi milik tuan Immanuel yang telah menjadi milik bos Alex.