
Gerald sedang membayangkan betapa bahagianya jika bisa bersanding dengan Laras Nugraheni di pelaminan, dia akan menjadi pria paling beruntung di seluruh dunia karena memiliki isteri yang baik dan lembut seperti Laras. Namun angan-angannya buyar seketika saat sang anak buah menghentikan mobil secara mendadak.
"Sialan! kau bisa menyetir tidak? kau hampir membuatku terbentur!" umpat Gerald.
"Maaf bos, baru saja aku melihat ada seorang gadis melintas di depan mobil kita, aku khawatir dia tertabrak, jadi aku menginjak rem secara mendadak," jelas sang anak buah.
"Kau turunlah, periksa apa yang terjadi," perintah Gerald.
"Baik bos!" jawab anak buahnya.
Sang anak buah turun dari mobil dan segera memeriksa apa yang terjadi, alangkah terkejutnya sang anak buah saat melihat ada seorang gadis terkapar tak berdaya di depan mobil sang bos. Dia segera melapor kepada Gerald.
"Bos! ada seorang gadis di depan mobil kita!" ucap sang anak buah.
"Apa kau bilang? dia masih hidup atau sudah mati?" tanya Gerald panik.
"Dia sepertinya masih hidup bos," ucap sang anak buah.
"Periksa lagi! aku tidak ingin berurusan dengan pihak kepolisian karena insiden tidak penting ini!" perintah Gerald.
"Baik bos!" jawab sang anak buah.
Anak buah Gerald kembali menemui gadis yang terkapar tak berdaya di depan mobil sang bos, setelah memeriksa sang gadis, ternyata tidak ada luka lain di tubuh gadis tersebut, selain luka lecet di lengannya yang sudah mulai mengering, kuat dugaan sang gadis terkejut saat ada mobil dan pingsan begitu saja.
"Bos! dia masih hidup, dia tidak tertabrak mobil, dia hanya terkejut, luka di lengannya sudah ada sebelum dia pingsan, karena tidak di temukan ceceran darah di manapun," lapor sang anak buah.
"Merepotkan sekali, bawa saja dia ke apartemenku, kita tunda rencana bertemu ayah dan ibu, kita urus gadis ini dulu," perintah Gerald.
"Baik bos," jawab sang anak buah.
Sang anak buah mengendong tubuh gadis itu dan meletakkannya di jok belakang mobil bersama sang bos.
"Hey kau! mengapa kau meletakkan gadis ini di jok belakang?" protes Gerald.
"Maaf bos, biar saya pindah di jok depan gadis itu," ucap sang anak buah.
"Sudahlah, kau ini membuatku repot saja, cepat kemudikan mobilnya!" perintah Gerald.
"Baik bos!" jawab anak buahnya sembari mengemudikan mobil menuju apartemen Gerald.
Di sepanjang perjalanan menuju apartemen, Gerald terpesona dengan kecantikan gadis yang ada di sampingnya itu.
"Bos? kau sepertinya menyukai gadis itu?" tanya sang anak buah yang melihat dari spion tengah mobil bahwa Gerald sedang menatap kagum kepada sang gadis.
__ADS_1
"Hey, diamlah! aku hanya memeriksa, dia terluka atau tidak," jawab Gerald kikuk.
"Mengapa kau tidak tinggalkan saja dia di jalan bos? bagaimana jika dia sebenarnya mata-mata? akan sangat berbahaya bagi geng kita," tukas sang anak buah.
"Kau lama-lama kurang ajar ya! kau bisa diam tidak? terserah aku mau bawa dia kemana? ini juga salahmu! kau yang meletakkan dia di jok belakang, kau juga tidak pandai menyetir hingga membuat gadis ini terkejut!" jawab Gerald melimpahkan semua kesalahan kepada sang anak buah.
"Maaf bos," ucap sang anak buah.
Anak buahnya geli melihat Gerald yang salah tingkah saat ketahuan memandang sang gadis cantik di sampingnya itu.
...* * *...
Di Paradise Land...
Alex masih gusar saat sang isteri diam saja, dia membujuk agar Laras tidak marah lagi padanya, tetapi usahanya sia-sia, sang isteri diam seribu bahasa saat sang suami mencoba meredamkan amarahnya.
"Sayang? sampai kapan kau akan diam?" tanya bos Alex.
Laras tidak bergeming, dia masih dengan kesibukannya mencuci piring dan beres-beres di dapur.
"Aku bantu ya?" pinta bos Alex.
Laras masih diam, saat dia ingin membantu sang isteri, tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering.
"Mau apa kau menghubungi suamiku?" tanya Laras.
"Maaf nyonya, saya dokter Ikram, teman dari tuan Alex Fernando. Bisakah anda memanggil suami anda? ada urusan penting yang harus saya bahas dengannya," jawab dokter Ikram.
"Alex adalah suamiku, apapun hal yang berhubungan dengannya, juga menjadi urusanku, katakan saja semuanya padaku," tukas Laras emosi.
"Maaf nyonya, tapi...," Belum sempat dokter Ikram selesai berbicara, Laras sudah memotong pembicaraan.
"Jika hal penting yang ingin kau bahas adalah Livy, maaf! suamiku tidak punya waktu!" Seketika Laras menutup panggilan itu dan menyerahkan ponsel tersebut kepada sang suami.
"Kau tidur di luar malam ini! kau paham!" tukas Laras sembari berjalan cepat menuju kamar utama.
BRUAK!
Dia membanting pintu kamar utama dan menguncinya dari dalam, tuan Hans yang sedari tadi hanya diam melihat pertengkaran keduanya, akhirnya buka suara.
"Biarkan saja dia seperti itu, sejak kecil, saat dia marah memang menyeramkan!" ledek tuan Hans sembari bermain laptopnya.
"Kau tahu jika dia marah, tapi tidak memberikanku pencerahan! mertua macam apa kau tuan Hans?" ucap Alex kesal.
__ADS_1
"Haha, kurang ajar sekali mafia ini," jawab tuan Hans.
"Katakanlah sesuatu ayah mertua, aku tidak mau nanti malam tidur di luar, nasib baby A ku bagaimana?" rengek Alex.
"Kau mafia atau bocah? seperti anak kecil saja," ledek tuan Hans.
"Terserah apa katamu, beri aku cara agar isteriku tidak marah lagi," pinta bos Alex.
Saat sang ayah mertua ingin mengatakan caranya, bos Alex mendapat panggilan telepon lagi dari dokter Ikram.
"Ada apa lagi?" tanya bos Alex.
"Isterimu dimana?" ucap dokter Ikram.
"Dia marah karena ulahmu, apa yang ingin kau katakan! cepat katakan!" jawab Alex emosi.
"Sial sekali aku hari ini, aku hanya ingin memberitahu jika Livy kabur, tetapi isterimu marah-marah padaku, setelahnya kau juga marah padaku," gerutu dokter Ikram.
"Ha? kabur? bagaimana bisa? cari dia cepat!" ucap Alex.
"Aku sudah lapor polisi, tetapi belum ada kabar, jadi aku mengatakannya padamu, aku sangat berharap kau bisa membantu," jelas dokter Ikram.
"Kau tenanglah, aku akan membantumu mencarinya," tukas bos Alex.
"Terimakasih, sudah ya, aku tutup panggilanku, aku khawatir jika isterimu tahu, dia akan memarahiku lagi," pamit dokter Ikram.
"Haha, baiklah!" tawa bos Alex.
Saat bos Alex ingin menelpon seseorang, sang ayah mertua menggodanya.
"Bagaimana istrimu akan berhenti marah jika kau terlalu baik dengan gadis lain," celetuk tuan Hans.
"Ayah mertua, dia adalah tanggung jawabku, bukan tanpa alasan jika aku perduli padanya," jawab Alex.
"Hahaha, terserah kau saja," ucap tuan Hans beranjak dari tempat duduknya.
"Kau mau kemana? kapan kau akan memberitahu cara agar Laras tidak marah padaku lagi?" tanya Alex.
"Nanti saja ya, aku masih banyak pekerjaan," goda tuan Hans.
"Ayolah ayah mertua! bekerjasama 'lah!" pinta bos Alex.
"Setelah aku selesai membahas masa depan Dounghun Farmasi bersama Fira, setelah itu, aku akan memberitahu caranya," ucap tuan Hans yang langsung menemui sang isteri di kamar tamu.
__ADS_1
'Apa aku salah terlalu perduli dengan Livy?" bantin Alex resah.