
Sementara itu di sebuah tempat yang jauh dari jangkauan bos Alex, Gerald mulai menyusun rencana untuk menghancurkan Death Angel meski dirinya juga sedang mencari dimana keberadaan bos Alex. Sahabat Laras itu masih tidak rela jika Alex Fernando yang di pilih oleh sang pujaan hati.
"Sial sekali!" umpat Gerald.
"Ada apa bos?" tanya anak buahnya
"Aku tidak bisa melacak keberadaan Alex dan Laras!" tukas Gerald.
"Bukannya sahabatmu itu sekarang menjadi kekasih bos Death Angel?" tanya anak buahnya.
"Diam kau! sekali lagi bicara tentang hal itu, nyawamu akan hilang di tanganku," jawab Gerald.
"Maaf bos, aku hanya mengatakan fakta yang sebenarnya," jelas anak buahnya.
"Daripada kau banyak bicara, lebih baik kau cari informasi tentang Alex dan Laras, aku ingin sekali melenyapkan pria sombong itu dan membawa Laras kembali padaku," perintah Gerald.
"Baik tuan," ucap anak buahnya.
Sang anak buah mengambil ponsel yang ada di saku celananya, dia menelpon seseorang.
"Tuan Lie?" tanya anak buah itu.
"Ada apa Alvin?" jawab sang penerima telepon.
"Tuan Lie ada dimana?" tanya anak buah Gerald bernama Alvin.
"Aku ada di kota selatan," jawab Tuan Lie.
"Bisa bantu aku mencari bos Death Angel?" tanya Alvin.
"Bisa saja, transfer 100 milyard ke rekeningku, Alex akan ku bawa padamu," jawab Lie.
"Cih! kau masih saja sama seperti dulu, Tien Lie!" ucap Gerald yang kini menjawab telepon.
"Gerald...Gerald...kau masih saja dalam keterpurukan, sejak awal sudah ku bilang, jangan bekerja sama dengan Zhen Ming ataupun Albram Zein, mereka tidak akan pernah membuatmu semakin berkembang, tapi justru membawamu dalam kemunduran, bergabunglah denganku!" ledek Tien Lie.
"Bukan urusanmu!" jawab Gerald.
"Tapi mengapa anak buahmu menelponku?" tanya Tien Lie.
"Karena kami butuh bantuanmu bukan ingin bergabung!" jawab Gerald.
__ADS_1
"Jika kau butuh bantuanku, beri aku 100 milyard itu besok," pinta Tien Lie.
"Aku akan mentransfer 50 milyard, sisanya kau akan mendapatnya nanti setelah Alex dan Laras kau bawa padaku," jawab Gerald.
"Aku minta 80 milyard," pinta Tien Lie.
"Sialan kau!" umpat Gerald.
"Kau mau atau tidak, terserah kau saja, aku masih ada banyak pekerjaan," jelas Tien Lie.
Saat Lie akan menutup teleponnya, Gerald dengan terpaksa menerima tawaran Tien Lie. Hari itu juga Gerald mentransfer uang senilai 80 milyard tersebut, Tien Lie setuju untuk segera mencari keberadaan bos Alex dan Laras.
"Tamat riwayatmu Lex!" ucap Gerald penuh percaya diri.
Alvin merasa senang karena bos Gerald tidak gusar dan gelisah lagi, dia berharap Tien Lie mampu menemukan bos Death Angel dan Laras Nugraheni.
...* * *...
Di Paradise Land...
Saat Alex telah selesai mengobrol dengan kedua mertuanya, tiba-tiba rasa rindu itu kembali menghampiri, tanpa pikir panjang, Alex beranjak dari tempat duduknya dan segera masuk ke kamar utama, sedangkan kedua mertuanya masih berada di sana untuk membahas suatu hal.
"Nyalimu boleh juga!" ucap bos Alex.
"Keluarlah dari tempat persembunyianmu, untuk apa terlalu lama disana, lebih baik jadi pria sejati, datang padaku! mari kita bertarung!" tantang sang penelpon misterius
"Cuh! pria sejati kau bilang? kau saja mengancamku dan menantangku di sambungan telepon menggunakan private number, dasar pengecut! kau harus berkaca dulu sebelum mengatakan banyak hal!" ucap Alex emosi.
"Tenang bos Death Angel! aku belum selesai bicara, perkenalkan... aku adalah sahabat lamamu, Tien Lie," jawab sang penelpon misterius.
"Tak perlu berkenalan, aku sudah tahu jika itu kau!tikus kecil yang sok jagoan!" ledek Alex.
"Terserah apapun yang kau katakan, aku ada perlu denganmu, datanglah ke tempat terakhir kita bertemu lima tahun yang lalu, apa kau masih ingat?" pinta Lie.
"Kau ingin mengajakku minum atau bertarung? langsung saja kepada intinya?" ucap bos Alex.
"Datang saja! jika tidak, kekasihmu akan ku culik dan akan aku jadikan wanitaku!" ancam Tien Lie.
"Coba saja kalau kau mampu! jika pada akhirnya kau akan lenyap di tanganku, lebih baik kau urusi bisnismu yang akan segera hancur itu!" jawab bos Alex langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Suamiku? apa itu kau?" tanya Laras dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Iya isteriku, ini aku, ada apa? kau butuh sesuatu?" tanya Alex.
"Kemarilah! peluk aku, aku ingin tidur di dalam pelukanmu," pinta Laras.
"Baiklah!" ucap bos Alex.
Alex memeluk tubuh polos sang isteri, karena dia sedang memikirkan banyak hal, bos mafia itu tidak menghiraukan mangsa empuk yang ada di pelukan nya itu.
"Siapa tadi yang menelpon?" tanya Laras lembut.
"Oh itu, bukan siapa-siapa, hanya ada masalah kecil, kau tidak perlu mengkhawatirkannya," jawab Alex.
"Tapi sekilas aku mendengar jika orang yang menelponmu itu ingin menghancurkanmu, apa itu benar?" tanya Laras penasaran.
"Simpan semua yang kau ketahui, pejamkan matamu, tidurlah," pinta Alex.
"Iya sayang," jawab Laras yang mempererat pelukannya di dada bidang sang suami.
'Tien Lie, mudah sekali menemukanmu! kau yang datang padaku, ini akan semakin seru!" batin Alex.
Sambil memeluk sang isteri, bos Alex mengirimkan pesan singkat kepada Richi dan Angela.
'Kalian berdua bersiaplah, sore ini aku tunggu di lantai atas, akan aku beri kalian tugas penting, Tien Lie telah menabuh genderang perang denganku, kita harus segera melenyapkannya,' Isi pesan singkat bos Alex.
Beberapa saat kemudian, pesan itu di balas oleh Richi.
'Siap bos!' Balasan pesan dari Richi.
Saat semua beres, Alex meletakan ponselnya dia atas nakas dengan hati-hati karena dia khawatir sang isteri terbangun karena gerakan tubuhnya.
'Siapapun yang mengganggu keluargaku, tidak akan pernah merasakan hidup yang tenang meskipun hanya sedetik saja! Tien Lie, kau telah salah menantang Alex Fernando,' gumam bos Alex.
Untuk beberapa menit, bos Alex masih terjaga, dia merasa ada yang menyentuh miliknya dengan lembut.
"Saat terlelap tidur, isteriku ternyata lebih nakal!" ucap bos Alex.
Sang mafia membiarkan tingkah konyol sang isteri yang tanpa sadar membuat miliknya menegang kembali. Alex masih bisa menahannya, dia menikmati sentuhan itu.
"Dia kacau sekali!" ucap bos Alex yang mulai gelisah, hasratnya kembali menggebu, tapi karena sang isteri masih terlelap tidur, dia berusaha terus menahan diri.
"Kau yang membangunkanku, jangan salahkan aku jika akupun akan membalas perbuatanmu!" tukas bos Alex dengan tangan yang mulai bergerilya.
__ADS_1