
Beberapa menit kemudian, Tuan Hans menelepon dokter kepercayaannya, dia adalah temannya saat SMA.
Dia meminta sang teman untuk datang ke rumahnya tetapi dengan penjagaan ketat anggota sang mafia, dia memanggil dua orang anggota yang menjaga rumah Alex untuk datang ke kantor polisi dan membawa sang dokter bersama.
“Kau bersama kedua orang ini menuju rumahku, jangan pernah memberitahu alamat rumah menantuku, karena ini rahasia. Aku sudah memberitahumu tentang anak menantuku yang seorang mafia.”
Tuan Hans memberikan keterangan kepada sang dokter bernama Reva untuk berhati-hati dalam hal ini.
“Iya Hans, aku tahu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”
Sang dokter sudah memahami hal itu dan langsung menuju kedua orang yang yang siap mengantar Reva ke rumah sang mafia.
Di dalam mobil anggota mafia ...
“Nyonya, aku senang kau tidak banyak bicara,” ucap salah satu anggota mafia itu.
“Memangnya aku terlihat seperti wanita cerewet ya?” Nyonya Reva terlihat sangat anggun saat berbicara.
“Bukan itu maksudku, aku hanya berpikir kau adalah tipeku.”
Bukannya menjalankan tugas dengan segera, justru anggota Alex malah merayu wanita yang betah menjomblo ini setelah bercerai dengan suaminya dua tahun lalu. Janda cantik nan menawan ini memang luar biasa mempesona, wajahnya tanpa keriput meskipun telah berusia lebih dari 30 tahun.
“Oh, aku tidak ingin menikah dan kau jangan terlalu banyak merayu dan menggodaku, karena kau bukan tipeku.”
Seketika salah satu dari anggota itu tertawa karena kata-kata si dokter yang begitu menohok.
Kali ini kedua orang itu lebih memilih untuk diam daripada terlalu mengatakan hal tidak penting dan tidak berfaedah.
Kedua orang itu mengajak sang dokter masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka menuju rumah sang mafia.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, tidak ada halangan yang berarti. Dua orang yang hanya mampu melihat kecantikan dari sang dokter lewat spion tengah mobil terlihat mencuri pandang. Teman Tuan Hans itu memang luar biasa.
Selain cantik, dia juga seorang dokter kandungan yang berpengalaman. Tuan Hans dan Reva telah berteman sejak kuliah. Tidak ada rasa cinta ataupun kagum, keduanya murni berteman. Nyonya Fira juga sangat menyukai kepribadian Reva yang ramah dan humoris.
Setelah dua jam perjalanan, mobil itu telah terparkir di depan rumah sang mafia.
“Silahkan masuk Nyonya, kami akan berjaga di luar,” ucap si anggota mafia.
“Baiklah.”
Reva menekan bel rumah itu dan mendapati seorang wanita cantik membuka pintu utama rumah sang mafia. Dia melihat seorang gadis yang cantik dengan baju rumahan bersama lima anak di bersembunyi di depan tubuhnya.
“Hay? Jangan takut, aku adalah dokter Reva, teman kakek Hans.”
Nyonya Reva mendekat ke arah Lexis. Dia bertanya kepada salah satu putra sang mafia itu. Tapi Lexis menggelengkan kepadanya, dia berkata,”Aku tidak mau dekat dengan orang asing, daddy bilang jika pria harus lebih berhati-hati dengan siapapun, terutama bibi cantik ini.”
Kata-kata Lexis sontak membuat Laras dan Reva menahan tawa. Bocah sekecil itu, usia belum genap 10 tahun sudah paham mana yang cantik.
“Nyonya? Apakah suami anda itu pria yang penuh pesona? putra anda ini sepertinya menuruni darah dan wajah ayahnya yang tampan,” ucap Reva yang kini menatap ibu dari kelima putra lucu sang mafia.
“Suamiku sok tampan, dia itu pria tidak pernah pulang ke rumah, selalu sok sibuk dan tidak tampan sama sekali, oh ya, anda dokter yang dikirim ayah untukku?”
Laras menghentikan pembicaraan tentang sang suami. Dia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui sosoknya yang gagah dan tampan itu.
Laras adalah wanita pencemburu akut, dengan siapapun itu, sang suami akan menjadi sasaran kemarahannya.
“Haha ... anda memang ibu dan istri yang baik. Ehm ... iya, aku adalah teman Hans waktu kuliah dulu. Sudah lama kami tidak bertemu, dia tiba-tiba memintaku memeriksa kandunganmu,” jawab Reva dengan tegas.
“Baiklah, silahkan masuk, anda boleh memeriksaku. Sebentar, aku ingin meminta salah satu anak buah suamiku untuk menjaga anak-anak selagi anda memeriksa kandunganku.”
Laras berjalan keluar dan memanggil salah satu anak buah Alex, dia segera meminta orang itu untuk menemani kelima anaknya bermain di dalam rumah. Sang anak buah mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Nyonya mafia itu.
Urusan anak-anak telah usai, saatnya Reva dan Laras masuk ke dalam kamar utama.
Reva meminta ibu hamil itu berbaring di ranjang dan dia mulai menjalankan tugasnya.
“Kau baik-baik saja Nyonya, kondisi janinnya baik. Ada keluhan apa memangnya?” Dokter menanyakan pokok permasalahannya.
"Ada rasa sakit di perut, kadang terasa kadang tidak sama." Laras menjelaskan apa yang dirasakan sambil duduk di tepi ranjang berdampingan dengan sang dokter.
"Tidak masalah Nyonya, janin anda baik-baik saja. Itu hanya rasa sakit yang tidak terlalu membahayakan, anda hanya kelelahan saja." Sang dokter memberikan penjelasan agar tidak membuat bingung ibu hamil itu.
Laras mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang dokter tapi pandangannya teralihkan ke arah foto sang suami.
Dokter memahami hal ini dan langsung menyadari satu hal.
"Oh, aku rasa kau sedang merindukan orang yang ada di foto itu ya?" Seketika Laras memandang wajah sang dokter dan tersenyum.
"Hanya saja dia tidak pulang selama beberapa hari ini. Aku terlalu memikirkan keadaannya."
Semua keluhan Laras telah terjawab.
"Kau merindukan suamimu, telepon saja!" pinta sang dokter.
"Tetapi dia sedang berada di Macau, ada misi penting di sana. Belum tentu juga dia menjawab panggilan telepon ku," ucap Laras merasa pesimis.
"Belum tentu, anda coba saja. Saya akan keluar sebentar, tidak akan mengganggu pembicaraan kalian berdua.
Laras sedikit ragu tetapi, dia mencoba untuk mempercayai apa yang sang dokter katakan.
Setelah sang dokter dari kamar itu. Laras meraih ponsel yang ada di atas nakas, tangannya gemetar saat ingin menghubungi sang suami. Akan tapi dia memberanikan diri agar hati dan pikiran tetap fokus saat menjalani hari-harinya.
Laras hubungi Alex dengan nomor ponsel terakhirnya pria itu gunakan untuk menghubungi istrinya.
Dia sudah melakukan panggilan telepon tetapi ia akhiri.
"Astaga! mengapa aku jadi gugup seperti ini?" Laras tidak mengerti tentang perasaannya saat ini.
Saat dia ingin mengulangi panggilan itu, tiba-tiba saja panggilan telepon masuk.
Dia langsung menjawab panggilan telepon itu.
"Ada apa sayang? Mengapa kau matikan panggilan telponnya? Aku sedang memikirkanmu dan kau menelponku ini seperti sebuah ikatan batin." Sang mafia menetap istri dari panggilan video itu. Ada biar bening mulai terjatuh satu persatu.
"Kau menangis? Ada apa?" imbuh Alex.
"Aku merasa sakit di perutku, aku merindukanmu." Akhirnya sang istri mengatakan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.
"Kau rindu?" tanya Alex, sang suami merasa kasihan dengan istrinya.
"Iya."
Sang istri menangis, dia terlihat sangat merindukan suaminya yang tak kunjung kembali ke rumah.
Laras terisak untuk beberapa saat, dia mengatakan bahwa dirinya akan segera kembali pada istrinya setelah pertarungan usai.
__ADS_1
Namun Laras tak memberikan kepastian, dia masih belum rela jika masih harus menunggu.
"Kau dengarkan aku sayang, aku tidak akan pergi, jika tujuan tidak kembali. Aku pasti kembali kepadamu jangan pernah ragu dan khawatir, apa yang aku lakukan di sini bukan seperti pria lain bekerja ataupun melakukan sesuatu yang positif. Alex Fernando adalah mafia yang siap hidup dan mati di medan pertempuran, jangan pernah mendoakan yang buruk tentangku, ataupun berpikiran yang berlebihan karena aku ingin sekali bertemu denganmu saat ini. Ya, kembali lagi ke pasal 1. Aku sedang dalam pertarungan yang sengit," ucap sang mafia merasa dirinya berbeda dengan yang lain, dia suami yang siap siaga saat istri hamil. Dia sedang dalam pertarungan melawan segala ketidakadilan yang menimpanya selama ini, meskipun masalah sang adik tiri telah usai, ini dia harus menghadapi pengkhianatan habis-habisan dari para anggotanya.
Apalagi MK semakin kuat, dia tidak bisa langsung menggempur musuhnya yang sudah luar biasa lebih tinggi popularitasnya dibandingkan dirinya.
"Lex, Aku tidak pernah melarangmu untuk bertarung tetapi ini hanya masalah hati yang kadang terlalu peka. Kau juga mengetahuinya kan? sejak hamil kembar 5, Aku merasa sangat sensitif. Apalagi dulu kau selalu menemaniku sekarang kau pergi, aku hanya mendapatkan penjagaan dari anggota yang menurutku tidak terlalu bisa menghiburku." Sang istri mulai menyeka air matanya yang sudah terjatuh.
Alex memberikan hiburan untuknya, dalam suasana genting, sang suami membuat bingkai indah dengan namanya.
"LARAS NUGRAHENI, aku selalu mencintaimu, tidak akan pernah melupakanmu bahkan sampai ke ujung dunia pun kau akan ku kejar, jika kau berani pergi dariku." Isi bingkai foto yang terbuat dari biji kerang, dia memberinya beberapa hari lalu, sang mafia menyempatkan diri untuk menyamar menjadi seorang warga lokal untuk membeli bingkai tersebut.
"Ini sangat cantik suamiku, dimana kau membelinya?" Laras sangat bahagia meskipun hanya melihat bingkai foto yang akan menjadi hadiah untuknya.
"Nanti aku akan memberikannya setelah menyelesaikan misi yang sedang aku jalani, tolong letakkan ponselmu di perut, Aku ingin berbicara dengan anakku." Sang mafia benar-benar romantis, dia terlalu rindu dengan anak dan istrinya hingga ingin sekali berbicara melalui video-call.
Ponsel telah berada di perut Laras, sang daddy kemudian memberikan petuah kepada anaknya.
"Baby B, jangan nakal ya disana? Kau harus berbakti kepada mommy, dia selalu menjagamu jangan pernah membuatnya sedih. Daddy sedang berada di luar negara, masih banyak hal yang belum daddy selesaikan. Jika semuanya telah usai, daddy akan pulang dengan membawa banyak hadiah." Sang mafia begitu mencintai istri dan anaknya, dia tidak bisa hidup tanpa mereka berdua.
"Ada lagi yang ingin kau katakan? aku merasa sangat ngantuk, tidak ada yang aku kerjakan di rumah selain menjaga anak-anak. Ibu dan ayahku, melarang diriku untuk melakukan pekerjaan rumah yang berat. Mereka akan marah-marah jika mengetahui aku mencuci ataupun menyetrika baju." Laras menceritakan keadaan dirinya selama ini saat ditinggal sang suami.
Dia memang tidak melakukan apapun, tetapi rasanya sangat lelah karena hati dan pikirannya hanya tertuju kepada sang suami, pantai itu bawaan bayi atau karena dirinya sendiri yang sedang sangat peka.
Laras mencoba menetralisir rasa rindunya yang sudah teramat dalam itu, rasa kantuknya seperti ingin membawanya masuk ke dalam mimpi.
"Oke, setelah ini, aku akan melakukan rapat dengan para anggota. Masalah semakin banyak dan aku harus segera menyelesaikannya satu persatu, kau tidak perlu memikirkan keadaan ku karena aku baik-baik saja. Kau pikirkan saja anak-anak, serta bayi yang ada di kandunganmu."
Sang mafia selalu memperhatikan sang istri agar dia merasa mendapatkan perlindungan darinya.
"Iya, hoam! aku sangat mengantuk," ucap Laras tidak bisa menahan rasa kantuknya, sangat terlihat dari wajahnya yang sangat manis itu.
"Oke, selamat tidur ya? semoga mimpi indah. Aku akan meneleponmu 2 jam lagi, setelah rapat usai." Sang mafia terlebih dahulu bangun kepada sang istri sebelum penutup panggilan itu.
"Iya, lakukanlah yang terbaik untuk anggotamu. Aku selalu mendukung apapun yang kau lakukan." Laras cium jauh dan peluk jauh dengan sang suami, untuk selanjutnya dia meletakkan pusat di atas nakas dan merebahkan diri di atas ranjang.
Laras tersenyum, saya membayangkan wajah sang suami dan memeluk fotonya.
Lex, terima kasih atas apa yang telah kau berikan kepadaku. Kau pria pertama yang selalu membuatku bahagia dengan segala perjuangan dan kasih sayang yang kau berikan kepada Dan anak-anak kita, aku akan setia kepada mu sampai kapanpun. Jangan pernah merasa kau sendiri, meskipun di sini aku tidak rela kau pergi terlalu lama.
Laras hanya mampu mengatakan yang sebenarnya kepada dirinya sendiri, saya tidak ingin terlalu berani sama suami. Tugas jika suami sudah terlalu berat dan banyak sekali, Dea ingin mendukung 100% Alex.
********
Di markas utama Death Angel ...
Sang mafia telah kembali ke markasnya lagi, dia sudah membahas sang musuh yang semakin kuat.
"Bos, apa sebaliknya kita langsung menggempur MK?" tanya salah satu anggota yang sudah tidak sabar menghadapi si pria tua banyak tingkah itu.
"Belum, kita masih harus menunggu pergerakan dari Richi. Markas MK sangatlah ketat, sebenarnya sahabatku sedang dalam bahaya, dia berada di garda depan pertarungan melawan MK." Alex memang menyerahkan tugasnya kepada sahabat karena beberapa waktu lalu sang mafia sedang dalam permasalahan yang pelik, tentang harga diri dan nama baik yang menjadi taruhannya.
Dia menjadi mafia beruntung nomor satu karena mampu mengambil hati pihak kepolisian, dia mendapatkan panggilan dari polisi Macau dan polisi NY bahwa dirinya mendapatkan panggilan untuk bertemu kemudian membicarakan tentang kerjasama antara mafia dan anggota kepolisian.
"Bos, anggota kita semakin berkurang, jika kau pergi menemui pihak kepolisian itu apakah markas akan baik-baik saja?" tanya salah satu anggota merasa cemas dengan apa yang terjadi.
"Baik, aku tidak perlu mengkhawatirkan hal ini karena masih ada orang-orang kepercayaanku yang lebih kuat. Dia menjadi wakil ku setelah aku pergi, kalian tetaplah menjadi anggota yang setia. Mereka yang berkhianat, aku pastikan menghilang dari dunia ini tanpa jejak." Sang mafia benar-benar merasa kesal atas apa yang dilakukan oleh para anggotanya, bagaimana tidak, hampir separuh anggota memilih untuk menjadi satu dengan MK.
Mereka dengan percaya diri, para anggota menghina dirinya yang tidak becus menjadi seorang bos karena lebih mementingkan harga diri dan nama baiknya daripada para anggotanya yang setia.
Jika Aldren mendapatkan hukuman di dalam penjara, dia mendapatkan imbasnya yaitu ditinggalkan oleh para anggota setia yang selama ini bersamanya.
Fakta yang tidak akar bisa ia bantah sekalipun di dalam mimpi.
*********
Rapat yang berlangsung lebih dari 2 jam itu memutuskan bahwa markas menjadi tanggung jawab Morgan, dia akan pergi ke tempat yang sudah dijanjikan oleh anggota kepolisian bersama Dafa dan Joan yang sedari awal selalu bersamanya hingga kini.
Dalam perjuangannya mempertahankan harga diri dan nama baik, sudah beberapa hari yang lalu mereka melakukannya dan kini sudah bisa beristirahat.
Mereka sangat lelah tetapi tidak mampu untuk diam saja, apalagi musuh semakin kuat dalam memberikan tekanan.
Sang mafia keluar dari ruang rapat dengan wajah yang tegang.
Dia menghampiri Joan dan Dafa yang sudah menunggu dirinya di ruang tamu.
"Sekarang?" tanya Dafa.
"Iya," jawab sang mafia.
Joan masih membuat kopi langsung menghentikan aktivitasnya dan mendekat ke arah dua orang itu.
"Tuan Hans memberikan pesan padamu?" tanya Joan, dia mengenal nama mertua sang mafia karena sering mendengarnya. Meskipun dia belum pernah bertemu dengan orang itu.
"Iya, disaat aku selesai melakukan panggilan video bersama istriku. Kita harus segera pergi dari sini, menemui ayah mertuaku dan para anggotanya adalah yang terbaik." Sang mafia mencoba mendiskusikan pertemuannya dengan anggota kepolisian, karena masalahnya bukan lagi geng tetapi universal.
Anggota pujian pun juga kewalahan menghadapi MK, pria itu tidak pernah mengenal rasa takut.
"Oke, aku dan Joan akan segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi," jawab Dafa, namun saat dia ingin bersiap-siap, sama mafia langsung mengajak keduanya pergi begitu saja tanpa persiapan.
Kedua orang itu tidak bisa menerima ataupun menolak tawaran sang mafia.
Mereka lebih memilih setuju daripada mendapatkan masalah yang bertubi-tubi.
"Oke," jawab keduanya serempak.
Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk pergi hari ini menemui anggota kepolisian di tempat yang sudah ditentukan.
Tanggung jawab markas ada di tangan Morgan, dia akan berada di markas selama ketiga orang itu pergi.
**********
Garasi mobil mewah ...
Joan dan Dafa tercengang dengan garasi milik sang mafia yang sangat luas dan luar biasa mewah itu, dia tidak menyangka bahwa Alex memiliki selera tinggi dalam memilih kendaraan roda empat itu.
"Wah, kau sangat hebat ya? bagaimana bisa mendapatkan mobil dengan kualitas luar biasa dengan harga yang sangat mahal, bahkan limited edition." Dafa yang sedikit banyak mengerti dunia otomotif dan mobil, memberikan pujian kepada sang mafia bahwa orang itu telah membuat sesuatu yang sangat unik.
Mobil sebanyak ini dan bernilai ratusan dolar berada di dalam hutan yang lumayan dalam, dia tidak mampu memikirkan bagaimana mobil-mobil yang ada di depannya masuk ke dalam hutan dan tersimpan di garasi mewah itu.
"Kalian tinggal naik, tidak perlu banyak berfikiran hal-hal yang aneh-aneh."
Sang sekali lagi mengingatkan bahwa 2 orang itu hanya mengikuti apa yang telah saya katakan bukannya membuat cerita aneh tentang mobil yang seharusnya diam tanpa perlu di dibicarakan lebih lanjut.
"Mereka masuk kedalam markas ini biarkan saja aku yang tahu, makanan tidak perlu memikirkan hal yang tidak. Lebih baik ikut bersamaku saja, lebih cepat lebih baik. Naik," pinta sang mafia.
__ADS_1
Kedua orang itu langsung duduk di dalam mobil itu, Joan duduk di samping kursi kemudi, kemudian Dafa berada di jok belakang.
Wussssssh ....
Mobil melesat dengan cepatnya.
***********
Di dalam mobil, ketiga orang itu tidak mengatakan apapun.
Mereka fokus dengan kegiatan masing-masing.
"Aku akan segera sampai di kantor polisi beberapa menit lagi," ucap sang mafia sembari tetap fokus menyetir.
"Oke, bukan di kantor polisi tapi di tempat rahasia yang pernah kita bicarakan itu," jelas Tuan Hans, pria yang menelepon sang mafia.
"Aku lupa, apa maksudmu tempat yang ada di pusat kota itu? apakah sudah sampai di Macau?" tanya sang mafia.
"Bukan hari ini, aku sudah menulisnya di pesan singkat kan? aku baru saja dari Macau, masak iya kembali ke sana lagi, di NY masih banyak tugas yang belum aku selesaikan." Tuan Hans memberikan kecerdasan atas kesalahpahaman yang terjadi di antara keduanya.
"Haha, iya kah? apa saja video call dengan putrimu, dia menangis karena aku tidak belum pulang. Apa hari ini aku kembali saja ke NY?" canda sang mafia.
"Kau ini, harusnya lebih mementingkan geng daripada urusan pribadi. Laras tidak akan ke mana-mana, dia masih di rumah, menunggu kepulanganmu." Tuan Hans sangat yakin akan hal ini karena sang putri sangat mencintai suaminya.
"Hm .... jika masih besok, aku minta tolong kepada ayah untuk tidak menjadwalkan pertemuan ini, Aku khawatir MK sudah mengetahui rencana kita dan akan membubarkan apa yang sudah kita rancang dari awal, katakan kepada para anggota kepolisian yang ada di Macau dan NY, aku akan menyelesaikannya dengan segera. Tidak perlu melakukan pertemuan," ucap sang mafia mengambil langkah tegas.
"Tapi Lex?" sang mertua sepertinya masih belum rela melakukan hal ini, dia sudah menjadwalkan dalam waktu dekat, MK sudah merajai segala bidang.
"Percaya kepadaku ayah, semuanya akan baik setelah kau membatalkan ini pertemuan ini." Sang mafia mencoba meyakinkan sang ayah mertua.
Perbincangan keduanya terhenti untuk beberapa saat, setelah itu, langsung mendapatkan jawaban dari sang ayah.
"Oke, aku akan membicarakan lagi, aku hanya ingin MK segera lenyap dari dunia ini, hanya saja dia semakin kuat."
Tuan Hans memiliki rencana yang bagus, akan tetapi terlalu terburu-buru.
"Ayah, kau harus berhati-hati. MK ada dimana-mana, dia bisa saja datang dan membuatmu dalam masalah." Sang mafia mengatakan hal ini agar sang ayah berhati-hati.
"Ya."
Panggilan itu usai, sang mafia memilih untuk mengunjungi Yovan yang katanya sudah merasa baikan.
"Kita ke apartemen Tuan Win," ucap Alex.
"Terserah kau saja, aku sedang sibuk ini." Kedua orang yang sok sibuk, padahal hanya bermain sosial media.
Sang mafia merasa rasa kesal langsung mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat.
Kedua orang itu terlihat seperti orang ketakutan, Alex mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan.
Ciitttttttt!
Setelah itu, dia berhenti begitu saja.
"Sial! kau mau membunuh kami ya?" Joan kesal dengan apa yang dilakukan oleh saudaranya itu.
"Ini salah kalian, mengapa berani mengabaikanku!" ucap si Alex.
"Kami sibuk, sudah dikatakan dari awal kan? Hadeh orang ini." Joan menepuk jidatnya. Berharap sang bos berhenti untuk emosi.
"Sibuk bermain sosmed kan?"
"Iya, tetapi ini bukan saatnya bermain sosial media. Saatnya untuk bertemu Tuan Fudo."
Kedua orang terbelalak, mereka tahu sosok Tuan Fudo itu.
"Dimana?" tanya Joan antuasias.
"Di jidatmu!" Sang mafia terlihat kesal.
"Haha ... bukan, aku hanya bercanda." Beberapa menit kemudian ada panggilan telepon dari privat number masuk.
"Halo?" tanya Alex.
"Lex, aku akan datang ke Macau, temui aku di markasmu." Dari suaranya sudah terdengar jelas siapa orang yang melakukan panggilan.
"Tuan Fudo?" Sang mafia terhenyak, dia tidak menyangka pria yang menjadi ketua Death Angel meneleponnya.
"Siap Tuan!"
Panggilan telepon itu langsung berakhir, sang mafia merasa senang karena ada bala bantuan datang.
"Aku hanya asal bicara dan Tuan Fudo benar-benar datang." Sang mafia merasa geli tentang hal ini.
"Wah, ada Tuan Fudo. Semuanya akan habis pada waktunya, MK itu lawannya Tuan Fudo," jawab Joan. Dia yang selalu taat dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Fudo, merasa senang. Kehadiran pria itu sangat penting bagi Death Angel.
"Dafa, kau paham tidak, Tuan Fudo itu siapa?" tanya Joan, dia kagum sekali dengan tetua Death Angel itu.
"Aku pernah mendengar namanya, tetapi belum bertemu sama sekali dengan orangnya," jawab Dafa. Wartawan berita kriminal itu juga merasa senang atas kehadiran pria yang memiliki tubuh penuh tatto itu.
"Kau banyak bicara, dihempaskan oleh tetuaku," jelas sang mafia.
*
*
*
#Edisi Gabut
Kang Alex : Lue tega Thor buat ane tidur sendirian, bini mana bini 🤧🤧🤧🤧
Neng othor : Noh, bawah ada ...👇
Kang mafia : Cakep emang bini gue, tapi cuma foto, nyang nyata kagak ada Thor?
Neng othor : Gelut dulu, urusan bini belakangan 🤧🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kang mafia : Awas lu Thor, gak gue peluk lagi ntar 😤😤😤😤😤
Neng othor : Bodo amat! udah punya lakik ane bang 🤣🤣🤣🤣🤣, lakik ane yang meluk!
__ADS_1
*******