
"Haha, kau kalah telak Lex, makanya jangan usil!" ucap sang istri ikut menertawakan Alex.
"Aku rindu padamu, apa itu sebuah kesalahan?" Alex menatap wajah sang istri dengan wajah memelas.
"Nanti di rumah, kau tidak perlu takut untuk bermesraan, kan ada ayah dan ibu. Kita bisa keluar sebentar, menikmati momen berdua, bagaimana? kau setuju kan?" bisik sang istri penuh kasih sayang.
"Oke! jika ada hal seperti itu yang kau pikirkan, aku akan bersabar!" Alex mencoba menahan dirinya karena sang istri menjamin akan ada Quality-Time untuk mereka berdua.
"Sayang?" panggil sang mafia lirih.
"Ya, sayang, ada apa?" jawab Laras sembari memandang wajah sang suami. Dia melihat ada kesedihan di sorot mata Alex.
"Kau sedih?" imbuh Laras langsung merespon apa yang ia lihat.
"Iya," jawab sang mafia singkat, kini suasananya menjadi lebih melow.
"Jika waktu itu Erland tidak datang, pasti aku sudah..." Belum sempat sang mafia melanjutkan ucapannya, Laras lebih dulu memeluk tubuh kekar itu, ia mendekapnya dengan erat.
"Tidak akan terjadi sesuatu kepadamu! kau tidak boleh mati! kau harus hidup bersamaku hingga anak-anak dewasa, menikah dan kita memiliki banyak cucu. Aku ingin selalu bersamamu! kau tahu? saat mau pergi, rasanya hidupku sudah berakhir, namun anak-anak dan semua orang yang perduli dan sayang kepadaku, menguatkanku!" Laras meluapkan apa yang ada di hatinya, tidak ada yang lebih berharga di bandingkan apapun selain Alex dan anak-anaknya.
"Sayang, maaf aku ceroboh waktu itu! aku akan lebih berhati-hati." Sang mafia menenangkan sang istri dengan mengusap lembut pundaknya, dia merasa bersalah jika harus mengalami hal yang sama di kemudian hari karena kecerobohannya.
Beberapa menit kemudian, Laras tertidur di pelukan sang mafia. Wanita itu terlihat sangat lelah, Alex memahami hal itu dengan benar.
"Tidurlah sayang, aku akan setia menjadi sandaran jiwa dan ragamu," ucap Alex yang juga mencium kening Laras mesra.
Sementara itu, kelima anaknya masih sibuk bermain rubik, jadi fokus mereka ke permainan tersebut. Berkah untuk Laras dan Alex yang bisa bermesraan dan mengobrol meskipun terbatas.
Saat sang mafia sedang menikmati momen berdua bersama sang istri, tiba-tiba saja ponsel sang istri berdering.
"Siapa yang menghubungi istriku? biasanya dia tidak mendapatkan telepon dari siapapun saat bersama denganku?" Alex penasaran dengan orang yang menganggu Laras istirahat, ia berinisiatif untuk mengambil ponsel yang berada di dalam tas kecil milik sang istri.
"Halo, siapa ini?" tanya Alex dengan suara yang berkharisma.
"Apakah ini benar nomor ponsel Laras Nugraheni?" tanya penelepon dengan suara seorang pria.
"Siapa kau?" Alex mulai marah, dia tidak suka ada pria lain menghubungi nomor ponsel sang istri.
"Aku Rafles, teman kuliah Laras. Aku sedang berada di New York, bisa kah kau memberikan ponsel ini kepada Laras? aku sangat merindukannya, sudah lebih dari 7 tahun aku tidak bertemu dengannya."
Mendengar permintaan sang pria yang mengaku teman kuliah sang istri, membuat hatinya panas. Dia terbakar api cemburu.
"Aku suaminya dan jangan menghubungi Laras lagi jika kau masih ingin hidup!"
Tut...tutt..tutt..
Alex menutup panggilan ponsel itu kemudian sang mafia membuka jendela mobil, dengan santainya sang mafia membuang ponsel Laras begitu saja.
Tuan Hans melihat dari spion tengah mobil jika wajah Alex sangat murung. Dia kemudian bertanya kepada menantu mafianya.
"Lex? kau baik-baik saja?" tanya Tuan Hans yang merasa Alex sedang marah.
"Tidak ada apapun ayah, kau fokus saja menyetir," pinta sang mafia dengan membuang mukanya ke arah luar jendela.
__ADS_1
"Aku tahu kau marah, tetapi apa sebaiknya kau tahan, ada anak-anak."
Ucapan sang kakek di jawab oleh Aarav.
"Kami anak-anak pura-pura tidak mendengar dan mengetahui apapun, lakukanlah apapun daddy. Tapi jangan berisik, jika daddy cemburu, jangan membuang ponsel mommy! cari pria itu dan beri pelajaran!"
Ide cerdas yang terlontar dari mulut mungil Aarav, namun sikap dewasa Aarav kena semprot daddynya.
"Kau masih kecil Ar, main rubik dan fokus!" pinta sang mafia yang tidak ingin anaknya itu menjadi sok dewasa sebelum waktunya.
"Baik daddy," jawab Aarav yang selalu patuh dengan kedua orang tuanya.
Sang mertua hanya menahan tawa saat anak dan daddy saling berdebat.
"Alex dan Aarav memang, daddy dan anak sejati," ucap Tuan Hans sembari menatap wajah Nyonya Fira yang juga memejamkan matanya.
"Ini juga, sama saja," imbuh Tuan Hans sembari tersenyum, melihat sang istri yang tidur dengan nyenyak dan air liur yang menetes dari sudut bibirnya.
Dengan tangan kanan memegang stir mobil dan tangan kiri mengambil tisu di dashboard mobil, sang kepala polisi mengelap air liur itu dengan perlahan.
Dia teringat akan masa mudanya dulu, saat sang istri masih menjadi kekasihnya.
Waktu itu, Nyonya Laras tertidur di dalam bus, wanita itu bersandar di pundak Tuan Hans. Niatnya romantis, sembari berpegangan tangan, tapi hal yang tidak terduga terjadi, sang istri meneteskan air liur di pundaknya, bukan hanya itu, Nyonya Fira juga mengigau dan mengeluarkan suara berisik saat terlelap tidur, membuatnya merasa malu karena penumpang di bus itu menatap ke arahnya.
"Haha, aku tiba-tiba ingat waktu itu, untung kau cantik! kalau tidak sudah aku tinggal di dalam bus sendirian!" ucap Tuan Hans gemas sendiri dengan sang istri yang meski sudah tidak muda lagi, masih tetep cantik paripurna.
Alex mendengar sang mertua tertawa dan berbicara sendiri, kemudian dia merespon.
"Ayah, kau itu seperti orang tidak waras!" celetuk sang mafia.
"Mereka sedang tidur ayah, tidak masalah mengatakan hal yang buruk sekali. Lebih baik ayah fokus menyetir, fokus ke arah jalan bukan ke arah ibu mertua," sindir Alex yang sedari tadi mengamati jika sang ayah mertua sedang kasmaran.
Tuan Hans tidak menjawab, telepon memilih untuk fokus menyetir aja, karena meladeni Alex sama saja mengajak perang.
Alex terus aja menggoda ayah mertuanya.
"Ayah, kau harus menjaga istrimu, jangan sampai dia berpaling!" Alex sebenarnya mengetahui jika sang ayah mertua dan ibu mertuanya saling mencintai, tidak ada keinginan keduanya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Meskipun, itu ada kesempatan.
"Haha, kau membicarakan dirimu sendiri? ayah mendengar kau mengobrol dengan Rafles di panggilan telepon kan?" Tuan Hans ternyata mengetahui perbicangan antara dirinya dan teman kuliah Laras.
"Hm." Mendengar ayah mertua menyebut nama Rafles, membuat sang mafia kesal.
Dia tidak berminat membahas Rafles, sang mafia memilih untuk memejamkan matanya.
Namun, Tuan Hans membeberkan beberapa fakta tentang Rafles, pria yang sempat melamar Laras tanpa sepengetahuan gadis itu. Karena hanya Tuan Hans yang tahu.
"Rafles itu adalah pria tampan dan kaya. Dia seumuran denganmu, jika Rafles menghubungi anakku, pasti ada hal penting yang dia sampaikan. Kau pantas cemburu kepadanya, karena pria itu sudah mengejar Laras sejak duduk di bangku kuliah. Jika Rafles berada di kota ini, pertunjukannya akan lebih seru lagi! Dia adalah anak dari temanku, seorang anggota kepolisian juga. Kau harus berhati-hati Lex, jaga ke istrimu baik-baik," ucap Tuan Hans sedikit memberikan bumbu di setiap apa yang dikatakannya agar sang mafia merasa cemburu terhadap Rafles.
"Cih, Juna saja yang sudah menjadi kekasihnya sudah ku habisi! apalagi dia? menjadi anggota kepolisian bukanlah suatu kebanggaan, jika aku lebih pandai menggunakan senjata daripada mereka semua! cepat atau lambat jika pria bernama Rafles itu masih menghubungi istriku, anggota kepolisian memang mencari masalah denganku dan itu ancaman yang nyata untuk mereka!" jawab sang mafia dengan berapi-api.
"Kau mampu membunuh siapapun tapi tidak untuk Rafles, kau berhati-hatilah dengannya!" ucap Tuan Hans memperingatkan sang mafia.
Alex semakin penasaran dengan sosok Rafles tersebut, dia memikirkan cara untuk mendapatkan akses menemui teman Laras itu.
__ADS_1
Sang mafia mencoba membahas tentang Rafles bersama sang ayah mertua.
"Dia mengatakan sedang ada di New York, ayah mertua bantu aku untuk mendapatkan informasi tentang pria kurang ajar itu." Sang mafia bertindak, dia ingin sekali bertemu pria tersebut yang menurutnya pantas untuk di habisi.
"Terakhir, ayah mendapatkan kabar jika dia bekerja sebagai wakil kepala polisi di kota London, tetapi jika dia berada di New York berarti dia memutuskan untuk kembali ke negara asalnya." Tuan Hans membeberkan fakta tentang Rafles, pria misterius yang penasaran dengan Laras.
Sang kepala polisi mulai resah, jika Rafles kembali ke negara asalnya, sudah pasti ia dan pria itu akan bertemu. Mereka bisa saja menjadi kepala polisi dan wakil kepala polisi, sebuah kerjasama yang tidak diinginkan oleh sang menantu.
"Lex, jika kau menemuinya di kantor polisi kota New York, mungkin saja kau akan segera bertemu dengannya." Tuan Hans menerka-nerka tentang keberadaan Rafles saat ini Di negeri Paman Sam tersebut.
"Jadi maksud ayah, dia bekerja di kantor polisi yang sama dengan ayah? ini sangat menyebalkan." Alex semakin kesal dengan kenyataan yang ada.
"Kau tenang saja Lex, semua biar aku yang mengaturnya. Selain aku, ada Robin yang ikut bersamaku. Aku akan mengajukan permintaan kepada pihak pusat agar Robin yang menjadi wakil kepala polisi, semoga mereka mengabulkan permintaanku, karena aku juga malas bertemu lagi dengan Rafles, akan sangat merepotkanku. Selain keukeuh ingin mendapatkan cinta Laras, pria itu juga memiliki sifat yang licik, beberapa kali Rafles melamar anakku. Tetapi aku sudah mengatakan jika dia memiliki seorang suami, dan suaminya adalah orang yang mampu membunuhnya dalam waktu sekejap. Tetapi bukannya gentar, dia masih saja berusaha dengan keras." Satu lagi fakta yang lebih mengejutkan dari segala fakta yang di ungkapkan oleh Tuan Hans.
Alex mulai berfikir untuk segera menghabisi nya saja, tetapi dia memikirkan anak-anaknya serta sang istri sendiri. Untuk kali ini, rasa cemburunya harus benar-benar redam. Sang mafia akan bermain cantik.
"Kita susun rencana untuk membuatnya menyerah ayah, tapi untuk saat ini aku sedang tidak ingin membunuh orang. Kau saja yang melakukannya ya?" Alex memberikan tanggung jawab membereskan Rafles kepada ayah mertuanya, seketika Tuan Hans tertawa.
"Hahaha, aku ini anggota kepolisian. Dia pun sama, jika kami saling membunuh, orang-orang tidak akan pernah percaya dengan keadilan. Kau serahkan saja kepadaku, tidak perlu langsung dibunuh, penyiksaan adalah jalan yang paling benar. Aku juga tidak ingin melihatnya terus berusaha mendapatkan hati anakku, sedangkan anakku sendiri sudah memiliki anak dan suami yang sangat mencintainya, tidak akan aku biarkan dia menghancurkan rumah tanggamu. Itu janjiku kepadamu Lex!" Tuan Hans sangat serius mengatakan hal tersebut, membuat sang mafia memberikan rasa hormat yang lebih kepada ayah mertuanya.
"Ayah, seumur hidupku, akan terus menghormati dan menghargaimu bukan hanya sebagai kepala polisi, juga sebagai ayah dan kakek dari anak-anakku. Mari kita bekerjasama menjaga keutuhan keluarga kita, tidak masalah aku dan kau di dalam kehidupan ini menjadi mafia dan kepala polisi, yang terpenting dari semua itu adalah kebahagiaan anak-anakku." Alex mulai berfikir dewasa, tidak ada hal selain keluarga yang lebih penting.
Tuan Hans merasa senang saat mendengar Alex mengucapkan kata-kata yang lebih serius dari sebelumnya. Bukan hanya candaan yang terlontar dari mulut keduanya seperti biasanya.
Keduanya berperan sebagai para suami yang sangat mencintai istrinya, tak heran jika Tuan Hans dan Alex memiliki kesamaan dalam urusan cinta kasih kepada anggota keluarganya, terutama kepada istri tercinta. Mereka tidak akan membiarkan anggota keluarganya menjadi korban dari semua musuh yang selalu mengintai.
"Lex, rasanya aneh!" celetuk Tuan Hans ketika berbicara serius dengan sang menantu.
"Apanya yang aneh?" tanya sang mafia merasa heran dengan pertanyaan Tuan Hans.
"Kau dan aku terbiasa berdebat tentang apapun, tetapi kali ini kita sepaham. Ini aneh sekali!" Tuan Hans mengungkapkan apa yang ada di hatinya, sebuah keanehan yang hakiki.
"Haha, apa yang ayah mertua katakan ada benarnya. Aku juga merasa aneh, harusnya kita bermusuhan ya? jika akur, seperti orang lain!" Alex melengkapi ucapan sang ayah mertua dengan candaan serupa.
"Jika istrimu dan Fira mengetahui hal ini, pasti mereka berdua akan mengatakan, bumi sudah bosan berputar melalui porosnya dan akhir dunia sudah dekat! Haha, separah itukah hubungan ayah sebagai kepala polisi dan kau sebagai mafia kejam?" ucap Tuan Hans sembari tertawa, Karena dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Diam kau Tuan Hans! aku menjadi menantumu adalah sebuah akhir dunia, kau paham kan apa maksudku?" Alex mengatakan hal yang membuat tawa Tuan Hans semakin menjadi, membuat cucu, istrinya dan Laras terbangun.
"Hoam! apakah sudah sampai rumah?" tanya Laras sembari menutup mulutnya saat menguap.
"Belum sayang, ayahmu tidak pandai menyetir mobil, sedari tadi lajunya lambat sekali seperti siput." Alex mengomentari cara menyetir sang ayah yang sengaja memelankan laju mobilnya karena sedang membicarakan hal penting dengannya.
Anak-anak yang ikut bangun, kemudian mencari mommy mereka dan meminta Laras untuk duduk bersama mereka. Mau tidak mau, bos mafia itu harus mengalah. Alhasil, hilanglah kesempatan berduaan dengan sang istri kembali.
"Hahahah! sabar Lex!" Suara tawa menyebalkan terdengar dari mulut Tuan Hans.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...