
[Bab sebelumnya (Mati kau Raf l) sudah aku revisi ya gaes, cuz baca lagi (bagi yang belum) soalnya nyambung di bab Mati kau Raf (ll)]
Maaf othor oleng jadi up bab double 🙏
.
.
.
Raf merasakan sakit hati yang teramat saat mengetahui fakta mengenaskan ini. Jadi, apa yang ia dengar, bukan suatu kebenaran. Padahal dia berharap jika Juna yang merenggut kegadisan Laras, ini akan menjadi senjata bagi Raf untuk menjatuhkan Alex. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Pria sombong yang mulai luntur kesombongannya itu merasakan kepedihan.
"Mengapa kau diam? apa semuanya belum cukup? masih ingin merasakan tembakan?"
Sang mafia mengeluarkan pistol yang sudah ia persiapkan.
"Satu atau dua peluru?" ucap Alex sembari memainkan pistolnya.
Raf berusaha bangkit, namun sang mafia langsung menginjak kakinya.
"Aw!" pekik Raf, rasa sakitnya tak tertahankan.
Alex semakin menekan kakinya di atas punggung tangan Raf, namun pria itu tidak bergeming.
"Selamanya aku akan mencintai Laras! meskipun kau membunuhku! aku tidak perduli!" Mendengar ucapan Raf, sang mafia panas dingin, tetapi sang mafia masih bisa menahan emosinya.
"Seperti itu kah? cintamu kepada istriku?" tanya Alex. Dia melepaskan tekanan kakinya di punggung tangan Raf yang tulangnya hampir remuk itu.
"Lebih besar, saat aku meniduri banyak gadis, dia selalu dalam bayanganku, haha. Kau pasti sangat kesal bukan? melihatnya bergerak erotis di atasku, kulit mulus dan hah!! rasanya luar biasa, apalagi langsung meniduri istrimu dengan tubuh yang nyata, bukan hanya sekedar fantasi, pasti lebih nikmat!"
__ADS_1
Bug!
Bug!
Bug!
Kemarahan Alex sudah di ubun-ubun karena ini mengenai Laras, istri tercintanya. Tidak ada orang lain yang boleh menyentuh atau membayangkan sang istri selain dirinya.
Amarahnya memuncak, dia menghajar habis-habisan pria licik nan sombong di depannya itu.
Darah segar memenuhi lantai ruang peradilan, suasana hening, tetapi terus saja terdengar suara pukulan sang mafia kepada Raf.
Berulang kali Alex membanting tubuh hina itu, dalam mengeksekusi Raf, dia membungkam mulutnya.
"Antar aku ke neraka!" pinta Raf.
"Tidak semudah itu!"
Satu tembakan mengarah ke arah kaki kiri Raf, dia benar-benar merasa kesakitan.
"Kau akan tahu siapa aku sebenarnya!"
Alex membiarkan pria itu di dalam ruang peradilan. Membiarkan pria sombong itu mengumpat.
"Bunuh aku Lex!"
BRUAK!
Alex membanting pintu dan segera mengunci ruang peradilan.
Dia puas melakukan ini, sang mafia ingin pria menyebalkan itu tewas secara perlahan.
__ADS_1
"Hah! muak sekali melihat wajahnya! sudah babak belur seperti itu, nyalinya masih besar juga. Kita lihat, sampai berapa jam nyawanya akan tetap bersemayam di raga orang psikopat seperti dia," ucap sang mafia dengan senyum menyeringai.
Drrt...Drrt...drrrt...
Ponsel sang mafia berdering, dengan tangan bersimbah darah, Alex mengambil ponsel yang ada di saku celananya, saat melihat nomor sang ibu mertua terpampang nyata di ponsel miliknya, senyum manisnya langsung mengembang sempurna.
Dia menjawab panggilan telepon itu.
"Halo sayang! kau sedang melakukan apa?" tanya Alex mesra.
"Sayang kepalamu! aku ibumu!"
Seketika tawa Alex pecah, padahal dia sudah mengucapkan kata-kata itu dengan penuh perasaan.
"Hahaha, maaf ibu, aku terlalu bersemangat, aku mengira kau adalah Laras," jelas Alex merasa malu sendiri.
"Lex, kau kemarilah! ada masalah besar, ini mengenai istrimu!"
Deg
"Oke, aku akan segera datang!"
Dengan anggota tubuh penuh noda darah, sang mafia segera menyusul sang istri.
.
.
.
.
__ADS_1
Wah Laras kenapa ya? 🤔