Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Kembali bersama keluarga


__ADS_3

Alex sudah mampu bernafas lega karena Raf telah tewas dengan cara yang mengenaskan. Tugasnya kini adalah, kembali berkumpul bersama anak dan istrinya.


Dia mulai melangkahkan kedua kakinya keluar dari markas utama. Dengan jiwa yang bebas, Alex tersenyum bahagia menatap mobil mewahnya yang ada di depan markas. Mobil yang akan membawanya menuju rumah.


"Astaga! aku sudah melewati banyak hal, hingga Raf pun telah aku lenyapkan. Hah! aku senang! Thanks God!" Alex menekankan ucapan terimakasih kepada Tuhan dengan nada suara yang lumayan tinggi, tanpa ia sadari, ternyata para anggotanya melihatnya dengan serius dan ikut bahagia.


Alex yang merasa dirinya menjadi bahan tontonan kemudian berdehem, setelah itu bersiul sambil melangkahkan kakinya, mendekati mobil kesayangannya.


"Kau lihat bos kita, dia baru saja menjadi malaikat maut!" ucap salah satu anggota.


"Iya, aku tahu, dia kan bos kita. Kalau sudah keluar sentuhan devilnya, pasti akan habis di tangannya, siapapun itu. Kau ingat tidak? dulu ada yang berkhianat dengan bos? dia di bakar hidup-hidup oleh bos Alex sendiri. Ini kali kedua ada tawanan yang harus tewas di tempat pembakaran, aku yakin, jika Raf membuat masalah besar sehingga bos kita murka," timpal anggota yang lain.


"Benar, aku dengar, Raf itu teman Nyonya Laras yang memendam perasaan kepadanya, semacam ingin merebut cinta istri bos kita. Wah, dia memang cari mati! pantaslah dia dibakar!" ucap anggota satunya lagi.


Saat beberapa orang anggota sedang sibuk ngerumpi. Willy datang menjewer telinga ke tiga orang yang terlalu asik membicarakan bos mereka.


"Sakit!" pekik salah satu anggota.


"Hey? aku sudah mendengarmu sedari tadi, Ehm ... mau aku adukan kepada bos?" ancam Willy.


"Will, kita kan teman. Janganlah, ya? nanti aku akan memijitmu oke? kau juga sedang bertugas di sini, Nona Jeni masih ada di kota lama. Dia tidak bisa memijitmu hari ini. Ya mau ya? tapi jangan adukan kepada bos!" bujuk anggota itu dengan segala cara.


Anggota yang lain perlahan bubar, tinggal dia seorang yang apes.


"Haha, ide bagus! oke, kebetulan aku sangat pegal hari ini." Willy merangkul pundak anggota itu dan mengajaknya masuk ke dalam markas.


Si anggota terpaksa mengembangkan senyumnya, dia hanya takut mendapatkan hukuman dari bos Alex jadi terpaksa melakukannya.

__ADS_1


....


Di dalam mobil sang mafia...


"Sayang? aku rindu." Alex sudah melakukan panggilan telepon sedari tadi, saat dia beranjak dari markas utama. Hingga dua puluh menit perjalanan dari markas, dia masih saja setia dengan headset bluetooth di telinga. Setia mendengarkan suara indah nan lembut milik Laras.


"Kau ada dimana? sudah habisi Raf?" tanya Laras.


"Aku baru saja dari markas utama, sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah. Raf sudah tewas. Aku tidak suka kau menyebut pria lain saat berbicara denganku." Alex masih saja cemburu, meskipun orangnya sudah ia habisi.


"Bagus sayangku, kau hebat! harusnya mendapatkan apresiasi, muah!" ucap Laras yang memberikan kecupan mesra lewat sambungan telepon.


"Kau ingin membangunkan singa yang sedang tidur kah?" jawab Alex dengan suara yang berat.


"No baby, hanya ingin cium jauh." Laras pandai sekali menggoda sang mafia, sampai pria itu kesetrum ucapannya.


"Aku ingin lebih dari itu," jawab sang mafia mulai nakal.


"Hah, kau ini ya? ku makan juga nanti!" Alex keluar sifat binatangnya yang pandai menerkam.


Laras hanya tertawa di ujung sana.


"Laras, aku mau fokus menyetir dulu, jalanan sangat licin, tiba-tiba turun hujan," pamit sang mafia.


"Iya, hati-hati baby. Muah, love you!" ucap Laras mesra.


"Hm, baby, love you too."

__ADS_1


Percakapan keduanya berakhir dengan kemesraan yang cukup membuat Alex tersenyum, dia hari ini memang merasakan kebahagiaan yang berlipat ganda.


"Ayah Raf! kau adalah kunci untukku mendapatkan hadiah dari istriku, mati kau Dama!"


Alex menyeringai, dia akan membuat Dama menyesal telah membuatnya kesal.


Saat sedang fokus menyetir, ponsel miliknya kembali berdering.


Dia yang masih memakai headset bluetooth di telinganya, langsung memencet headset tersebut. Secara otomatis, panggilan telepon itu langsung terhubung.


"Bangsaat kau Lex! kau bunuh anakku!" Suara kurang ajar tiba-tiba memekikkan telinga Alex.


Tapi, sang mafia hanya meresponnya dengan senyuman.


"Lex! aku pastikan istrimu akan menjadi pela*ur dan anak-anakmu akan menjadi pengemis! kau camkan itu!"


Mendengar anak dan istrinya di sebut oleh pria tidak tahu diri itu, Alex langsung naik pitam.


"Aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan semua ancamanmu, aku hanya tidak suka kau menyebut anak dan istriku saat kita membahas pembalasan dendam. Sebelum kau melakukannya, pikir dulu nasibmu! apakah kau akan selamat? sejengkal saja kau sentuh mereka, aku pastikan sampai neraka pun akan ku kejar, hanya untuk apa? memberikan kematian 1000x lebih pedih dari apa yang sudah aku lakukan kepada anak bajinganmu itu! kau camkan TUAN DAMA!!"


"Haha, kau coba saja! kita lihat siapa yang akan tewas lebih dulu, aku atau kau!" Tuan Dama memang tak ada rasa takut sama sekali, dia menantang dewa kematian.


"Oke, aku akan melihat debutmu! jika kau mampu membunuhku, aku berikan semua kekuasaanku, tapi jika sebaliknya? kepalamu menjadi taruhannya!"


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Mampir Novel temanku kak

__ADS_1



Jangan lupa like komen fav 😘


__ADS_2