
Di lantai bawah rumah Guru Fu...
Setelah berdiskusi dengan kelima anaknya, akhirnya Laras dan Tuan Hans bisa berbincang bersama di ruang tamu. Di sana tidak ada siapapun, Nyonya Fira sepertinya sudah enyah dari sana.
"Sepertinya sudah aman yah, ibu juga tidak ada di sini," ucap Laras sembari mengajak duduk ayahnya di sofa ruang tamu.
"Katakan, apa yang kau bicarakan dengan Alex di kamar mandi tadi?" tanya Tuan Hans dengan tatapan mata yang tajam.
"Ayah, aku tidak berbicara dengan suamiku, tetapi dengan seorang penjahat yang keji, dia telah menyandera Alex! dan dia memintaku untuk pergi ke alamat xxx bersama anak-anakku!" jawab Laras, dari nada bicaranya terdengar resah serta penuh rasa takut. Sang ayah segera menenangkan sang putri.
"Kau tetap di sini, biarkan aku dan Richi yang mengurusnya. Jangan sekalipun anak-anak tahu, Ehm...kau lebih baik jaga mereka, aku juga harus berdiskusi dengan Guru Fu," pinta Tuan Hans, sang putri menyetujui ucapan sang ayah. Dia segera bergegas naik ke lantai atas untuk mengurus anak-anaknya.
Sedangkan Tuan Hans membuat panggilan ke nomor Richi, dia berharap nomor ponsel Richi tidak berubah.
__ADS_1
Tuan Hans mengambil ponsel yang ada di saku celananya, dia segera menghubungi nomor ponsel Richi.
"Halo Tuan Hans? ada apa?" tanya Richi yang ternyata masih menggunakan nomor ponsel yang sama.
"Syukurlah! aku kira setelah beberapa tahun tidak saling bertukar kabar, kau akan mengganti nomor ponselmu Richi!" ucap Tuan Hans merasa lega.
"Ada apa Tuan? kau memiliki urusan denganku? mau mengajakku berkelahi? atau membuat rusuh?" canda Richi yang memahami sifat Tuan Hans yang tidak bisa diam dan selalu berbuat ulah.
"Haha, kali ini belum ada rencana. Oh iya, apa aku tahu jika bosmu dalam masalah?" tanya Tuan Hans dengan nada bicara yang lebih serius.
"Mereka aman, sekarang sedang ada di rumah Guru Fu," jawab Tuan Hans menyampaikan hal yang sebenarnya agar Richi tidak begitu khawatir.
"Syukurlah, aku kira mereka ada bersama Asley. Tuan Hans, kau bicarakan hal ini dengan Guru Fu, bawa anak buahmu untuk membantu kami!" pinta Richi, dia butuh banyak bala bantuan karena Asley Xie adalah musuh yang sangat berbahaya.
__ADS_1
"Tanpa kau minta aku juga akan melakukannya," jawab Tuan Hans sembari menutup panggilan tersebut.
Dia sedikit kesal dengan Richi yang selalu menggoda dan meremehkannya.
Setelah menelepon Richi, ia segera mencari Guru Fu. Tuan Hans sudah mencari dimanapun tetapi tak kunjung menemukannya, saat dia berada di taman belakang rumah, Guru Fu tiba-tiba mengagetkannya.
"Tuan Hans?" ucap Guru Fu sembari menepuk pundak ayah Laras itu.
"Astaga! kau di belakangku? aku sudah mencarimu dimana-mana tetapi tak kunjung menemukanmu." Tuan Hans menoleh dan mengelus dadanya.
"Memangnya ada apa kau mencariku? ada hal sepenting itu kah?" canda Guru Fu, dia mengajak Tuan Hans untuk duduk di sebuah bangku kuno yang Guru Fu dapatkan dari temannya saat berada di China.
"Guru, menantuku sedang dalam masalah! dia di sandera Asley!"
__ADS_1
Guru Fu terkejut saat mendengar nama Asley di sebut oleh Tuan Hans. Dia menghubungi melalui panggilan telepon semua muridnya yang sedang berada di kota Manhattan untuk segera berkumpul di rumahnya, membahas tentang penyerangan markas Asley.
"Asley! kau tidak akan ku ampuni! siapapun yang menyakiti keturunan Tuan Fernando harus tewas!" ucap Guru Fu geram.