
"Maafkan sikap isteriku yang tidak tahu aturan, ini salahku tuan," ucap Hang Zhi sembari membungkukkan tubuhnya.
"Bukan masalah besar, lebih baik kau duduk bersama kami. Aku ingin berbicara sesuatu yang penting denganmu," ajak tuan Chen Gao yang mempersilakan Hang Zhi duduk bersama.
"Perkenalkan, ini adalah menantu keluarga Gao. Namanya Hang Zhi, pria muda berbakat yang juga pebisnis handal itu," ucap tuan Chen Gao dengan bangga.
"Wah, kau memilki pria hebat tetapi tidak pernah kau publikasikan," jawab salah satu rekan bisnis tuan Gao.
"Belum saatnya, karena kalian adalah rekan setiaku di bisnis obat-obatan, jadi aku ingin memperkenalkan wakilku ini, untuk selanjutnya, bisnis itu, bicarakan dengan Hang Zhi. Pekerjaanku terlalu banyak. Memikirkan uang yang hanya 100 triliun, membuatku rugi, aku masih memiliki bisnis lain yang menggiurkan," Tuan Gao adalah pria dengan segala peluang bisnis.
"Apa rencanamu selanjutnya? bisnis apa yang akan kau jalankan?" tanya salah satu rekan bisnis.
"Menjual gadis muda kepada pria hidung belang, aku memiliki banyak channel, mereka siap membayarku 300 triliun per-10 orang, kriterianya harus gadis berumur 17-20 tahun, tubuh molek dan cantik. Bukan gadis desa, karena para pria itu ingin gadis yang pandai bermain," jelas tuan Gao.
"Haha, Kyara adalah contoh yang pas!" celetuk salah satu rekan bisnis.
"Memang, dia cocok, tapi sayangnya sudah ku beli, harganya sangat tinggi. Untuk gadis angkuh dan sombong, aku harus membayar 750 triliun. Aku rugi," jawab Hang Zhi yang membuat semua orang di sana tertawa, termasuk tuan Chen Gao.
Perbincangan selanjutnya, membahas kerjasama dengan para rekan bisnis tuan Gao. Cukup lama mereka mencapai kesepakatan, Hang Zhi terlalu jeli dalam menghitung untung dan rugi, tetapi pada akhirnya kata deal, mengakhiri segala perdebatan yang terjadi.
"Terimakasih telah percaya kepada kami, semoga kedepannya, kita akan menjadi rekan yang solid," ucap salah satu rekan bisnis.
Mereka bergantian saling berjabat tangan, setelah semua rekan bisnis tuan Chen undur diri, kini tinggal Hang Zhi dan tuan Chen Gao yang masih berada di ruang tamu.
"Hang, ada tugas untukmu," Tuan Gao merangkul pundak Hang Zhi.
"Apa itu tuan?" tanya Hang Zhi.
"Temui bos Death Angel, ajak dia bekerjasama, jebak dia," titah tuan Gao.
"Untuk apa?" tanya Hang Zhi.
"Dia penghalang bisnis-bisnisku, pria sok berkuasa itu, harus lenyap," Tuan Gao teringat akan memori di masa lalu, saat dia mengetahui Tien Li telah tewas akibat bos mafia itu, padahal dia dan Tien Li sedang melakukan transaksi obat-obatan bernilai fantastis, tetapi karena saat itu Tien Li tertangkap, dia merugi dan harus kabur ke luar negeri menghindari segala kemungkinan buruk.
"Jika bermain halus, aku mau. Terapi jika kau menyuruhku menyerangnya, bukan gayaku," jawab Hang Zhi.
"Berarti, kau setuju?" tanya tuan Gao memastikan.
"Iya, aku setuju," jawab Hang Zhi.
...* * *...
__ADS_1
Kyara ingin menemui sang ayah, tetapi dia masih ragu. Gadis itu hanya mondar-mandir di depan pintu kamar sang ayah.
Saat kebuntuan melanda, tiba-tiba sang ayah membuka pintu kamarnya.
"Kya?" tanya sang ayah heran.
"Kita harus bicara ayah," pinta Kyara.
"Suamimu? dimana dia?" Sang ayah celingukan mencari keberadaan Hang Zhi.
"Ada di ruang tamu bersama Chen Gao," jawab Kyara.
"Kau panggil dulu suamimu, baru aku ingin bicara denganmu," pinta sang ayah.
"Aku tidak mau, ayah saja! aku malas!" Kyara memilih untuk masuk ke dalam kamar sang ayah, namun tangannya di cengkeram oleh ayahnya.
"Sakit ayah!" Kyara mencoba melepaskan diri dari cengkraman sang ayah, namun sangat sulit.
"Jangan membangkang! cepat! lakukan apa perintah ayahmu! apa kau ingin ku pukul? baru menurut?" Sang ayah benar-benar marah, dia tipe pria yang tidak suka penolakan.
"Lepaskan aku dulu," Kyara menahan rasa sakit itu, beberapa menit kemudian, sang ayah melepaskan cengkraman tangannya.
"Apa kau mencariku?" Hang Zhi mendekati tubuh Kyara. Ia mencondongkan kepalanya ke arah wajah sang isteri.
"Tidak perlu sedekat ini, cepat ikut aku. Ayah akan memukulku jika saat kembali tak membawa menantu kesayangannya," Kyara berbalik, meninggalkan Hang Zhi yang masih dengan posisi yang sama.
'Gadis itu,' gumam Hang Zhi.
...* * *...
Di kamar sang ayah...
Kyara dan Hang Zhi duduk berdampingan, dengan sang ayah berada di depan mereka.
"Beri aku uang, aku butuh 300 milyar," ucap sang ayah mertua.
"Baik, aku akan mengirim uang itu dengan segera," Hang Zhi mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan meminta anak buahnya datang ke markas Blue Dragon untuk mengantarkan uang tersebut.
"Ayah! apa lagi ini? untuk apa uang itu?" Kyara marah karena sang ayah terus saja mengandalkan Hang Zhi dalam masalah keuangan.
"Pulanglah kalian, aku hanya butuh uangmu Hang Zhi," ucap sang ayah yang tidak menggubris Kyara.
__ADS_1
Kyara menahan amarahnya, dia merasa lebih rendah dari tumpukan uang milik sang ayah.
Hang Zhi mengandeng tangan sang isteri keluar dari kamar itu. Sekilas, pria kejam itu menatap wajah sang isteri yang terlihat murung.
"Apa lagi?" tanya Hang Zhi.
"Tidak ada apa-apa, kita pulang saja," jawab Kyara dengan nada suara yang tidak bersemangat.
Langkah kaki keduanya tidak terasa telah sampai di pintu utama, Kyara masih saja murung.
"Apa kau sakit?" tanya Hang Zhi.
Kyara hanya diam, dia sedang malas berbicara. Ia hanya memikirkan bagaimana bisa bertemu dengan Jiho.
Di dalam mobil...
Kyara menyenderkan kepalanya di kaca mobil, ia menangis saat mengenang kisah indahnya bersama Jiho. Cinta sucinya kandas, bahkan lebih mirisnya lagi, ia kini menjadi adik ipar dari Jiho.
"Terima saja, takdirmu adalah menjadi isteriku," ucap Hang Zhi.
Airmata Kyara mengalir dengan deras karena tidak mampu jika harus hidup tanpa Jiho.
"Jangan menangis, aku menjadi lebih bersemangat untuk menghabisi Jiho jika kau bersedih," jelas Hang Zhi.
Kyara tidak menanggapi ucapan Hang Zhi, dia masih meratapi nasibnya.
Ponsel Hang Zhi berdering, ia segera menjawab ponsel itu.
"Ada apa?" tanya Hang Zhi.
"Kami sudah mengetahui keberadaan Jiho, untuk selanjutnya, bagaimana?" ucap sang anak buah.
"Aku ingin sekali membunuhnya tapi karena aku sedang mendapatkan misi dari tuan Chen untuk bekerja sama dengan bos Death Angel, lebih baik kalian pantau terus Jiho, laporkan apapun yang dia lakukan! untuk selanjutnya, tunggu arahan dariku," jawab Hang Zhi.
"Siap bos, kami tunggu perintah selanjutnya darimu," tukas sang anak buah.
Hang Zhi menutup panggilan teleponnya, ia segera menyimpan kembali ponselnya.
"Dia kakakmu, apa kau gila?" ucap Kyara yang mengganggap Hang Zhi terlalu kejam kepada sang kakak.
"Berhentilah memikirkannya, akan aku urungkan niatku untuk membunuhnya, apa kau setuju?" jawab Hang Zhi.
__ADS_1