
Di sudut ruang penjara, ada seorang pria bertubuh tambun tengah di pijit oleh beberapa orang, saat tuan Roger memasukkan para perusuh ke dalam jeruji besi, mata kedua orang itu saling bertatapan. Seperti ada dendam di antara dua orang tersebut.
"Heh, Roger!" celetuk pria itu.
"Apa? kau masih ingin ku pijat juga?" jawab tuan Roger.
"Aku adalah kakakmu, jadi wajar jika aku menyuruhmu!" ucap sang pria tambun.
"Tapi kau penjahat brengsek! leluhur akan malu jika tahu kakakku menjadi pembunuh bayaran!" jawab tuan Roger kesal.
"Haha, ya itu adalah pekerjaan sampingan sebagai seorang polisi, apa arti penegak hukum jika tak mampu membuat isteriku hidup lagi," jelas pria tambun yang ternyata adalah kakak tuan Roger.
"Isterimu mati karena ulahku, kau bermain judi dan isterimu kau taruhkan! jika dia memilih mati di tangan mafia itu bukan salahnya," ucap tuan Roger kepada sang kakak bernama Lordvin.
"Diam kau Roger! harusnya kau tidak menghentikanku menghancurkan hidup pria itu! kau yang brengsek! dia hanya patah tulang, sedangkan aku patah hati," jawab sang kakak yang emosional.
Roger tidak menggubris kakaknya, dia hanya akan membuat onar jika terus saja di tanggapi. Setelah selesai mengunci jeruji besi itu, tanpa sengaja dia melihat tuan Hans yang baru saja datang.
"Pak, mengapa kau telat?" ucap Roger segera menghadang langkah tuan Hans.
"Fira sakit karena terlalu bekerja keras, jadi aku harus merawatnya terlebih dahulu, banyak sekali yang kau tahan hari ini? apa mereka semua anggota mafia?" jawab tuan Hans heran.
"Pak? kau harus ikut aku sebentar," bisik tuan Roger.
Tuan Roger menarik lengan sang kepala polisi kemudian mengajak masuk ke dalam ruangannya.
"Tuan Hans, mereka adalah anggota mafia yang sedang mengincar Alex dan Laras," ucap tuan Roger serius.
"Mereka itu belum tahu siapa menantuku, biarkan saja. Bagaimana kabar kak Lord? apa dia senang pindah di sini?" tanya tuan Hans, dia tak kuasa menahan tawanya.
"Astaga? apa kau yang memindahkannya ke tahanan kota? dia harusnya di kota barat, banyak bandit yang satu profesi, bertemu lagi dengannya adalah kesialan yang hakiki," jawab tuan Roger.
"Itu perintah dari atasanku, kakakmu itu kriminal, dia terlalu sering membunuh sesama tahanan," tukas tuan Hans.
__ADS_1
Tuan Hans menjadi khawatir tentang para anggota mafia yang sedang mengincar anak dan menantunya. Laras sedang hamil dan Alex memiliki janji tidak akan bertarung sebelum babynya lahir.
Melihat tuan Hans yang sedang melamun, membuat tuan Roger bosan. Tuan Hans tiba-tiba keluar dari ruangan tuan Roger, dia berjalan menuju sel penjara yang baru saja menahan beberapa perusuh.
"Siapa bos kalian?" tanya Tuan Hans.
"Dia bukan siapa-siapa, bunuh saja aku pak! itu sudah cukup," jelas sang perusuh.
"Aku masih taat hukum, aku hanya bertanya, siapa bosmu?" tukas tuan Hans.
"Bos K, dia adalah bos kami, tanya Alex. Dia pasti tahu!" ucap sang perusuh.
"Bisa-bisanya kau menyuruhku?" Tuan Hans menarik baju sang perusuh. Kali pertama buatnya seorang penjahat menyuruh dirinya. Tuan Roger menghentikan tindakan sang kepala polisi, karena akan membuatnya merasa kesulitan.
"Polisi pemarah!" Sang perusuh memang ahli dalam memprovokasi.
Tapi kali ini tuan Hans lebih tenang. Dia kembali mengingat martabatnya sebagai seorang penegak hukum.
"Berisik kau Hans!" celetuk Lordvin.
Tuan Hans tidak menanggapinya, Lord memang mantan wakil kepala polisi kota timur yang sangat menyebalkan. Semasa bertugas, dia justru membela para penjahat. Tidak ada kesempatan untuknya berbuat baik, dosa besarnya ialah saat menjual sang isteri kepada seorang mafia untuk membayar hutangnya dalam berjudi. Saat dia menyadari kesalahannya, justru sang isteri memilih tewas di tangan sang mafia daripada harus se-ranjang dengan mafia tersebut. Tak ayal pertarungan itupun terjadi, Roger yang sudah memantau gerak-gerik sang kakak, langsung meringkus sang mafia dan kakaknya yang telah babak belur karena saling baku hantam.
Tapi hal terpenting dari kisah hidup Lord adalah, mafia yang telah membunuh isterinya adalah bos Shadow, Yin Wei. Entah apa yang terjadi ketika kedua orang itu bertemu kembali. Baku hantam penuh dendam tidak akan terelakkan.
...* * *...
Di Paradise Land...
Bos Alex sedang melatih otot tubuhnya saat sang isteri membaca buku. Dia mempertunjukkan badan atletisnya di depan sang isteri. Laras terbengong kala nampak di bola matanya pemandangan indah menyejukkan hati. Dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana olahraga selutut, bentuk badan aduhai sang suami nampak jelas terlihat.
Mata indah Laras tak ingin berkedip, ingin selalu terjaga karena salah satu alasan yang membuat Laras jatuh cinta dengan bos Alex adalah bentuk badannya. Dalam hatinya menjerit, dia ingin menyentuh tubuh itu, namun takut kebablasan.
"Apa?" Alex menyadari jika sang isteri sedari tadi memandangnya.
__ADS_1
"Oh, tidak ada. Hanya sedang melihatmu berlatih," ujar Laras beralasan.
Bos mafia berjalan ke arah sang isteri dan sengaja memperlihatkan bentuk tubuhnya. Laras menutup wajah menggunakan buku yang ia baca.
"Kau ingin melihatnya? ingin menyentuh?" Bos Alex menuntun tangan mungilnya menyentuh dada bidang dan perut sispacknya.
Masih menutupi wajahnya dengan buku, dia tak mampu melihat keindahan itu terlalu lama.
"Singkirkan buku itu, lihat saja. Aku kan suamimu," pinta bos mafia.
Perlahan Laras meletakkan buku itu di atas ranjang, dia menikmati keindahan tubuh sang suami. Dia kembali bertanya hal yang sering sekali ia tanyakan, " Suamiku, luka ini? apa semuanya dari musuh?" tanya Laras penasaran.
"Ada luka yang di berikan oleh seorang gadis gila dan brutal," Alex membalikkan badannya, mempertontonkan punggung berotot yang ada bekas luka cakaran.
"Haha, apakah aku yang melakukannya?" Laras tertawa, ia justu baru menyadari kesalahannya yang membuat punggung Alex terluka.
"Iya, siapa lagi?" Alex menoleh ke arah sang isteri yang masih menertawakan dirinya sendiri yang cukup kejam itu.
"Kapan ini terjadi?" tanya sang isteri yang tidak ingat kapan luka itu ada di punggung Alex.
"Aku lupa, karena saat kau fly, apapun bisa kau lakukan," Alex membalikkan badannya kembali, ia menatap wajah sang isteri yang merah padam karena malu.
Saat mereka saling menggoda satu sama lain, ponsel Alex yang berada di atas nakas berdering. Bos mafia mengambil ponsel itu. Di layar ponsel terlihat sang ayah mertua melakukan panggilan telepon padanya, namun ada juga pesan masuk dari Angela, ia belum sempat membacanya.
"Ada apa ayah?" Alex menjawab panggilan sang ayah mertua sambil mengecek isi pesan singkat dari Angela.
"Apa anak buahmu sudah memberitahumu tentang musuh yang ingin menghabisimu dan Laras?" tanya tuan Hans memastikan.
"Sudah, baru saja Angela melapor padaku, pesan singkatnya berisi ada orang dalam yang membuat kerusuhan dan menghabisi Peter di perbatasan kota selatan," jawab sang mafia.
"Mereka mengatakan bos K yang melakukannya," Tuan Hans menyampaikan apa yang baru saja di ketahui olehnya.
"Aku tahu siapa pengkhianat itu, dia memang sudah membangkang sejak Death Angel menjadi dua kubu. Dia sahabat karib kak Justin, aku tahu harus melakukan apa," Suara Alex terdengar tegas dan lugas, tiada keraguan di setiap apa yang ia ucapkan.
__ADS_1