Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 150


__ADS_3

Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Alex menghentikan sementara aksinya. Dia mengajak sang isteri untuk mandi bersama. Alex menggendong tubuh ibu hamil itu, sesampainya di kamar mandi, ia menyiapkan air hangat untuk berendam bersama. Awalnya Laras menolak, dia khawatir sang mafia akan mengajaknya olahraga lagi. Tapi Alex berjanji tidak akan melakukan hal kejam lagi padanya.


"Kau ingat-ingat janjimu," Laras menatap wajah sok imut Alex yang terus saja menggodanya.


"Iya, oh iya sayang, besok pagi aku akan pergi ke perjamuan makan di bar kota selatan bersama Richi, kau di sini bersama Angela ya?" ucap sang mafia sembari melepas helai kain yang Laras kenakan.


"Kau pergilah, jangan melihat wanita selain aku di sana," Laras menatap tajam mata sang mafia.


"Haha, apa kau bercanda? kau yang terbaik sayang," puji Alex, ia membantu sang isteri masuk ke dalam bathup, Alex ingin mencuci rambut sang isteri, namun Laras melarangnya.


"Sayang, kau mandi dulu saja," pinta Laras sembari menatap wajah sang suami.


"Kau diamlah! aku akan mencuci rambutmu, besok lagi aku tidak tahu bisa melakukannya atau tidak," jawab Alex memaksa, ia tetap mencuci rambut Laras dengan penuh perasaan.


Laras terharu, dia meneteskan air matanya. Dia merasa sangat beruntung memiliki suami yang super tampan dan perhatian.


Alex heran saat sang isteri tidak banyak bicara lagi, ia menatap wajah Laras. Wanita itu mencoba menahan tangisnya.


"Maaf sayang, apa aku menyakitimu?" Alex segera membilas rambut sang isteri. Ia mengusap rambut Laras dengan hati-hati.


"Tidak, kau tidak pernah menyakitiku, aku yang selalu menyakitimu. Karena aku, kau tidak bisa bertarung lagi, aku yang salah," Laras menyalahkan dirinya sendiri.


Setelah mengetahui alasan Laras, Alex tidak memperdulikan ucapan sang isteri, dia lebih fokus kepada rambut Laras yang panjang, sang mafia membilasnya dan sesekali memijat kepala sang isteri, "Apa yang kau katakan? ini adalah kemauanku, kau tidak perlu berpikiran yang macam-macam, pada intinya, aku rela melakukan apapun demi dirimu, hentikan tangismu itu," ucap sang mafia.


"Terimakasih sayang," jawab sang isteri yang kembali menampakkan senyumnya kembali.


"Rajinlah membuatku bergairah, ini baik untuk baby kita. Itu yang bisa kau lakukan jika ingin berterimakasih," Alex tersenyum, ia merasa di untungkan dengan posisinya ini. Sang mafia kini tidak merasa gelisah karena baby A juga selalu mendukungnya, dengan alasan agar persalinan berjalan lancar, ia akan menjadi rajin menengok babynya.

__ADS_1


"Haha, kau membuat alasan yang jitu, ehm... tidak masalah," Laras mengizinkan sang suami melakukannya lain hari lagi.


"Oh iya, beberapa minggu lagi kau akan melahirkan, aku harus mengudang dokter kepercayaan ibumu ke pulau ini agar dia bisa menjagamu, aku juga akan meminta Richi dan Angela tinggal lebih lama di sini, kau akan banyak teman sayang," ucap Alex, Ia telah selesai memandikan sang isteri. Sang mafia kemudian mengambil handuk kimono dan mengenakannya di tubuh sang isteri, ia juga mengambil handuk biasa untuk mengeringkan rambut sang isteri.


"Terimakasih sayang, kau sangat baik. Ehm...kalo ini aku jalan sendiri saja ya?" ucap Laras penuh harap.


"Aku gendong saja biar cepat, kau menurutlah, setelah ini kita menelepon ibu dan ayahmu," Alex mengendong sang isteri. Ia membuka pintu kamar mandi dan bergegas menuju ranjang. Sang mafia mengambil baju untuk sang isteri, Laras mengenakan bajunya sendiri, kali ini Alex memperbolehkan karena mengenakan baju menurut Alex bukan hal yang berbahaya meskipun dalam hatinya dia sangat ingin melayani sang isteri.


Setelah helai kain menempel sempurna di tubuh Laras, Alex mengajak sang isteri untuk duduk di teras rumah sembari menikmati keindahan pantai. Keduanya keluar dari kamar utama menuju teras bangunan megah itu, ia duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati yang berukiran indah, keduanya duduk berdampingan. Tak lupa Alex menyiapkan bantal untuk menjadi sandaran punggung sang ibu hamil agar sang isteri merasa nyaman.


"Hari ini cuaca tidak terlalu panas, nyaman sekali rasanya," celetuk Laras.


Laras menatap wajah sang mafia yang sedang fokus dengan ponselnya.


"Kau sedang apa?" tanya Laras penasaran.


"Aku sedang menelepon ibu mertua, tetapi tidak di jawab," ucap sang mafia yang masih mencoba melakukan panggilan ke nomor ponsel nyonya Fira.


"Itu nomor ibuku yang lama, ini yang baru," Laras mengembalikan ponsel itu kepada sang pemilik.


Tidak menunggu lama, panggilan itu mendapatkan jawaban.


"Syukurlah, akhirnya aku bisa meneleponmu ibu mertua," tukas Alex merasa lega.


"Ada apa Lex? apa kau mengalami kesulitan dalam menjaga isterimu?" tanya sang ibu mertua cemas.


"Tidak ibu mertua, aku meneleponmu karena ingin meminta bantuan, kau datanglah bersama teman doktermu untuk menemani Laras. Kebetulan besok pagi aku ada acara, apa ibu ada waktu?" jawab sang mafia harap-harap cemas.

__ADS_1


"Ehm, sebenarnya aku sedang banyak pekerjaan, tapi tak apalah. Aku bisa menemani anakku," tukas nyonya Fira yang kini lebih mementingkan sang anak daripada pekerjaannya.


"Syukurlah! besok aku akan meminta pilot tuan Immanuel menjemput ibu dan mengantarmu ke pulau ini," jelas sang mafia, dia merasa lega karena banyak yang akan menjaga Laras.


"Baik, Lex, aku ingin berbicara dengan anakku," pinta sang ibu mertua.


"Baik bu," jawab sang mafia yang menyerahkan ponselnya kepada Laras.


Laras menerima ponsel itu, ibu dan anak itu terlibat perbincangan yang hangat.


"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya nyonya Fira.


"Baik, ibu sendiri bagaimana?" jawab Laras, raut wajahnya terlihat bahagia. Sudah seminggu ini, Laras sulit menghubungi nyonya Fira karena padatnya aktivitas sang ibu.


"Aku baik juga, Laras apa kau bahagia akan menjadi seorang ibu?" tanya nyonya Fira penasaran.


"Sangat bahagia ibu, aku akan memiliki anak dari pria hebat yang sangat aku cintai," Laras menatap wajah sang suami yang tak henti memandangnya.


"Wow! sehebat itukah dia? aku tidak percaya," ledek sang ibu.


"Haha, dia memang hebat dalam segala hal ibu," jelas Laras, ibu hamil itu menahan tawanya, ia merasa jika sang ibu ingin membandingkan sang ayah dan suaminya.


"Lebih hebat suamiku, Alex terhebat nomor dua saja," Nyonya Fira masih menggoda Laras.


"Haha, aku sudah menduga jika ibu akan membandingkan ayah dengan suamiku, ya aku mengalah, tapi suamiku nomor satu di hatiku," Laras mencium tangan kekar sang mafia yang sedang menggenggam tangannya.


"Sayang? jadilah isteri yang terbaik untuk suamimu, jaga keharmonisan keluarga kecil kalian, percaya dan yakin kepada suamimu, kelak jika kau menjadi seorang ibu, jadilah wonder mommy untuk anak-anakmu, jaga kesehatan ya nak? ibu doakan kau dan anakmu sehat, memiliki anak yang cerdas dan lincah," ucap nyonya Fira menunjukkan sisi keibuannya

__ADS_1


"Baik ibu, terimakasih atas saran dan doanya, sangat berarti untuk kami," ucap Laras sembari menyenderkan kepalanya di pundak sang mafia.


...* * *...


__ADS_2