Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Ada apa dengan Laras?


__ADS_3

Raf sudah mengetahui keberadaan sang mafia dari detektif andalannya. Dia beberapa orang untuk menuju rumah Alex Fernando. Tetapi sebelum itu semua, Raf mengumpulkan anak buahnya di apartemen miliknya.


Ada sekitar 20 orang kepercayaan yang ia pilih untuk menjadi mata-mata. Mereka semua berdiri di depan Raf, memberikan salam hormat dan mendengarkan perintah sang Bos.


"Kalian adalah anggota terbaikku, jangan pernah berkhianat dan jangan pernah lengah, kalian semua harus meringkus maaf ya itu dengan cara yang lebih cantik, lakukan seperti pria barbar. Lalu, bawa Laras untukku!" perintah bos Raf yang kini memakai setelan jas warna hitam dan kacamata hitam menambah pesona bos yang kejam.


"Baik bos!"


Jawab semua anggotanya serentak, bukan seperti Tuan polisi, tetapi bos mafia terselubung.


Dia tidak pernah melakukan hal yang baik selama menjadi anggota kepolisian, selebihnya dia adalah orang yang kejam. Raf bersembunyi di balik topeng kebijakan palsu sang ayah. Dia adalah sosok pria yang munafik tetapi tidak pernah menyadari semua kesalahannya.


Semua anggotanya telah siap untuk menjalankan tugas dari bos.


Satu persatu anggotanya pergi dari apartemen miliknya, kini tinggal dirinya sendiri yang berada di apartemen.


Dia kembali memandang foto Laras yang kemarin telah ia rusak, kini ia pasang kembali dan perbaiki.


Raf mencium foto itu dengan senyum menakutkan, dia merasa sedih juga bahagia dalam waktu yang bersamaan. Pria itu tidak memiliki pendirian yang tetap, karena jiwanya telah melebur menjadi jiwa psikopat yang tidak mengenal belas kasihan.


"Laras wanita yang harus aku dapatkan, meskipun kau telah menyakiti hatiku! aku akan tetap menikmati tubuhmu...Hahaha!"


Ya tujuan utamanya memang itu, menikmati mulus sang wanita berada di khayalannya, dia berfantasi dengan banyak foto Laras yang Raf zaman masih kuliah dulu.


"Waktunya sudah semakin dekat untuk kehancuranmu Lex!"


* * *

__ADS_1


Di rumah sang mafia, Alex sedang berada di dapur bersama suaminya. Mereka terlihat serius dalam perbincangannya, tiba-tiba datanglah kedua orang tua Laras mengganggu keintiman mereka berdua.


"Sedang gosip atau membicarakan anak perempuan lagi?" tanya Tuan Hans sembari memeluk tubuh sang Putri.


"Tidak ayah, kami hanya membahas hal-hal sepele. Oh iya, ayah sudah makan belum? aku akan memasakkan makanan kesukaan ayah," ucap Laras sembari bangkit dari tempat duduknya kemudian menuju dapur bersih yang ada di tempat itu.


"Tidak perlu repot-repot, ayah belum lapar."


Namun, perkataan sang ayah tidak dihiraukan oleh sang putri, Laras tetap memasak untuk ayahnya.


Nyonya Fira duduk di samping Alex dan kembali menanyakan hal yang penting itu.


"Laras sudah mengetahui tentang apa yang kita bicarakan?" tanya Nyonya Fira.


"Sudah, aku memberikan keterangan separuhnya saja, intinya dia tidak curiga lagi kepadaku." Alex ternyata menunjukkan suatu fakta dari sang istri, ada hal yang tidak seharusnya Laras ketahui.


"Bagus, kau harus menyembunyikan hal ini, tidak baik jika disaat bersama ada perbincangan yang menurutku tidak berguna, suatu saat nanti kau harus mengatakannya." Nyonya Fira menepuk pundak Alex, dia menenangkan sang mafia yang terlihat sedih.


"Dia nanti akan kecewa jika mengetahui hal ini dari orang lain, seharusnya kalian tidak perlu seperti ini," imbuh Tuan Hans sembari menatap wajah sang putri yang terlihat bahagia.


Suasana menjadi sangat hening, tengah malam menuju pagi buta yang dingin. Namun, suasana itu terasa hangat karena Laras dan Alex bisa berkumpul dengan Tuan Hans dan Nyonya Fira.


Apalagi keduanya akan menetap di kota New York, kebahagiaan semakin bertambah lagi.


Laras tengah sibuk memasak, tetapi tiba-tiba saja tangannya teriris pisau. Alex yang mengetahui hal ini segera menghampiri sang istri sembari membawa kotak kecil berisi P3K.


"Berhati-hatilah sayang, Jangan ceroboh! kau ini kan sudah tua, masih saja bertingkah seperti anak kecil!"

__ADS_1


Alex sangat menghawatirkan sang istri, sehingga dia melupakan segalanya.


Dia mencuci luka tersebut di bawah air mengalir kemudian mengeringkannya dengan kapas, setelah itu, Alex langsung memberikan pertolongan pertama untuk istrinya.


"Siap, kau tidak akan sakit lagi. Aku sudah mengobatinya!"


"Terimakasih sayang, kau selalu yang pertama menolongku!"


Laras memeluk tubuh sang istri kemudian membantu Laras memasak.


Di meja makan, terlihat kedua orang tua Laras sedang membicarakan putrinya.


"Aku tidak pernah menyangka jika dia sakit," ucap Nyonya Fira sedih.


"Kita akan menyembuhkannya, kau tidak perlu memikirkan hal yang lebih buruk dari ini. Kita adalah orang tuanya, kita harus mendukungnya!" jawab Tuan Hans sembari menggenggam erat tangan sang istri.


Tak terasa air mata itu mengalir, Tuan Hans kemudian memeluk tubuh sang istri lebih erat lagi.


"Jangan tampakkan kesedihan di depan Laras, dia akan semakin sedih saat kita seperti ini."


"Tapi aku tidak bisa jika anakku sakit!"


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2