Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 89


__ADS_3

"Tuan Alex?" Laras memanggil nama sang kekasih dengan penuh perasaan.


"Ya, ada apa sayang?" tanya bos Alex masih memeluk tubuh mungil Laras dan membelai rambut indah sang kekasih.


"Mengapa kau begitu mencintaiku?" tanya Laras.


"Saat kau bertanya padaku, pernahkah kau bertanya pada dirimu sendiri mengapa kau mencintaiku?" jawab Alex.


"Aku tidak pernah bertanya pada diriku sendiri tentang hal itu karena tidak butuh alasan untuk mencintaimu tuan," jelas Laras.


"Kau sudah menjawab pertanyaan yang kau ajukan padaku, sebagaimana dirimu, akupun sama, tidak butuh alasan untuk mencintaimu," jawab bos Alex.


Mata mereka saling menatap, semakin dalam dan dalam, ada ketertarikan yang mendalam antara kedua mata itu untuk memberikan rasa yang berbeda kepada hati masing-masing. Rasa yang berupa tindakan yang tidak di sadari oleh keduanya. Perlahan wajah keduanya saling mendekat hingga tak berjarak meski hanya dua sentimeter, sentuhan lembut di bibir masing-masing membuat suasana menjadi lebih hangat. Sentuhan itu semakin intens dan menuntut hingga membuat Laras tak mampu bernafas, dengan refleks gadis itu melepaskan diri dari pertautan kedua bibir itu.


"Maaf tuan," ucap Laras.


"Ada apa? apa aku kurang memuaskanmu?" tanya Alex.


"Bukan itu tuan, aku hanya tidak bisa bernafas, wajahmu terlalu kuat menekan hidungku yang minimalis ini," gerutu Laras.


"Maaf sayang, aku terlalu menikmati sentuhanmu, jadi aku tidak memperhatikan hal itu," jelas bos Alex.


"Bukan masalah besar tuan, lebih baik aku bantu kau melepas bajumu," tukas Laras.


Gadis itu kembali membantu Alex membuka bajunya, kali ini Alex menurut, bahkan dia tidak mengatakan sepatah katapun hingga helai kain terakhir telah terlepas dari tubuhnya, sang kekasih berbalik badan dan menutup wajahnya.


"Kau kenapa?" tanya Alex.


"Kau segera masuk ke bak mandi, aku tidak ingin melihatnya," jawab Laras sambil menutup wajah dengan kedua tangannya dengan membelakangi tubuh bos Alex.


"Cih, kau bahkan tidak mau lepas dariku siang tadi, mengapa kau sekarang berbeda? kau tidak menyukaiku lagi karena tubuhku tidak semulus wajahku?" ucap bos Alex pura-pura kesal.


"Bukan, bukan itu tuan, aku hanya malu," jelas Laras masih dengan posisi membelakangi sang kekasih.


"Lalu apa?" tanya Alex.


"Aku bereskan baju kotormu dulu tuan," jawab Laras sambil memeluk baju baju bos Alex yang penuh noda tanah serta darah itu, dia meletakan baju kotor itu di keranjang baju yang berada di bilik sebelah bak mandi bos Alex.

__ADS_1


Alex heran dengan sang kekasih yang tiba-tiba bersikap aneh.


'Dia yang memiliki ide untuk membantuku mandi, tetapi dia sekarang seperti orang ketakutan dan kabur,' batin bos Alex.


Karena sang kekasih tak kunjung kembali, alhasil Alex akhirnya melakukan sesi pembersihan diri sendirian. Hasrat yang membuncah itu harus lebih bersabar karena sang kekasih memilih bersembunyi darinya.


Sementara itu, di bilik sebelah bak mandi tempat keranjang baju kotor berada, Laras masih ragu untuk segera menemui bos Alex.


'Aku tidak pernah memperhatikannya tetapi tubuhmu begitu indah, mataku telah ternoda dengan perut kotak-kotakmu itu, aku hampir lupa diri dan mengeluarkan air liurku, ah sial sekali! mengapa kau begitu tampan dan seksi,' batin Laras.


"Aku dengar apa yang kau katakan," jawab bos Alex.


"Apa yang kau tahu? bahkan mulutku saja tidak mengatakan apapun," gerutu Laras.


"Tubuhmu sudah menyatu dengan diriku, apapun yang kau katakan di dalam hatimu aku bisa mendengarnya, cepat kemarilah! bantu aku mandi! jika tidak aku akan datang padamu dan mengendongmu masuk ke dalam bak mandi bersamaku, aku hitung sampai tiga! satu...," Belum sempat bos Alex selesai ke hitungan selanjutnya, ponsel miliknya berdering, ponsel itu berada di saku celananya yang kotor, Laras membantu bos Alex mengambil telepon genggam itu.


Ponsel sang kekasih ada di genggamannya, dia terkejut dengan nama yang tertera di ponsel itu.


'Livy Gracia?' batin Laras.


"Siapa yang menelepon?" tanya Alex.


"Siapa namanya?" tanya Alex.


"Livy Garcia, entah berapa banyak korban rayuan mautmu itu," tukas Laras kesal.


"Dia itu bukan siapa-siapa, kau tidak perlu cemburu padanya," jelas Alex.


"Aku tidak cemburu," jawab Laras.


"Kau jawab saja telepon darinya, kau akan tahu dia siapa," pinta Alex.


"Kau saja,"


Akhirnya Laras keluar dari tempat persembunyiannya dan memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.


"Apa kau yakin tidak ingin berbicara dengan Livy?" tanya Alex sekali lagi.

__ADS_1


"Tidak," jawab Laras tegas.


"Ya sudah, kalau begitu, bantu aku mencuci rambutku dan kau pijatlah kepalaku," pinta Alex.


Laras menuruti apa yang di katakan sang kekasih, dia tidak berkomentar saat sang kekasih berbincang akrab dengan wanita bernama Livy Garcia itu.


Sepuluh menit berlalu, Laras masih bisa menahannya, saat Livy memanggil Alex dengan sebutan sayang, Laras merasa kesal dan memijat kepala sang kekasih dengan tekanan yang lebih kuat.


"Sayang? kau seperti memiliki dendam kesumat padaku," tukas bos Alex.


"Mana ada? hanya perasaanmu saja," jawab Laras.


Alex yang tidak bisa menahan diri karena sang kekasih begitu cemburu padanya, kemudian menutup panggilan teleponnya dan membuang begitu saja di lantai kamar mandi.


Dia berbalik menatap mata sang gadis yang kini berdiri di depannya.


"Apa?" tanya Laras.


Alex keluar dari bak mandi dan segera menggendong sang kekasih, dia memasukkan Laras ke dalam bak mandi.


"Sial! lepaskan aku tuan!" teriak Laras yang langsung di bungkam dengan mulut bos Alex.


Alex kembali memulai sentuhan yang tadi sempat terhenti, hati Laras boleh menolak karena dia masih merasa kesal dengan tingkah sang kekasih yang berbincang akrab dengan wanita lain di depannya, namun tubuhnya justu menerima saja saat sang bos mafia mulai mengexplore tubuh mungilnya. Laras masuk kedalam kehangatan yang di berikan oleh sang mafia, dia kembali tersihir dengan perlakuan lembut sang kekasih padanya.


"Tuan, hentikan!" titah Laras saat sang kekasih mulai menyentuh hal yang sangat rahasia baginya.


"Mulut dan tubuhmu menunjukkan reaksi yang berbeda, nikmati saja sayang, itu hukuman untukmu," jawab Alex semakin menggila dengan membuat sang kekasih merasakan hal ternyaman itu lagi, lagi dan lagi.


Laras mencoba lari dari dekapan tubuh kekar bos Alex yang sudah menghimpitnya itu, tetapi saat Laras mencoba untuk lepas, justru bos Alex semakin kuat menahannya.


"Sama sepertiku, saat kau akan lari dari hidupku, kau semakin tidak akan bisa lepas dariku, kau tahu itu sayang?" ucap Alex.


"Tuan, maafkan aku, bukan maksudku untuk curiga padamu, tapi aku hanya tidak suka kau berbicara dengan wanita tadi," jelas Laras.


"Jika cemburu katakan saja, mengapa kau harus berbohong?" ucap Alex yang masih bermain di tempat favoritnya itu.


Laras masih menahan diri untuk tidak tergoda namun pertahanannya runtuh seketika, dia meminta sang kekasih melakukan hal yang lebih lagi, Alex dengan bersemangat menuruti permintaan sang kekasih, mereka begitu menikmati penyatuan kedua kalinya selama satu hari ini, pertarungan membuat Alex bukannya semakin lelah tetapi semakin menjadi hebat dan bertenaga.

__ADS_1


...* * *...


__ADS_2