
Keduanya memutuskan untuk duduk dan meluruskan kedua kaki masing-masing. Laras menatap wajah Alex dengan intens, di pandangnya wajah tampan yang tidak membosankan itu. Mata yang indah, bibir tipis yang seksi, dan hidung mancung yang khas. Secara refleks, jari-jari manisnya bergantian membelai wajah luar biasa itu. Wajah yang selalu pertama Laras ingat setiap saat. Wajah halus sempurna tanpa noda milik bos mafia Alex Fernando.
"Sayang? apa kau tahu, jika saat ini aku merasa seperti lelucon," tukas Alex masih membiarkan sang gadis mengeksplor wajahnya.
"Maksudmu lelucon?" tanya Laras sembari mengerutkan dahi dengan tangan tak henti membelai wajah bos Alex.
"Pertama kali aku melihatmu, aku bisa dengan mudahnya jatuh cinta padamu, aku seperti lelucon bukan?" tanya Alex semakin menikmati sentuhan tangan halus Laras di kulit wajahnya.
Laras melepaskan kenakalan jari-jari manisnya, dan menatap lurus ke depan.
"Iya, kau memberiku uang lima puluh juta serta meninggalkan surat wasiat kemudian pergi begitu saja, waktu itu aku sangat membencimu, kau memang lelucon yang menyebalkan!" jelas Laras tegas.
"Maaf," ucap Alex lirih.
Reaksi Alex yang tidak terduga membuat Laras merasa bersalah, dia menatap wajah seorang mafia ugal-ugalan, kejam ,bengis, yang tertunduk di depan matanya.
"Sayang? tegakkan kepalamu, perlihatkan wajahmu, jangan seperti ini," tukas Laras memaksa Alex untuk tidak menunduk di hadapannya.
"Maafkan sisi kejamku sayang, aku harap kau akan melupakan hal itu dan melihat sisi baik yang ku tunjukkan padamu, kau tahu? aku sangat lemah di hadapanmu!" jawab Alex yang kini memperlihatkan wajah tampannya itu kepada Laras.
Seketika Laras memeluk Alex, dia menangis, Laras berjanji tidak akan mengatakan hal buruk tentang Alex di masa lalu. Air matanya mengalir deras, pundak Alex basah penuh tumpahan air mata bersalah dari sang gadis.
"Hiks...hiks...hiks...," Laras masih saja menangis, bos mafia mencoba menenangkannya.
'Sayang, berhentilah! aku tidak apa-apa," jelas Alex sembari mengelus punggung Laras lembut.
"Tapi aku sudah membuatmu terluka, aku bodoh! maafkan aku! hiks...hiks...hiks...," jawab Laras semakin mempererat pelukannya.
"Sayang, dengarkan aku! aku tidak terluka, aku hanya merasa bersalah, mengapa aku bisa melakukan hal tidak terpuji pada gadisku ini, aku rela tiada untukmu, tapi aku terlalu bodoh untuk meninggalkanmu, maaf ! waktu itu belum yakin dengan perasaanku," jelas Alex.
"Apa kau sekarang sudah yakin?" tanya Laras menangis sesenggukan.
"Yakin 1000.000 persen, kau percayalah padaku, aku hanya untukmu dan kau hanya untukku, kau paham cantik? hentikan tangisanmu itu," jawab Alex.
Perlahan, Laras melepaskan pelukannya, dia menatap wajah sang kekasih.
"Hatimu hanya untukku 'kan?" tanya Laras menggenggam tangan Alex.
__ADS_1
"Tentu saja, hatiku juga hanya untukmu," jawab Alex.
"Sayang, aku sebelumnya pernah jatuh cinta tapi tidak sedalam ini, perasaanku padamu sudah sangat dalam hingga takut kau tiba-tiba akan pergi," ucap Laras.
"Kau terlalu berlebihan sayang, berpikirlah lebih sederhana, ada aku di sini, aku tidak kemana-mana, aku milikmu," jawab Alex sembari mengusap sisa air mata di pipi Laras.
Hari sudah senja, namun kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu masih betah berlama-lama di lantai atas gedung megah itu.
"Langitnya indah," ucap Laras sembari menatap langit menguning di senja hari.
"Memang, indah sangat, tapi apa kau masih ingin di sini?" tanya Alex.
"Masih, rasanya tak ingin kehilangan momen untuk terus bersama denganmu, sayang, ehm...apa kau sudah ingin turun?" jawab Laras menatap wajah Alex.
"Iya, Aku lelah, aku ingin beristirahat, apa lagi angin senja telah berhembus, di kulit terasa dingin, aku khawatir nanti kau sakit," jelas Alex sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah," tukas Laras menuruti permintaan Alex.
Mereka berdua turun perlahan dari lantai atas gedung, setelah berada di lantai bawah,Laras duduk di atas sofa dan Alex masuk ke dalam kamar utama.
'Sepertinya memang bos mafia itu kelelahan, sudahlah, aku akan membiarkannya beristirahat,' batin Laras.
"Hah! aku melihat kisahku sendiri, tapi itu sudah masa lalu, kini aku telah mendapatkan restu," ucap Laras mengomentari film yang ia tonton di televisi.
Karena terlalu terhanyut dan menghayati film yang ia tonton, Laras sampai lupa jika bos Alex sedari tadi belum keluar kamar, dia merasa khawatir dengan keadaan Alex, dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan segera melangkahkan kedua kakinya menuju kamar utama.
KLEK
Laras perlahan membuka pintu kamar utama dan mendapati sang kekasih sedang tidur di atas ranjang, dia mendekati tubuh Alex. Dia duduk di samping sang kekasih.
"Kau tampan sekali, menggemaskan," tukas Laras.
Saat Laras ingin beranjak dari sana, mata Alex langsung terbuka, secepat kilat tangannya meraih tangan Laras memintanya untuk menemaninya.
"Tunggu, temani aku," pinta Alex.
"Astaga! kau hobi sekali membuatku terkejut! tadi matamu terpejam, tetapi dalam sekejap kau sudah terbangun dan meraih tanganku, kau horor sayang," jelas Laras.
__ADS_1
"Aku horor? apa kau pikir aku genre film? aku bukan hantu, tapi akan selalu menghantuimu," goda Alex.
"Iya, kau benar, kau memang selalu menghantuiku siang dan malam," ucap Laras.
"Kau imut sekali, come on! peluk aku sampai pagi, aku hanya ingin itu, kau bisa? aku sudah menahan hasrat yang menggila ini dari pagi hingga detik ini, aku sangat tersiksa," jawab Alex memohon.
"Baiklah, hanya peluk sampai pagi, no problem," tukas Laras menyanggupi.
Laras naik keatas ranjang dan memeluk tubuh kekar bos Alex, dia membelai rambut bos Alex yang ada dalam pelukannya.
"Tempat ternyaman," celetuk Alex.
"Iya, kau memang sangat senang jika aku peluk," jelas Laras.
"Karena pelukanmu menenangkan sayang, tubuhmu memang mungil, tapi kekuatanmu lebih dari ukuran tubuhmu, apa kau tahu?" ucap Alex sembari mendongakkan kepalanya ke arah wajah Laras.
"Apa?" tanya Laras sembari menatap wajah memelas Alex yang menginginkan sesuatu.
"Kiss me," pinta Alex sembari menunjuk ke arah bibirnya.
"Just kiss? no more, okey? tutup matamu," jawab Laras memperingatkan.
Alex menggangguk, dia menutup mata dan menunggu kiss dari gadisnya...
Cup..
Laras memberikan ciuman di kening bos Alex, lama sekali bibir mungil itu berada di sana, membuat Alex kesal.
"Aku meminta bibir, bukan kening," gerutu Alex.
"Iya, tapi nanti aku yang tidak tahan, haha, sial! kau juga harus membantuku menahan diri sebelum kita menikah," jelas Laras.
"Ya sudahlah! kita sama-sama menahan diri, lebih baik, aku teruskan saja memelukmu sampai pagi," ucap Alex kecewa.
"Peluk aku sepuasmu, jika itu nyaman, lakukanlah sayang," jawab Laras.
Beberapa menit kemudian, Alex telah tertidur di pelukan sang gadis. Laras menatap wajah mafia itu, dia tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
'Akan ada lima baby A dan satu big baby, mereka berenam akan memenuhi ranjang saat ingin tidur dan berebut pelukanku, hah! pasti lucu sekali melihat bos mafia seperti Alex harus mengalah demi lima baby A nya,' batin Laras gemas.