Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 55


__ADS_3

Laras mulai membuka kedua matanya, dia terkejut saat melihat sang kekasih duduk di sampingnya dengan wajah penuh kekesalan.


"Tuan? ada apa dengan wajahmu? apa seseorang telah membuatmu marah?" Tanya Laras.


"Menurutmu?" Jawab Alex.


"Iya, menurutku kau kesal karena seseorang telah melakukan sesuatu yang membuatmu marah." Ucap Laras polos.


"Bisa kau jelaskan tentang orang yang menghubungimu tadi?" Jawab Alex sambil menyerahkan ponsel milik sang gadis.


Laras melihat layar ponselnya, di panggilan masuk ada nomor ponsel bernama Juna. Gadis cantik itu mulai menyadari penyebab kekesalan sang kekasih. Alex cemburu saat Juna menghubunginya.


"Astaga, kau marah karena Juna menelponku?" Tanya Laras.


Mata lentik Laras membulat, dia tidak menyangka sang kekasih akan semarah ini hanya karena Juna menelpon dirinya.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Laras.


"Hanya kata-kata tidak berguna, tetapi membuatku kesal. Kau jauhi dia, aku belikan ponsel yang baru." Jawab Alex.


"Tuan, soal nomor Juna di ponselku itu karena waktu pertama kuliah, dosen menyuruhmu menemui Juna, tetapi karena aku malas bertemu dengannya, jadi aku meminta nomor ponselnya dari dosen dan menghubunginya lewat sambungan telepon. Aku menghubunginya hanya karena masalah tugas kuliah, hanya itu Tuan Alex." Jelas Laras.


"Oh ya? apakah benar seperti itu? jika anggapan dari pria sialan itu lain? bagaimana? bisa saja kan?" Ucap Alex masih berkelit dan menganggap Laras memancing Juna untuk mendekatinya lagi.


"Ya Tuhan, kau terlalu jauh berpikir Tuan. Apa perlu aku menelpon dosen yang menyuruhku berurusan dengan Juna? aku tidak percaya, kau begitu menggemaskan saat cemburu." Jawab Laras tersenyum melihat tingkah sang kekasih kini posesif itu.


"Dia sangat berbahaya bagimu, tolong kau hapus nomornya dari ponselmu, mungkin itu akan membuatku sedikit lebih baik." Ucap Alex yang masih memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Laras langsung menghapus nomor ponsel mantannya, dia kemudian memeluk tubuh kekar Alex dan meyakinkan dirinya jika hanya bos mafia saja yang berada di hatinya. Perlahan kadar emosi Alex mulai turun, dia kembali memandang wajah sang kekasihnya yang cantik itu dengan seksama.


"Kau tahu, aku tidak bisa jika ada pria lain yang berada di sekitarmu, kau hanya milikku sayang. Kau mengerti kan apa maksudku?" Jawab Alex.


"Iya, aku tahu. Terima kasih Tuan, telah memberiku cinta yang begitu dalam dan berarti. Tapi jangan marah hanya karena masalah kecil, kau bisa tanyakan padaku apapun, tapi jangan seperti ini. Kau membuatku khawatir." Ucap Laras.


"Baiklah, kau harus menjawab pertanyaan yang ku ajukan." Jawab Alex.


"Tanyakan saja." Ucap Laras yakin.


"Apa yang terjadi di masa lalu antara kau dan Juna?"


Laras tersentak saat sang kekasih memintanya kembali mengingat kejadian kelam yang menimpanya, tetapi demi sang kekasih agar percaya kepadanya, dia menahan rasa sakit itu, dengan tegar, Laras memulai bercerita tentang hubungannya dengan Juna di masa lalu.


"Pertama kali aku mengenalnya, aku masih mahasiswi baru, dia kakak kelasku. Setiap ada kesulitan, dia selalu membantuku hingga kami dekat. Aku memiliki sahabat bernama Clara. Dia juga mengagumi sosok Juna, kami bertiga begitu akrab, hingga peristiwa yang membuat hidupku berubah itu terjadi. Dia mengkhianatiku, Juna pergi bersama Clara dan mencampakkanku begitu saja, aku depresi, ku lampiaskan semua amarahku dengan pergi ke Bar pusat kota dan menenggak beberapa botol minuman untuk menghibur diri. Di Bar itu ada teman laki-laki waktu SMA dulu, kami cukup dekat, aku bercerita segalanya kepada dirinya. Tetapi setelah itu, entah apa yang terjadi tiba-tiba saja aku bertemu denganmu di satu kamar yang sama, dan kau merenggut mahkotaku di sana. Aku merasa hancur dan hina, setelah itu banyak hal yang terjadi kepadaku. Dari mulai Justin, terlibat masalah denganmu dan lain sebagainya. Kalau boleh memilih, aku tidak ingin bertemu dengan Juna, dirimu, ataupun Justin. Kalian hanya pria brengsek yang menyebalkan. Tapi aku memilih untuk menerima takdir, aku tetap bersamamu apapun yang terjadi meski kau tidak jauh berbeda dengan Juna menyebalkan itu tetapi setidaknya kau lebih bertanggung jawab dari pada dirinya." Jelas Laras dengan suara yang bergetar, dia mencoba untuk tetap tenang, namun respon anggota tubuh yang lain berbeda. Butiran air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya.


Alex memeluk tubuh Laras dan meminta maaf kepadanya, dia merasa sangat bersalah karena ikut andil "membuat hancur" hidup Laras.


"Baik sayang, aku berjanji kepadamu." Jawab Alex.


Di saat kebersamaan Laras dan Alex semakin intim, ponsel Alex berdering. Dia menatap layar ponsel miliknya, ada nomor baru yang tertera di sana.


"Siapa yang menelponmu Tuan?" Tanya Laras.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Alex.


"Kau jawab saja, siapa tahu penting." Saran Laras.

__ADS_1


"Sial, siapa juga yang menelponku di saat seperti ini." Umpat Alex.


Saat Alex menjawab panggilan telepon itu, dia terkejut karena suara sang penelpon mirip orang yang kini sedang Ia cari.


"Alex Fernando, pria sok tangguh dan sok berkuasa, apa kabarmu? apa kau baik-baik saja saat timah panas bersarang di tubuhmu?" Ucap sang penelpon.


"Cih, hanya timah panas saja tidak akan membuatku mati, kau terlalu berani untuk kabur, Tuan Xiauling pengecut!!!!" Umpat Alex.


"Ternyata kau cukup jeli, kau mengenali orang hanya dengan mendengarkan suaranya. Kau cukup hebat, bos Death Angel." Jawab Tuan Xiauling.


"Katakan apa maksudmu menghubungiku, aku tidak ada banyak waktu untuk mendengarkan semua omong kosongmu!!!" Ucap Alex.


"Temui aku di kantor milik nyonya Fira, kita buat perjanjian di sana." Jawab Tuan Xiauling.


"Orang yang aku cari, sudah muncul. Aku akan menemuinya dan segera membereskannya." Gumam Alex.


"Bagaimana? apa kau menerima tawaranku?" Tanya Tuan Xiauling.


"Kapan? jam berapa?" Jawab Alex.


"Hari ini, pukul 18.00 ." Pinta Tuan Xiauling.


Tuan Xiauling kemudian menutup panggilan teleponnya. Alex menghubungi Richi dan Tuan Hans tentang kemunculan Tuan Xiauling. Richi mengatakan jika dirinya dan Tuan Hans akan tetap pergi ke markas utama Toxic karena dia khawatir masih banyak hal yang di sembunyikan oleh Tuan Xiauling. Tuan Hans juga mengatakan hal yang sama dengan apa yang di ucapkan oleh Richard.


Alex memutuskan untuk tetap bertemu Tuan Xiauling dan segera menyelesaikan masalah yang terjadi.


"Sayang, nanti aku akan bertemu dengan Tuan Xiauling di Perusahaan milik ibumu, aku akan membawa beberapa anggotaku untuk pergi ke sana. Kau tinggallah dulu di markasku, ayahmu sudah memberikan izin untuk melindungimu." Jelas Alex.

__ADS_1


"Baik Tuan, semoga kau selalu berhasil dan menang melawan musuh-musuhmu." Ucap Laras.


Alex tersenyum, dia merasa bahagia karena sang kekasih mau memahami dirinya.


__ADS_2