Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 157


__ADS_3

Para bandit membawa ketiga petarung tangguh itu menuju markas Jiho yang ada di kota utara. Sepanjang perjalanan menuju markas, banyak sekali bunga di sisi kiri dan kanan.


Alex berada di mobil yang berbeda dari tuan Ramos dan Richi.


"Aku seperti mengenalmu, apa kau tuan Alex Fernando?" tanya salah satu bandit.


"Bukan, mungkin kau salah lihat," jelas sang mafia yang berpura-pura.


"Tapi, kau mirip sekali dengannya," ucap salah satu bandit yang merasa jika orang yang ia tangkap adalah sang malaikat maut, pemimpin geng Death Angel.


"Bukan, kau hanya salah lihat. Suatu kehormatan bagiku yang memiliki wajah mirip dengannya," ucap Alex berpura-pura.


"Haha, apa kau gila? tuan Alex akan membunuh kita semua jika kulitnya saja tersentuh oleh kita. Dia akan dengan mudah menghabisi kita, tapi orang yang sok mengakui mirip bos Death Angel, hanya orang yang lemah, tidak berdaya," jawab anggota bandit yang lain.


Alex masih diam dan menunduk, dia merasa senang karena akan dengan mudah menaklukkan Jiho.


Mobil yang membawa ketiga pejuang tangguh itu berhenti di halaman yang cukup luas. Alex di bawa oleh salah satu bandit keluar dari mobil. Begitu juga Richi dan tuan Ramos.


Mereka di bawa ke dalam markas untuk bertemu dengan Jiho.


"Tuan muda, kami menemukan para pria payah, kita apakan mereka setelah ini?" tanya salah satu bandit.


Jiho yang sedang duduk di singgasananya memerintahkan para bandit untuk memasukkan mereka bertiga ke dalam penjara bawah tanah.


Saat mereka akan di bawa ke penjara, Alex ingin mengajak Jiho berbicara.


"Siapa dirimu? sok akrab!" Jiho terlihat sombong namun dia tidak kasar.


"Aku hanya pria lemah, aku ingin menjadi anak buahmu," pinta Alex.


"Haha, bolehlah! kau sangat gagah dan kekar, tetapi tak berkutik saat kami ringkus, ini cukup menarik. Apa kau orang suruhan ayahku?" tanya Jiho


"Iya tuan muda, mereka mengendarai mobil ayah tuan muda," jawab salah satu bandit.


"Lepas borgol mereka, bawa ke ruanganku sekarang!" pinta Jiho.


Semua bandit tersentak, tidak seperti biasanya Jiho mau melepaskan musuh dengan mudahnya. Tapi karena sudah menjadi titah dari Jiho, para bandit tidak mampu melawan.


Tangan Alex, Richi dan tuan Ramos kini telah lepas dari borgol. Mereka di antar oleh salah satu bandit menuju ruangan Jiho.


"Kalian duduk di sini, jangan banyak tingkah!" pinta sang bandit.


Richi mengepalkan tangannya, dia sangat kesal dengan bandit itu. Alex mencegah Richi untuk tidak cepat emosi.

__ADS_1


"Baiklah!" jawab Alex.


Setelah salah satu bandit pergi, giliran Jiho yang masuk ke dalam ruangannya.


"Apa misi kalian kemari?" tanya Jiho yang kini berada di belakang kursi para mafia.


"Mari kita bicara dan bekerjasama mengatasi Hang Zhi," ucap Alex langsung ke point utama.


"Haha, kalian suruhan ayahku," Tawa Jiho pecah, dia merasa jika sang ayah masih belum bisa merelakan kepergian ibunya.


"Aku adalah penguasa kota ini, jika kau mau bekerjasama denganku, kau akan dapat bagian," jelas sang mafia.


"Aku tidak mengenalmu," Jiho bahkan tidak mengetahui jika orang di depannya adalah bos Death Angel.


"Dua ratus milyar apa cukup?" ucap Alex memberikan penawaran.


"200M? apa kau penimbunan emas?" Jiho geleng-geleng kepala saat mendapatkan tawaran menggiurkan ini.


"Kau mau?" tanya Alex memastikan.


"Katakan apa mau mu?" tanya Jiho yang memang sedang butuh suntikan dana.


"Bertemu Hang Zhi," jawab Alex.


"Kau tidak mau menerima tawaran ini?" tanya Alex sekali lagi.


Alex mengatakan jika dia bisa memberikan uang itu sekarang. Tapi Jiho masih keras kepala. Alex mengiming-imingi putra Zhev dengan menelepon salah satu anak buah yang menjaga aset keuangannya.


"Zicko? bawa uang ke desa bunga, 200M jumlahnya, kau bisa?" ucap sang mafia.


"Bisa bos!" jawab Zicko.


"Apa dia tahu dimana desa bunga Lex?" tanya tuan Ramos.


"Dia tahu segalanya tentang kota utara, oh ya tuan Jiho, anak buahku akan segera kemari, kau perintahkan anak buahmu agar tidak menghalangi kedatangannya, kalau bisa kau suruh mereka mengantar anak buahku kemari," pinta sang mafia.


Jiho geleng-geleng kepala, dia merasa rendah di mata sang mafia. "Sial! baru kali ini ada orang asing menyuruhku melakukan segalanya, apa kau cari mati?"


Jiho ingin memukul wajah Alex, namun Alex berhasil menghindar. Sang mafia bangkit dari tempat duduknya, ia menendang perut Jiho hingga pemuda itu roboh.


"Sial! kau boleh juga," ucap Jiho yang masih penasaran dengan kekuatan sang mafia.


Jiho memukul tangan, kaki dan tubuh sang mafia, namun Alex berhasil menghindar. "Hentikan pemuda kecil, jika kau tidak ingin babak belur olehnya," pinta tuan Ramos.

__ADS_1


"Bedebah kalian semua!"


Alex memberikan aba-aba kepada tuan Ramos dan Richi untuk meringkus Jiho. Lengan Jiho telah di genggam erat oleh kedua kawan sang mafia hingga ia tidak dapat berkutik.


Kini Jiho tak berdaya, ia meminta Alex agar bersikap sportif. "Lepaskan aku! aku telah melepaskan kalian dari hukuman penjara bawah tanah, tapi apa balas budinya? kalian justru menyiksaku," ucap Jiho kesal.


"Haha, pemuda kecil! bekerjasama denganku, kau akan mendapatkan wilayah yang lebih luas, tapi sebelum itu, mari bertemu Hang Zhi," pinta sang mafia.


"Cih! sampai mati aku tidak sudi bertemu dengannya! lepaskan aku!" Jiho memberontak, namun berhasil di tahan oleh tuan Ramos dan Richi.


Alex memukul tengkuk Jiho, sang pemuda seketika tak sadarkan diri.


"Lex, kau yang terbaik! tidak perlu bertarung, kita sudah menjadi pemenang!" ucap Richi.


"Belum Richi, Jiho mungkin mudah di kalahkan, tetapi ada Hang Zhi yang kejam, dia tidak akan memberikan ampun kepada siapapun yang melawannya," jawab Alex waspada.


"Iya, kau benar juga. Kita tidak boleh meremehkan bocah-bocah ini, mereka luar biasa," jawab tuan Ramos.


"Setelah ini, kita akan melakukan apa?" tanya tuan Ramos.


"Bawa Jiho keluar, kita paksa para bandit menyerah dan mengikuti semua perintah kita!" jawab Alex tegas.


"Wow! calon hot daddy sudah beraksi, pasti isterimu akan bangga padamu Lex. Apalagi lima jagoanmu, mereka pasti akan menjadi orang hebat!" ucap Richi.


"Kau bisa saja! bawa dia keluar, kita buat para bandit bertekuk lutut!" titah sang mafia.


Tuan Ramos dan Richi memapah tubuh Jiho, dengan gagahnya dia menendang pintu ruangan. Seketika pandangan para bandit yang berkumpul di markas, tertuju kepada Alex.


"Jika kalian masih memiliki rasa takut, menyerahlah!" ucap sang mafia.


Saat muncul sosok Jiho yang telah pingsan, para bandit geram.


"Dasar brengsek!" ucap bos bandit.


"Kalian masih memiliki waktu dua menit untuk berpikir, mintalah pengampunanku! sekarang!" pinta sang mafia.


"Tidak akan! kami akan melawan!" ucap bos bandit yang tidak terima Jiho di lumpuhkan dengan mudah oleh sang mafia.


"Boleh, jika kalian ingin mati sia-sia!" jawab Alex sembari memainkan pistol di tangannya.


"Serang mereka!" perintah bos bandit kepada para anggotanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2