
Setelah selesai dengan saling melepas rindu dan menghabiskan sarapan, Alex mengajak sang kekasih untuk membersihkan diri berdua. Laras menolak, dia masih merasa remuk seluruh badan di sebabkan ulah sang kekasih. Alex memahami Laras, mereka mengenakan helai baju yang berserakan itu dan merapikan penampilan mereka. Setelah rapi, keduanya keluar dari ruang kerja bos Alex.
Keduanya berjalan menuju meja makan dan mendapati kekosongan disana, Angela dan nyonya Fira tidak berada di tempat. Laras membawa piring dan gelas bekas makan dan minum untuk di letakkan di wastafel, dia mulai mencucinya. Namun dengan sigap Alex menggantikan tugas Laras.
"Kau duduklah, kau masih lelah."
Laras menuruti kemauan sang kekasih, dia menatap punggung sang kekasih yang sedang asyik dengan cucian piring di depannya.
"Aku akan pergi ke hutan kota utara setelah ini, kau jaga diri baik-baik." pesan Alex.
"Apa tidak sebaiknya kau tetap tinggal?" jawab Laras berharap.
"Masih banyak tugas yang harus aku lakukan, maaf untuk kali ini, aku benar-benar belum bisa tinggal." ucap Alex.
"Kau berhati-hatilah Tuan." pesan Laras.
Setelah sesi cuci piring selesai, Alex menghampiri Laras dan tiba-tiba mengecup bibirnya. Gadis itu tersenyum melihat tingkah sang kekasih.
"Kau mulai lagi." ucap Laras.
"Untuk beberapa hari ke depan kita akan berpisah, tidak ada salah untuk melakukannya." jawab Alex.
"Kau mandilah dulu sebelum pergi." pinta Laras.
"Apa kau mau ikut?" Goda Alex.
"Tidak, kau akan membuatku gila." canda Laras.
"Tepatnya tergila-gila padaku, itu kan maksudmu?" ucap Alex.
Laras beranjak dari tempat duduknya dan mendorong tubuh Alex menuju kamarnya dan segera menutup pintu itu.
"Segera bersihkan tubuhmu, big baby." canda Laras.
"Baik, sweet baby." jawab Alex.
Laras senyum-senyum sendiri saat mendapati tingkah konyol sang kekasih. Namun di lubuk hatinya yang dalam, dia merasa bahagia. Di saat Laras larut dalam khayalannya, sang ibu mengagetkannya.
__ADS_1
"Laras, kau baik-baik saja?" tanya nyonya Fira.
"Oh, aku baik,Bu. Hanya sedang memikirkan sesuatu saja." jawab Laras.
"Aku kira kau kenapa, dimana bos mafia itu?" tanya nyonya Fira.
"Dia sedang mandi." jawab Laras.
"Angela, apa dia ada di kamar tamu?" tanya Laras.
"Iya, dia sedang ada di sana. Dia ingin aku menemaninya tidur karena semalaman sudah berjaga, aku merasa iba, jadi aku ceritakan dongeng untuknya." jelas nyonya Fira.
"Baguslah kalau begitu." ucap Laras.
Perbincangan anak dan ibu itu terhenti saat pria tampan keluar dari kamar utama. Dia memakai stelan jas hitam dan sepatu pantofel. Mereka di buat takjub juga terpesona dengan penampakan Alex di depannya.
"Calon menantuku, kau luar biasa." puji nyonya Fira.
"Aku kan calon menantumu, pastilah luar biasa." jawab Alex membanggakan diri.
"Ada tugas di hutan kota utara, di sana juga ada Tuan Hans, aku akan mencari Tuan Xiauling di sana." jawab Alex.
"Bagus, segeralah kau habisi Tuan Xiauling sialan itu dan rebut kembali Dounghun Farmasi." pinta nyonya Fira.
"Kau tidak perlu khawatir ibu mertua, semua itu akan segera terjadi." jelas Alex.
"Baiklah." jawab nyonya Fira.
Alex menanyakan keberadaan Angela, nyonya Fira mengatakan jika anak buahnya itu sedang beristirahat. Bos mafia itu kemudian melakukan panggilan telepon kepada anggotanya yang berada di markas dan menyuruh beberapa anggotanya datang ke apartemen untuk menjaga anak dan ibu itu agar tetap aman.
Setelah itu, Alex pamit untuk segera menuntaskan misinya. Laras belum rela jika sang kekasih pergi begitu saja. Dia mendekap tubuh kekar Alex, bos mafia itu mencium kening Laras.
"Aku pergi dulu, kau akan baik di sini. Jaga ibumu, katakan apapun kepada Angela dan anggotaku yang akan segera datang jika kau dan ibumu butuh sesuatu." pinta Alex.
"Baik, tapi kau juga berjanji padaku, agar kau akan baik-baik saja, dan kembali padaku dengan segera." pinta Laras.
"Aku janji." jawab Alex.
__ADS_1
"Hey, aku juga mau di peluk calon menantu tampan dan gagah ini, kau lepas sebentar pelukanmu pada tubuh putriku ini, Lex." canda nyonya Fira.
Alex bergantian memeluk tubuh anak dan ibu mu , sang ibu mertua mengatakan jika dia percaya kepada menantunya, dia ingin segera menimang cucu.
"Segeralah kembali dan nikahi putriku." ucap nyonya Fira.
"Ya, aku akan memberikanmu lima Alex junior, ibu mertua." jawab Alex.
Setelah sesi perpisahan usai, Laras harus benar-benar merelakan sang kekasih pergi. Perlahan namun pasti, sosok itu menghilang dari balik pintu besi.
"Dia pergi juga." batin Laras.
"Putriku? apa kau sedih? marilah duduk bersama, aku akan memberitahumu sesuatu." jawab nyonya Fira.
Mereka berdua duduk di atas sofa, nyonya Fira terlihat sangat serius.
"Nak, kelak kau akan menjalani peran sebagai seorang istri dari pria berstatus bos mafia, kau akan mengalami hal-hal yang tidak terduga di hidupmu. Kau harus menjadi gadis hebat yang akan selalu mendukung Alex di situasi dan kondisi apapun." ucap nyonya Fira.
"Baik, Bu. Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepadamu karena selalu kesal saat ibu mengatakan banyak hal kepadaku, sungguh, bukan karena aku pembangkang atau apapun, namun aku hanya butuh kasih sayang kalian berdua."
Laras memeluk tubuh ibunya erat, dia lupa kapan saat terakhir Ia memeluk sang ibu. Sudah lama tidak merasakan situasi membahagiakan ini, bercengkrama bersama ibunya, di bekali banyak petuah dan kritikan membangun dari sang ibu. Hari ini, dia dan ibunya benar-benar begitu dekat dan akrab hingga tidak terasa air mata jatuh berlinang di mata gadis cantik itu.
"Terima kasih ibu, telah melahirkan dan merawatku, maaf aku belum mampu berbakti dan memberikan hal yang terbaik untukmu." ucap Laras dengan isak tangis sesenggukan.
"Kau sudah menjadi putri terbaikku, Laras. Sejak kau lahir, anugerah itu datang. Kau membawa kebahagiaan di antara aku dan Hans. Kau pelita jiwa kami." jawab nyonya Laras.
"Terima kasih, ibu. Hanya itu yang mampu katakan. Apapun yang akan membuatmu bahagia, akan aku lakukan." jelas Laras.
"Jalani hidupmu dengan baik,Nak. Hiduplah bersama Tuan Alex dengan ikatan pernikahan, agar kau mendapatkan hak yang sebenarnya sebagai seorang istri. Lahirkan lima Alex junior segera, aku sangat ingin bermain bersama cucu-cucuku." pinta nyonya Fira.
"Ibu dan Tuan Alex memiliki sifat yang serupa, sangat senang menyiksaku. Ibu tahu, aku akan merawat lima baby, dan satu big baby yang banyak maunya, ibu tahu?" ucap Laras.
Nyonya Fira tertawa mendengar ucapan sang putri karena dia memahami maksud dari ucapan tersebut.
"Kau harus banyak belajar dariku soal itu, aku lebih berpengalaman."
Laras melirik ke arah ibunya yang masih saja tertawa mengejeknya.
__ADS_1