
Laras belum bisa melepaskan pelukannya, gadis itu semakin tidak ingin kehilangan Alex. Seorang mafia yang teramat di benci kini menjadi pria yang teramat ia cintai. Takdir yang menuntun mereka tetap bersama dalam perjalanan hidup yang panjang penuh liku, air mata dan pengorbanan.
Laras mengingat semua itu dan dia sangat bersyukur bertemu dengan Alex Fernando, pelabuhan cinta terakhir seorang Laras Nugraheni.
'Aku semakin tidak waras jika terlalu memikirkannya,' batin Laras.
"Sayang?" tanya Alex.
"Hm," jawab Laras.
"Kau akan seperti ini sampai pagi?" tanya Alex.
"Iya," jawab Laras.
"Daripada berdiri lebih baik kita berbaring di ranjang," goda Alex.
"No baby, kau akan menyiksaku," jelas Laras sambil melepas pelukannya.
"Haha, aku tahu kelemahanmu, lebih baik kau istirahat, biar aku, Angela dan Richi yang mempersiapkan segalanya," tukas Alex.
"Tapi... aku juga ingin membantu," pinta Laras.
"Tidak perlu, kau tidur saja lagi, setelah semua siap, nanti aku akan memberitahumu," jelas Alex.
"Jika kau sudah berucap, mana mungkin aku bisa melawannya, baiklah. Aku tidur dulu ya, fighting!!!" ucap Laras sambil menyemangati sang calon suami.
"Iya sayang, kau tidurlah! mimpi indah," pinta Alex.
"Iya sayang," jawab Laras yang berjalan perlahan keluar dari kamar tamu menuju kamar utama.
Alex sedang memikirkan konsep seperti apa yang akan dia gunakan untuk pernikahannya nanti. Dia memiliki ide untuk membuat panggung pernikahan di bibir pantai menggunakan bahan yang sudah ada di dalam kamar tamu yang luas itu, tapi dia perlu bantuan Richi dan Angela.
Sang mafia keluar dari kamar tamu itu dan menghampiri dua anak buahnya yang sedang minum teh hangat bersama di dapur.
"Oh, begini ya tingkah kalian di belakangku?" canda Alex.
"Bos sudah bersenang-senang, aku dan Angela juga, bedanya kami hanya minum secangkir teh hangat bersama, tidak seperti kau, caramu lebih horor," celetuk Richi.
"Sial! apa kau mengejekku? lebih baik kalian berdua bantu aku menyiapkan altar pernikahanku!" perintah Alex.
__ADS_1
"Siap bos! tugas di laksanakan!" ucap Richi dan Angela serentak, mereka berdua beranjak dari tempat duduknya dan segera melaksanakan perintah dari bos Alex.
Mereka bertiga berjalan menuju kamar tamu, mereka bertiga berdiskusi tentang konsep pernikahan, beberapa menit pertama terjadi perdebatan karena Alex hanya ingin hal sederhana tetapi Richi dan Angela ingin yang mewah, secara bos mereka adalah Alex Fernando, ketua Death Angel, mafia paling di takuti dan tersohor di seluruh kota.
Tapi pada akhirnya, hanya bos Alex yang memegang kendali segalanya, dia tidak ingin terlalu bermewah-mewah meskipun ada banyak bahan yang mendukungnya.
"Kita lakukan dengan cepat dan sederhana, kau buat panggung pernikahan bersamaku, Angela menghias panggung itu dengan bunga-bunga. Apa kau tidak lupa membeli cincin?" tanya Alex.
"Cincin sudah siap, aku letakkan di saku bajuku, ini kau bawa saja, aku khusus membelinya dari teman tuan Immanuel, ini hanya ada satu di dunia, aku sudah benar-benar menjaga cincin ini dengan segenap jiwa dan raga, kalau aku ceroboh, kau pasti tidak akan mengampuniku," jawab Richi sambil menyerahkan dua cincin yang masih ada di kotak yang berwarna merah dan berbentuk hati itu.
"Kau yang bawa, aku kan memintanya nanti," ucap Alex menolak pemberian cincin pernikahan itu, dia akan meminta jika waktu pernikahan tiba.
"Baik, aku ikuti apapun perintahmu Lex," jelas Richi.
"Bagus!" jawab Alex.
Alex dan Richi membawa beberapa peralatan yang tersedia di kamar tamu yang luas itu ke bibir pantai, mereka bertiga sudah melaksanakan tugas masing-masing.
Di kamar utama...
Laras berguling ke kanan-kiri, dia tidak mampu memejamkan matanya, di hari H pernikahan, dia di minta beristirahat oleh calon suaminya, tapi di luar terdengar suara berisik.
"Suara apa itu? mana bisa aku tidur! selain ini hari H pernikahanku, suara berisik itu sangatlah mengganggu!" gerutu Laras.
"Angela, kau sedang apa?" tanya Laras.
"Nona? bukannya bos menyuruhmu berisitirahat?" tanya Angela.
"Aku tidak bisa tidur, di luar berisik sekali, jika itu suara ombak, aku sudah terbiasa, tapi ini seperti ada orang memperbaiki rumah," gerutu Laras.
"Itu kerjaan bos dan kak Richi, mereka sedang membuat panggung sederhana untuk tempat mengucap janji setia kalian berdua, nanti aku akan menghias panggung itu dengan bunga mawar yang sedang aku rangkai ini," jelas Angela sambil merangkai beberapa bunga mawar menjadi satu.
"Terima kasih Angela, kau sangat baik, kau juga membantu mempersiapkan pernikahan kami," ucap Laras.
"Ini sudah tugasku, jika kau tidak bisa tidur, lebih baik menemaniku saja, kau cukup melihat, tidak perlu melakukan apapun," jelas Angela.
"Baik," ucap Laras.
"Kau duduklah nona, mengapa harus berdiri? bos akan memarahiku jika tahu kau kelelahan di hari H pernikahanmu," jawab Angela.
__ADS_1
"Iya, aku tahu. Aku akan duduk," tukas Laras sembari duduk di lantai keramik berwarna coklat dan bentuk seperti kayu yang berjejer.
Laras memperhatikan kinerja Angela, gadis itu seperti sudah terbiasa merangkai bunga menjadi satu buket, atau membuat hiasan seperti mahkota bunga yang indah, dia sangat lihai dalam merangkai berbagai bentuk dengan bunga mawar itu.
"Wah! kau pandai sekali?" puji Laras.
"Ini pekerjaanku dulu sebelum ikut bos Alex, merangkai bunga, ibuku dulu penjual bunga, dia memiliki satu kebun bunga mawar berbagai warna di desaku yang telah hancur itu," jelas Angela.
"Maaf Angela, aku mengingatkanmu tentang hal itu," ucap Laras.
"Tidak masalah nona, semuanya sudah terjadi, Yanze juga sudah tewas di tanganku, seluruh anggota keluargaku akan tenang di surga, mereka pasti bangga padaku," jawab Angela.
"Kau gadis yang kuat, aku juga bangga padamu," ucap Laras.
"Terima kasih nona, kau sangat baik, semoga kehidupan baru yang akan kau jalani bersama bosku menjadi pernikahan seumur hidupmu, lahirkan banyak keponakan untukku nona, aku sangat suka anak kecil," pinta Angela.
"Kau sama seperti Alex, ingin banyak baby," tukas Laras.
"Kita akan hidup bersama anak-anak setelah tua, bos Alex juga manusia biasa, dia ingin menikmati masa tua bersama anak-anak dan cucunya," jawab Angela.
"Kau benar juga, apa kau juga akan menikah?" tanya Laras.
"Tentu saja, tapi tidak untuk saat ini, aku dan kak Richi masih banyak tugas, jika aku menikah sekarang, akan terlalu beresiko, aku adalah gadis dengan banyak musuh karena peranku sebagai kaki tangan bos Alex, semua hal harus aku pertimbangkan, termasuk pernikahan," jelas Angel masih fokus dengan bunga-bunga yang ada di depannya.
"Hidupmu berat sekali untuk seorang gadis,Angela, kau gadis yang hebat! tetaplah bersemangat menjalani hari-harimu, jangan pernah menyerah!" ucap Laras sembari menghentikan aktivitas Angela yang sedang merangkai bunga, Laras menggenggam tangan gadis itu.
Angela terharu, selama ini tidak ada orang yang perhatian padanya seperti Laras.
"Terima kasih nona," jawab Angela sambil menatap wajah Laras dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sama-sama Angela," ucap Laras melepas genggaman tangannya.
"Nona, ada yang salah denganmu," ucap Angela.
"Ada apa?" tanya Laras.
"Kau memakai gaun pengantin, apa kau lupa menggantinya?" ucap Laras.
"Haha... iya," tawa Laras.
__ADS_1
"Lebih baik kau segera mengganti gaun pengantin ini dengan baju biasa saja, bos Alex akan marah jika dia tahu kau masih memakainya," goda Angela.
"Dia memang suka marah, ya sudahlah! aku ganti baju dulu saja," jawab Laras sembari bangkit dari tempat duduknya menuju ruang ganti.