
Willy sudah menghubungi salah satu kenalan yang bisa mengurus pembelian tiket pesawat dengan cepat.
"Bern? apa kau ada waktu?" tanya Willy.
"Ada, ada apa Will? tumben menelponku? apa kau ingin booking tiket untuk bulan madu?" tanya sang teman bernama Bern.
"Haha ... Jeni tidak butuh bulan madu, di rumah juga sudah seperti bulan madu setiap hari, hanya saja aku belum ada waktu untuk menemuinya," jawab Willy.
"Hehe ... aku hanya menebak Wil, untuk berapa orang? tujuan kemana?" Bern mulai menjalankan tugasnya, dia terdengar sangat profesional.
"Tiga belas orang ke Macau hari ini," jelas Willy.
"Oke, sebentar. Aku akan memeriksa jadwalnya."
Beberapa menit kemudian ...
"Jadwal take off setengah jam lagi dari bandara internasional Jhon F Kennedy, NY dengan tujuan Macau, ada 20 kursi," jelas Bern, dia seperti petugas bandara, suaranya sangat khas.
"Oke, aku booking 13 kursi. Kau selesaikan segalanya, nanti aku akan mentransfer uang kepadamu," tukas Willy merasa puas dengan pelayanan Bern jika masalah booking tiket.
__ADS_1
"Siap!"
Panggilan telepon itu telah berakhir, tidak berselang lama, Bern memberikan informasi melalui pesan singkat dengan mengabari bahwa tiket sudah siap, Richi cs on the way ke bandara.
...
Semua anggota Death Angel yang ikut Richi, sudah siap dengan mobil masing-masing.
Willy bersama Richi dan bocah tengik berada di dalam satu mobil yang sama.
"Kita satu mobil lagi bocil," ucap Willy yang memilih duduk di sebelah Han Bin.
"Will? apa kau kira aku sopir pribadimu?" Richi terlihat kesal saat dua orang ada di jok belakang.
"Pria aneh," jawab Han Bin dengan wajah datarnya.
"Oke, terserah kau saja, pada intinya kau dan bocah itu tetap rukun, aku tidak masalah." Richi tersenyum saat melihat Willy dan Han Bin sudah terlihat dekat meskipun si bocah masih jual mahal.
"Oke!" jawab Willy setuju.
__ADS_1
Setelah semua siap, enam mobil yang membawa anggota Death Angel yang berjumlah 13 orang langsung tancap gas menuju bandara.
Satu persatu mobil telah keluar dari markas, mobil yang dikemudikan oleh Richi berada di depan 5 mobil yang lain.
"Wil, apa aku yakin jika Yovan berkhianat?" tanya Richi disela fokusnya dalam menyetir.
"Tidak terlalu, aku masih ragu akan kabar tersebut, mungkin saja itu sebuah kesalahpahaman? tapi entahlah! aku juga tidak terlalu memahaminya. Setelah kita bertemu dengan Yovan, semua akan terungkap dengan sendirinya." Willy mencoba untuk tetap positif thinking dalam menghadapi permasalahan pelik yang ada di gengnya.
Semua pengkhianat yang berada di dalam Death Angel pantas mati, tetapi untuk kasus yang satu ini, perlu penyelidikan lebih lanjut. Yovan adalah orang kepercayaan Tuan Fudo, dia sudah terlalu lama hidup bersama sang tetua hingga keduanya sangat akrab, apalagi dengan Alex.
Yovan, Alex dan Richi, teman yang saling mendukung satu sama lain sejak awal pertama bergabung dengan Death Angel.
Aneh rasanya jika, Yovan tiba-tiba saja dikabarkan berkhianat, sangat tidak masuk akal menurut Richi.
Han Bin yang sedari tadi hanya diam, kemudian mengungkapkan pendapatnya.
"Maaf Kak Richi, aku ingin menceritakan sesuatu tentang MK kepada kalian berdua." Sang bocil mulai memperlihatkan kemampuannya dalam menganalisa.
"Hm ... kau tahu apa bocah?" tanya Willy.
__ADS_1
"Dulu, sebelum aku benar-benar menjadi gelandangan, ada rumor yang mengatakan bahwa MK sangat senang mengadu domba semua orang yang sudah membuatnya tersinggung, aku juga sering mendapatkan julukan pengkhianat dari gengku, tetapi karena aku tidak bersalah, sampai saat ini, anggotaku masih mempercayai aku sebagai ketua mereka," jawab Han Bin memulai penjelasan.
....