
Saat Laras membuka kedua bola matanya, dia langsung menatap wajah pria tampan yang kini berada di sampingnya itu. Di tatapnya lekat wajah rupawan sang kekasih, meski tubuhnya penuh luka, tapi wajah Alex sangatlah bersih.
"Kalau di lihat dari jarak dekat, kau seperti seorang pria rumahan. Kulit wajahmu sangat halus, lembut da-."
Sebelum Laras puas menatap wajah tampan itu, tiba-tiba Alex membuka mata. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan menarik tubuh Laras ke atas ranjang. Kini tubuh Alex berada di atas gadis itu.
"Tuan, apa yang ingin kau lakukan?" Ucap Laras gugup sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan di saat mataku terpejam?" Jawab Alex dengan tatapan bak singa yang kelaparan.
"Wajahmu terlihat semakin tampan saat di lihat dari jarak dekat. Aku curiga jika kau dahulu bukan seorang mafia." Ucap Laras.
"Maksudmu?" Tanya Alex.
"Aku akan memberitahumu jika kau berhenti menakutiku. Posisi tubuhmu itu sangat menggangguku Tuan, kau memang binatang buas, langsung menerkam jika ada kesempatan." Gerutu Laras.
Alex merubah posisi tubuhnya, kini bos mafia itu telah duduk di samping Laras.
__ADS_1
"Aku sudah menuruti kemauanmu, sekarang jelaskan maksud perkataanmu." Pinta Alex.
"Wajahmu halus sekali Tuan. Seperti pria yang sering perawatan di salon. Aku saja yang seorang gadis tidak semulus wajahmu. Apa kau dahulu seorang pendiam kemudian di culik, setelah itu di jadikan penjahat oleh sang penculik." Jawab Laras polos, dia mengungkapkan argumen yang kekanak-kanakanan.
"Saat kau bicara seperti itu, kau sangat manis dan imut sayang. Sayangku, gadis cantikku, aku akan memberitahumu rahasia tentang wajahku yang kau bilang mulus itu, Ayahku memang seorang pemimpin geng mafia Blue Sea. Tidak seperti kehidupan seorang mafia pada umumnya yang memiliki banyak wanita simpanan dimanapun, ayahku termasuk pria yang setia. Dia kejam kepada semua musuhnya, tetapi menyayangi keluarganya. Ibuku adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan kebersihan kedua anaknya. Awalnya aku tidak mau saat Ibuku memberiku masker mentimun saat aku ingin tidur. Tetapi Ibuku memaksaku, aku bilang padanya " Ibu, aku akan memakan semua mentimun ini, jangan kau buat aku seperti seorang gadis. Apa kata ayah jika dia tahu, anak kebanggaannya menjadi pria cantik seperti ibunya." Ibuku, dia tertawa terbahak-bahak saat mendengarku berbicara tiada henti. Kemudian dia menjawab " Lex, sedari tadi kau bicara saja, sambil memakai masker mentimun, kau lebih mirip gadis yang sedang mengomel." Kak Justin juga sama, dia akan marah saat Ibu menyuruhnya memakai masker mentimun. Ayahku tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya juga menjadi sasaran dari kejahilan Ibuku. Aku pernah berjanji kepada Ibuku saat beliau masih hidup, aku tidak akan membuat orang lain merusak wajahku karena ada bayangan ibuku di sana. Jika tergores sedikit saja, aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan kepada orang yang berbuat demikian sebelum kematian menjadi jalan terakhirnya. Apa kau sudah paham? jadi tidak ada cerita culik menculik di sini."
Laras tertawa mendengar cerita konyol dari keluarga Alex. Dia tidak menyangka akan ada kisah seperti manusia biasa di dalam hidup bos mafia itu. Tetapi saat mengingat perkataan tentang janji Alex kepada Ibunya, dia terharu. Dia tidak menyangka jika hal kecil seperti masker wajah bisa menjadi kenangan manis dan berarti bagi Alex. Laras merasa keluarga Alex sangatlah sempurna, dan sangat jelas terlihat bos mafia itu di besarkan di dalam kehangatan keluarga.
"Di balik sikap kaku dan angkuhmu itu ternyata kau memiliki kehidupan seperti manusia normal, Tuan. Kau bahkan mengucapkan janji yang sederhana tetapi mengandung makna yang mendalam. Kalau boleh aku tahu, apa yang menyebabkan kau kehilangan kedua orang tuamu?" Tanya Laras.
"Aku hanya tidak tahu bagaimana bersikap dengan seorang gadis, mungkin itu yang menyebabkan aku terlihat kaku dan terkesan angkuh. Hidupku dan hidupmu hampir sama, hanya karena aku anak seorang bos mafia, jadi hidupku penuh dengan ancaman. Kedua orang tuaku selalu membawa pengawal lebih dari lima orang saat kami pergi keluar rumah. Aku tidak suka sekolah, ayahku bilang jika aku di sekolah kan, yang aku kerjakan bukan soal ulangan, tetapi hukuman karena sering berkelahi. Ayahku tahu jika aku tidak cocok bersekolah formal, ayahku mengajariku bela diri dan kegiatan olah raga lainnya agar aku kuat secara fisik dan mental. Dia ingin aku menjadi penerusnya kelak. Dia melatihku dengan sangat gigih, hingga di usia muda aku mampu melakukan banyak hal seperti seorang pria dewasa. Penyebab kematian kedua orang tuaku karena kelicikan para musuhnya, mereka membantai siapapun yang berhubungan dengan Blue Sea." Jelas Alex.
"Tidak, tidak akan. Aku akan bereskan semua musuhku dan kita akan pergi dari kota ini. Kita akan menikah dan tinggal di pesisir pantai, seperti impianku yang pernah aku sampaikan padamu."
Laras memeluk Alex dengan erat, bos mafia itu meringis kesakitan menahan luka yang tersentuh oleh tubuh Laras. Sang gadis yang lupa sang kekasih baru saja mengalami luka tembak di dadanya kemudian melepaskan pelukannya. Dia meminta maaf kepada Alex, dengan polosnya Laras meniup dengan lembut luka di dada sang bos mafia sambil meraba luka yang lain. Dia selalu penasaran tentang banyaknya luka yang bersarang di tubuh kekar Alex.
"Jangan kau teruskan sayang, meski aku sedang terluka. Tidak menutup kemungkinan kau akan ku makan habis."
__ADS_1
Laras kemudian menghentikan kegiatan yang "terlarang" itu, dia selalu kalah telak di depan Alex. Hal kecil yang menurutnya biasa saja, akan sangat membahayakan jika hal itu di lakukan kepada sang bos mafia.
Alex tersenyum melihat respon Laras yang begitu khawatir. Dia meminta kepada sang gadis agar selalu waspada karena dirinya bisa saja melakukan apapun kepada Laras jika gadis itu mulai menggoda dirinya.
"Dasar kau binatang buas menyebalkan!!! huh." Ucap Laras kesal.
Mendengar sang kekasih mengumpat, Alex membelai rambut Laras mesra, seketika amarah itu mereda.
"Sayang dari tadi kau hanya bersamaku, apa kau tidak ingin bertemu kedua orang tuamu?" Tanya Alex.
"Sangat ingin, tetapi aku masih kesal dengan mereka. Ayah dan Ibuku tidak mau memahami aku dan tidak kunjung merestui hubungan kita." Gerutu Laras.
"Setidaknya temui mereka, kedua orang tuamu itu sampai berurusan dengan Tuan Xiualing juga karenamu."
Laras diam sejenak, dia seperti sedang memikirkan suatu hal.
"Baiklah, aku ingin bertemu kedua orang tuaku. Mari kita pergi bersama dan meminta restu kepada mereka." Ajak Laras.
__ADS_1
Mereka melangkahkan kedua kaki mereka keluar dari ruangan bos mafia itu dan pergi menemui kedua orang tua Laras.