
Alex tak kunjung memejamkan matanya, pikirannya masih berkeliaran kemana-mana. Ancaman dari penelfon misterius itu ternyata mampu membuatnya gelisah hingga mengganggu waktu istirahatnya. Di tengah kegelisahannya, ponsel miliknya kembali bergetar. Alex melepaskan sang gadis dari pelukannya dengan hati-hati agar gadis cantiknya tidak terbangun saat Ia beranjak dari tempat tidurnya. Dia mengambil ponsel yang tadi di lemparkannya di atas meja dan menjawab panggilan dari privat number yang terpajang di layar ponselnya. Saat mendengar suara dari sang penelfon, Alex langsung bisa menerka jika suara itu berasal dari tetua Death Angel, Tuan Fudo. Tidak ada orang yang berani mengganggu waktu istirahatnya kecuali sang tetua.
"Ada urusan penting apa hingga Tuan Fudo menghubungiku selarut ini?" Tanya Alex heran.
"Kau harus dengarkan aku baik-baik. Xiauling sudah muncul, dia baru saja menemuiku. Adikku itu masih terobsesi dengan tahtamu, aku mohon kau segera temui dia." Jawab Tuan Fudo.
"Ternyata dugaanku benar, yang mengirim ancaman lewat pesan singkat dan penelfon misterius itu adalah Tuan Xiauling." Gumam Alex.
"Alex, apa kau mendengarku?" Tanya Tuan Fudo yang heran karena sang bos tiba-tiba tak bersuara.
"Baik Tuan, kapan dan dimana aku harus menemuinya?" Jawab Alex.
"Tunggu kabar dariku, jika dia memberikan penawaran yang bagus, kau jangan terima karena itu bagian dari rencana busuknya untuk menghancurkanmu dan Death Angel. Kau harus berikan alternatif lain yang mampu membuatnya tak dapat berkilah. Dia mirip sekali dengan kakakmu, kurang lebih kau pasti tahu cara menghadapinya." Perintah Tuan Fudo.
"Baiklah Tuan. aku mengerti, akan ku lakukan sesuai dengan apa yang Tuan katakan." Jawab Alex.
Tuan Fudo kemudian menutup panggilan telefonnya.
Alex meletakan ponsel di atas meja, kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang gadis tercinta. Kini dia sudah mampu untuk memejamkan matanya karena misteri ancaman pesan singkat itu sudah terjawab.
* * *
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sinar matahari juga sudah muncul untuk mengucapkan selamat pagi kepada kedua insan yang masih saja betah berlama-lama memanjakan diri di tempat tidur. Bos mafia itu merasa bahagia karena bisa memeluk gadis pujaannya hingga pagi tiba, kesempatan yang langka untuknya. Dia akan memanfaatkan kesempatan itu tanpa terlewat sedikitpun. Meski sang gadis sudah mulai membuka mata dan memberontak atas tingkahnya yang membuat sang gadis tidak mampu bergerak karena terhimpit dada bidang dan tangan kekar sang bos yang seakan tak ingin lepas mendekap Laras dalam pelukannya.
"Tuan, sampai kapan kau akan terus memelukku? ini sudah pagi. Kau bilang akan mengantarku pulang." Ucap Laras yang hampir kehabisan nafas karena sesak.
"Apa kau tidak mau aku peluk? ada pria lain kah yang membuatmu tak ingin berlama-lama dalam pelukanku? kau sangat tidak berperikemanusiaan membuatku menunggu terlalu lama dan kini yang ada di pikiranmu adalah pria lain." Jawab Alex seperti anak kecil yang posesif.
Alex melepaskan pelukannya, dia berbalik dan memunggungi Laras. Sang gadis tersenyum saat melihat tingkah konyol sang bos mafia. Dia berusaha membujuk sang kekasih, tapi bos mafia itu tak bergeming.
"Kau ini memang bayi besar yang posesif. Bagaimana aku bisa memikirkan pria lain sedangkan di hadapanku ada orang yang lebih segalanya dari pria lain di dunia ini." Ucap Laras.
Mendengar kata-kata sang kekasihnya, bos mafia itu tersenyum bahagia, namun Ia masih ingin membuat sang gadis merasa bersalah, jadi dia hanya diam saja. Alex ingin membuat sang gadis begitu membutuhkan dan menginginkannya berada di sampingnya setiap saat.
"Ternyata kau ini tidak sejahat kelihatannya, kau sangat kekanak-kanakanan Tuan. Ayolah jangan marah padaku seperti ini. Jangan membuatku merasa kehilangan dirimu."
"Kau begitu tidak ingin kehilanganku gadis cantik?" Ucap Alex yang kini sudah berada di depan wajah sang gadis yang meneteskan butir kesedihan di sudut matanya.
"Kau sangat jahat Tuan, aku tidak mampu untuk pergi darimu tapi kau tega sekali mendiamkanku dan menuduhku memiliki pria lain di belakangmu." Jawab Laras sambil memukul dada bidang bos mafia dengan tangan mungilnya karena kesal.
Alex menghentikan pukulan Laras dan mengecup tangan indah itu, dia meminta maaf kepada sang gadis dan berjanji tidak akan membuat sang gadis menangis lagi.
* * *
__ADS_1
"Kau sudah siap gadis cantik?" Tanya Alex yang sudah berada di dalam mobil bersama kekasihnya.
"Sudah Tuan, nanti kau turunkan aku di depan rumah dan kau cepatlah pergi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu jika ayahku melihatmu." Ucap Laras khawatir.
"Tenang saja sayang, kau tidak perlu memikirkan hal yang berlebihan. Kau hanya perlu menjaga hatimu. Jangan temui pria selain diriku." Jawab Alex.
"Baik Tuan." Ucap Laras.
Mereka berdua kini bergegas pergi menuju ke rumah Laras. Jarak yang lumayan jauh antara markas dan rumah sang gadis membuat mereka menghabiskan waktu di mobil dengan saling berbagi cerita. Di saat mereka sedang terhanyut dalam cerita masing-masing, ponsel Alex kembali bergetar dan privat number kembali menghubunginya nomor ponselnya.
"Alex, kau temui Xiauling jam sembilan pagi ini. Dia sudah menunggumu di Bar pusat kota." Ucap Tuan Fudo.
"Baik Tuan, saya akan segera kesana." Jawab Alex sambil memutar balik arah mobilnya menuju Bar di pusat kota.
Laras penasaran dengan siapa sang kekasih berbicara di sambungan telefon tadi. Dia menanyakan langsung kepada Alex, tapi bos mafia itu tidak menjawab dengan jelas pertanyaan gadisnya membuat Laras curiga jika Alex akan kembali bertarung di medan pertempuran.
"Apapun yang kau sembunyikan dariku, biarlah menjadi rahasiamu. Sejak awal aku sudah tahu tentang jati dirimu yang seorang penjahat itu. Tapi berjanjilah satu hal padaku untuk menyimpan kalung ini bersamamu hidup ataupun mati." Ucap Laras sambil memberikan kalung keberuntungan miliknya.
Alex menerima dengan senang hati. Dia merasa berarti kali ini karena ada orang yang sayang dan perduli padanya hingga merelakan hal yang berharga untuk orang itu di berikan padanya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua telah sampai di Bar pusat kota. Alex meminta sang gadis untuk tetap menunggunya di dalam mobil dan jangan keluar sebelum dia kembali.
__ADS_1
Laras mengiyakan permintaan sang kekasih. Sang gadis kembali mengingatkan agar Alex selalu berhati-hati dan waspada karena bisa saja sang ayah mengirim mata-mata di dalam Bar untuk menangkap bos mafia itu. Alex mengatakan jika tidak akan terjadi apapun padanya.
Sang bos mafia perlahan keluar dari mobil dengan menggunakan penutup kepala, jaket serta kacamata hitam untuk bertemu dengan Xiauling yang sudah menunggunya di dalam Bar.