
"Tuan, dimana kedua orang tuaku?" Tanya Laras.
"Kau ikuti saja aku, kau jangan jauh-jauh dariku, kau mengerti?" Pinta Alex.
"Kau itu selalu bicara omong kosong, aku mau pergi kemana, ini kan tempatmu, mana mungkin aku bisa pergi jauh." Jawab Laras.
"Gadis kesayanganku ini sangat menggemaskan." Ucap Alex sambil mencubit kedua pipit gadis mungil itu.
"Kenapa kau jadi seperti teman-temanku, selalu mencubit pipiku, saat bilang aku begitu menggemaskan." Jawab Laras kesal.
"Iya, gadis cantikku, tidak perlu marah untuk hal sepele, oke?" Pinta Alex.
"Hm." Jawab Laras yang masih merasa kesal.
Alex membawa Laras menuju ruangan khusus untuk para tamu penting yang datang ke markas utama Death Angel. Dengan keyakinan penuh, kedua pasangan kekasih itu masuk ke dalam ruangan itu dan menemui kedua orang tua Laras.
Alex kini merasa sangat bahagia karena keinginan untuk bersama sang kekasih akan segera terwujud. Dia yakin Tuan Hans akan merestui hubungan mereka berdua.
KLEK...
Saat pintu ruangan itu terbuka, Tuan Hans dan Nyonya Fira terkejut dengan kedatangan sang putri bersama pria pilihan hatinya. Alex dan Laras berjalan mendekati Tuan Hans dan Nyonya Fira.
"Apa kau betah di sini Tuan Hans?" Tanya Alex sembari mengajak duduk Laras di sampingnya.
"Tidak karena kau yang telah menyelamatkanku, jadi aku tidak betah." Jawab Tuan Hans ketus.
"Kau masih kesal padaku Tuan Hans?" Tanya Alex.
"Tanyakan kepada gadis di sampingmu itu, apa yang telah dia perbuat hingga membahayakan nyawa kedua orang tuanya." Ucap Tuan Hans.
Suasananya menjadi tegang, Tuan Hans masih bersikeras dengan keegoisannya, sedangkan sang putri tercinta dengan perasaannya.
Nyonya Fira mencoba menengahi masalah kedua anak dan ayah itu, tetapi Tuan Hans terlalu keras kepala.
"Apa yang kau inginkan Tuan Hans?" Tanya Laras sambil menatap tajam sang ayah.
"Aku hanya ingin putri kecilku bahagia."
Deg..
__ADS_1
Deg..
Jantung Laras seakan berhenti berdetak, selama dia hidup, sang ayah tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali, yang dia tahu hanya bekerja. Tuan Hans terlalu terobsesi dengan pekerjaannya itu. Apalagi sejak tertangkapnya Alex, dia semakin getol untuk memenjarakan bos mafia itu. Hingga dia lupa dengan masa depan gadis kecilnya. Tapi kini sang ayah mengatakan hal yang membuatnya kembali menatap sang kepala polisi itu dan memanggilnya dengan sebutan "ayah" yang sebenarnya.
"Maksud ayah?" Tanya Laras harap-harap cemas.
"Aku memang tidak menyukai mafia sialan ini. Tapi saat aku di sekap oleh Tuan Xiauling dan Alex menyelamatkanku, aku merasa ada hal lain yang tidak aku ketahui dari bos mafia seperti kekasihmu itu.Dia satu-satunya pria yang begitu mencintai anakku. Dia bahkan bertaruh nyawa untukku dan Fira. Aku merasa senang ada pria selain diriku yang begitu mencintai keluargaku. Alasan tidak setuju dengan hubungan kalian adalah status mafia yang Alex sandang, cukup klasik bukan? orang tua mana yang ingin anaknya sengsara? kehidupan seorang mafia itu tidaklah mudah, tiap hari menantang maut. Akan selalu ada pertumpahan darah di dalam setiap pertarungan. Aku hanya ingin putri kecilku hidup bersama pria yang benar-benar di cintainya dan juga mencintainya. Seorang pria mapan dengan kehidupan normal, tetapi yang aku pikirkan tidak sejalan dengan kenyataannya. Pilihan yang di buat oleh anakku sangatlah sulit untukku terima. Pada akhirnya aku harus mengalah pada takdir dan memberikan kalian restu , tetapi restu yang ku berikan tidak semudah itu. Alex harus memenuhi syarat yang sudah ku tentukan untuk menjadi bagian dari keluargaku."
Jawaban Tuan Hans seperti angin segar bagi kedua pasangan kekasih itu, mereka tidak sabar mengetahui syarat yang akan di ajukan oleh sang kepala polisi itu.
"Maafkan aku ayah, aku terlalu menyebalkan untuk menjadi anak gadismu. Tetapi percayalah, jika aku tidak bisa marah denganmu terlalu lama. Aku sangat menyayangi ayah dan ibu."
Laras kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mendekati kedua orang tuanya, Laras memeluk erat ibu dan ayahnya. Gadis itu seakan kembali ke dunia masa kecilnya, rasa kasih sayang kedua orang tuanya kini bisa dia rasakan kembali.
"Ayahmu juga minta maaf kepadamu, ayah tidak memperhatikan dirimu selama ini. Aku mohon kau tidak membenci ayahmu ini." Ucap Tuan Hans.
"Tidak ayah, aku tidak membencimu ataupun Ibu. Aku tetap putri kecil ayah yang akan marah saat ayah tidak menuruti kemauanku dan akan bersedih saat ayah memarahiku. Tapi saat aku bertemu dengan Tuan Alex, putri kecil ayah telah banyak belajar tentang arti kehidupan, tentang pentingnya peranan keluarga dalam membangun karakter anak. Aku memang hidup di keluarga normal, tetapi kehidupanku tidak normal. Sejak kecil aku hanya tahu apa yang aku ingin harus terpenuhi, aku hidup bersama seorang baby sitter di sampingku tiap hari, Ibuku sibuk dengan semua kolega dan pekerjaannya. Apakah ibu dan ayah tahu jika kehidupan keluarga Tuan Alex lebih baik dari keluarga kita? Tuan Alex hidup dalam kehangatan keluarga dan dia rela melakukan apapun untuk kedua orang tuanya, bahkan hal-hal sederhana yang tidak akan pernah kita lakukan, menjadi hal yang berharga untuk mereka." Jawab Laras.
Laras melepas pelukannya, mereka bertiga kini duduk bersama di sofa yang sama dengan saling memegang erat tangan masing-masing.
"Suamiku? apa kau menangis?" Tanya Nyonya Fira yang mendengar suara sang suami seperti menahan tangisnya.
"Lihatlah dirimu, kau pria batu yang akhirnya bisa menangis. Kau bukan pria yang pandai berbohong." Ejek Nyonya Fira.
"Istriku, kau tidak pernah tahu jika pria batu ini bisa menjadi pria selembut sutera saat membicarakan kebahagiaan putri tercintanya." Jawab Tuan Hans.
"Cih, siapa sangka kau mengetahui hal semacam itu."
Mereka bertiga tersenyum, tampak raut kebahagiaan di mata keluarga polisi itu. Sejak tadi Alex menjadi penonton, dia ikut merasakan kesedihan dan kebahagiaan keluarga kecil di depannya itu.
"Tuan Hans, katakan syarat yang harus aku penuhi jika ingin bersama dengan putrimu." Ucap Alex.
"Kalian hiduplah dengan bahagia, apapun keadaannya janganlah berpisah. Karena takdir kalian berdua memang harus bersama." Jawab Tuan Hans.
"Hanya itu?" Tanya Alex.
"Jika kau masih melakukan hal yang melanggar hukum, aku tidak segan-segan untuk menghukum dirimu seberat-beratnya. Jangan membuat anakku dalam masalah ataupun menderita karenamu, bisa jadi kau akan tewas di tanganku dengan segera." Jawab Tuan Hans.
"Apa benar hanya itu? aku harap kau berkata jujur dan tidak membuat kebohongan. Bisa jadi kau akan mengangkat senjatamu saat aku lengah." Goda Alex.
__ADS_1
"Kau memang pria sialan yang sangatlah cerdas, kau pantas menjadi calon menantuku. Kau sudah menghitung segalanya, tetapi aku bukan pria pembohong seperti yang kau pikirkan. Tenang saja, aku hanya akan mengangkat tinggi-tinggi tubuh cucu-cucuku kelak dan bermain dengan mereka.Segeralah kalian menikah, dan bangun keluarga kecil yang bahagia." Pinta Tuan Hans.
"Kau pria tua sialan, setelah memberi restu kau langsung menyuruh kami menikah dan memberimu cucu, apa itu tidak terlalu cepat?" Ucap Alex.
"Lalu apa yang kau tunggu?" Tanya Tuan Hans.
"Aku akan menikahi Laras saat semua musuhku tiada, aku tidak ingin dia seperti diriku, hidup dalam jeratan dunia mafia seumur hidup. Aku akan mengajak Laras dan kalian berdua pergi dari kota ini, kita akan hidup bersama di pesisir pantai yang indah. Itu adalah impianku." Jawab Alex.
"Wah, kau cukup elegan untuk merangkai masa depanmu, oke, aku setuju. Apa kau butuh bantuan dari kepolisian untuk membantu melibas semua musuhmu?" Tanya Tuan Hans.
"Tidak perlu Tuan Hans, aku tidak ingin melibatkan kalian berdua di dalam urusanku, kalian hanya perlu memberikan restu kepada kami berdua."
Tuan Hans menyetujui permintaan Alex, namun nyonya Fira meminta satu hal kepada Alex agar dirinya di izinkan tinggal bersamanya dan Laras di markas utama karena dia tidak memiliki pekerjaan lagi, semua aset perusahaannya telah menjadi milik Tuan Xiauling.
"Itu terserah Tuan Hans saja, jika dia mengizinkan nyonya Fira tinggal di sini, aku dengan senang hati menerimanya. Soal perusahaanmu itu, aku akan berusaha merebutnya kembali, nyonya." Jawab Alex.
Tuan Hans tidak mengizinkan sang istri untuk tinggal di markas utama Death Angel karena dia akan kesepian.
Setelah mendapatkan restu dari "musuh" nya, Tuan Hans meminta Alex untuk mengantarnya kembali ke kota. Dia memiliki banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
Alex meminta Willy untuk mengantar calon mertuanya kembali ke kota. Mereka berempat saling berpelukan sebelum Tuan Hans dan Nyonya Fira pergi.
"Nak, kau baik-baik di sini. Jika kau rindu kami, pulanglah kerumah." Ucap Nyonya Fira.
"Baik Ibu, Ibu tolong urus kuliahku, aku ingin berhenti kuliah." Pinta Laras.
"Jangan berhenti, kau pergilah bersama kedua orang tuamu pulang ke rumah. Kau selesaikan pendidikanmu." Jawab Alex.
"Apa yang kau katakan itu benar Tuan?"
Laras terlihat sangat bahagia, akhirnya dia bisa menjalani kehidupan normal tanpa harus berpisah dengan sang kekasih. Sebelum pergi, dia ingin bertemu Angela. Tetapi Alex melarangnya, dia bilang tidak ingin melihat para gadis menangis di markasnya.
"Sial, kau begitu kejam sayangku. Kau begitu melindungi harga diri markasmu ini." Umpat Laras.
"Diamlah dan masuk ke dalam mobil bersama kedua orang tuamu, aku akan menyuruh beberapa anak buahku untuk menjaga keluargamu karena Tuan Xiauling tidak akan pernah tinggal diam saat mengetahui diriku hidup bahagia bersamamu."
Alex mengecup kening Laras dan memeluknya erat, dia mengatakan jika hanya Laras di hatinya dan akan selalu seperti itu selamanya. Laras menjadi gadis yang sangat bahagia hari ini, semua impiannya telah terwujud.
Setelah kepahitan hidup yang di alaminya, kini sang gadis benar-benar mampu bangkit dan menatap secercah harapan baru di depannya. Dia mendapatkan cinta dari seorang pria yang mencintainya tanpa batas.
__ADS_1