Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 113


__ADS_3

Di markas utama Death Angel...


Richi masuk ke dalam ruang peradilan dan segera mengintrogasi Tien Lie di bawah lampu temaram yang mencekam, setelah ia membuka lakban di mulut Lie, seketika itu juga sang bandar narkotika mengumpat.


"Brengsek kau Richi!" ucap Tien Lie.


"Katakanlah, siapa yang menyuruhmu?" tanya Richi.


"Gerald, dia yang menyuruhku! jika kau bunuh aku pun, Gerald dan Shadow akan tetap menghancurkan kalian," jawab Tien Lie.


"Shadow?" tanya Richi.


"Aku dan Gerald telah bersekutu dengan Shadow, pemimpinnya yang psikopat itu akan datang padamu, Liu dan Mike akan datang juga, apa kau tidak takut?" jawab Tien Lie.


DOR...


DOR...


DOR...


Tanpa perlu basa-basi, Richi langsung mengirim Tien Lie ke neraka. Tiga tembakan di dada dan kepalanya sudah cukup membuatnya meregang nyawa.


"Aku tidak tahu jika kau adalah penjahat paling mudah aku habisi!" ucap Richi.


Sahabat bos Alex itu kemudian keluar dari ruang peradilan, dia mencari keberadaan Willy. Dia tidak menemukan Will dimanapun, dia meminta bantuan anggota lain untuk membereskan jasad Tien Lie.


Setelah usai dengan Tien Lie, dia teringat akan Jeni, dia bergegas menuju kamar Angela, saat dia membuka pintu, Richi terkejut saat Jeni sudah membuka matanya dan sedang menikmati sarapan yang ia buat untuknya.


"Tuan Richi, terima kasih karena kau telah menyelamatkanku," ucap Jeni.


Richi menghampiri gadis malang itu dan berdiri di sampingnya.


"Sama-sama nona, setelah ini, kau ikut aku ke panti asuhan," ajak Richi.


"Panti asuhan? untuk apa?" tanya Jeni.


"Tempat tinggalmu yang baru," ucap Richi.


"Sebelum pergi, bolehkah sekali saja aku melihat wajah Alex?" pinta Jeni.


"Wah...aku tidak bisa menjamin kau bisa bertemu dengannya nona, aku juga belum bisa menghubunginya lagi, dia sepertinya sedang sibuk," ucap Richi beralasan.


"Tapi tuan, aku hanya ingin hal sederhana itu...apa benar tidak bisa?" rengek Jeni.


'Sial! aku jadi menyesal telah menyelamatkan gadis ini, dia sangat merepotkan, kalau sampai kakak ipar tahu tentang hal ini, bisa habis aku!' batin Richi resah.


"Maaf nona, untuk hal itu belum bisa memutuskan karena bosku memang orang yang sibuk, dia tidak mudah di temui," jawab Richi.


"Apa isterinya melarangnya menemuiku?" tanya Jeni.


"Aku kurang tahu nona, lebih baik kau istirahat dulu sebelum aku membawamu pergi," pinta Richi.

__ADS_1


"Tidak mau, aku ingin di sini, menunggu Alex datang, jika isterinya tidak menyukai Alex bertemu denganku, aku tidak bisa memaksanya, tetapi izinkan aku tinggal disini sampai Alex kembali," jawab Jeni keras kepala.


Richi di buat pusing oleh tingkah Jeni yang kekanak-kanakan itu, di sisi lain, dia sedang banyak tugas, di sisi lainnya ada gadis merepotkan.


"Kau tunggu di sini, aku akan keluar sebentar," pamit Richi.


"Baik tuan," jawab Jeni.


Richi berjalan menuju ruang tamu, dia mencari akal agar bisa membawa Jeni pergi dari markas dan menghentikan keinginan gilanya bertemu dengan bos Alex. Setelah mondar-mandir mencari ide, akhirnya dia menemukan seseorang yang tepat untuk membantunya mengatasi Jeni yang keras kepala itu.


"Dokter Henry, bisakah anda membantu saya memeriksa kejiwaan seseorang?" tanya Richi di sambungan telepon.


"Bisa, aku akan dokter spesialis kejiwaan, kau ini sedang bercanda ya? nanti tuan Richi harus saya tes juga kejiwaannya, biar tidak oleng saat berbicara," canda dokter Henry.


"Haha, saya sepertinya juga telah terganggu kejiwaannya karena seorang gadis," celetuk Richi.


"Apa kekasihmu terlalu posesif?" tanya dokter Henry.


"Dia bukan kekasih, hanya seorang gadis yang ku kenal," jawab Richi.


"Keluhanmu apa terhadap gadis itu?" tanya dokter Henry.


"Dia hanya memikirkan bos Alex, tidak ada hal lain, dia hanya akan meminta saya mempertemukannya dengan bos Alex," jawab Richi.


"Apa dia pernah mengalami peristiwa traumatis?" tanya dokter Henry.


"Belum tahu dok, saya juga sudah lama tidak bertemu dengannya, ini kali pertama kami bertemu setelah lima tahun lamanya," jawab Richi.


"Baiklah dok," jawab Richi.


Richi menutup panggilan teleponnya, dia merasa lega karena ada solusi dari masalah yang membuatnya pening itu.


...☘️☘️☘️...


Di bandara internasional kota barat...


Gerald telah sampai di kota asalnya setelah beberapa hari ini bermukim di Jepang, di sana dia menemui bos mafia Shadow untuk bekerja sama dalam banyak hal, terutama membahas pembumihangus Death Angel yang menurutnya terlalu lama berkuasa di kota kelahirannya.


"Jemput aku di bandara internasional kota barat," perintah Gerald.


"Baik bos," jawab sang anak buah.


Sambil menunggu anak buahnya datang, Gerald menelepon seseorang.


"Tuan Albram Zein, aku sudah kembali, apa kau tidak ingin bertemu denganku?" tanya Gerald.


"Tentu saja, aku juga sudah terlalu lama bersembunyi, kita adakan perjamuan makan malam di rumahku, apa kau setuju?" jawab tuan Albram Zein.


"Tentu saja, kau adalah pria yang menyenangkan, mana mungkin aku akan menolak permintaanmu," ucap Gerald.


"Apa kau sudah menemukan Alex?" tanya tuan Albram Zein.

__ADS_1


"Aku belum menemukannya, tetapi akan segera bertemu dan bertarung dengannya," jelas Gerald.


"Hebat kau Ge, mampu melacak mafia sekelas Alex Fernando," puji tuan Albram Zein.


"Jangan panggil aku dengan nama itu, aku tidak menyukainya, karena hanya Laras yang boleh menyebut nama itu," ucap Gerald.


"Cih, kau masih berharap dengan gadis itu?" tanya tuan Albram Zein.


"Tentu saja, Laras hanya milikku," jawab Gerald.


"Terserah kau saja, pada intinya kau harus segera habisi Alex, kita akan banyak di untungkan jika dia tiada," tukas tuan Albram Zein.


"Tenang saja, bergabungnya Shadow denganku akan membuat kerjasama kita makin kuat, kau tidak perlu mengkhawatirkannya," jawab Gerald.


Jemputan mobil sudah datang, Gerald menutup panggilan itu dan segera masuk ke dalam mobil.


"Kita kemana bos?" tanya sang anak buah.


"Ke rumah ayah dan ibu," jawab Gerald.


"Apa kau serius?" tanya anak buahnya.


"Apa kau melihat aku tertawa saat mengatakannya?" ucap Gerald.


"Tidak bos, maafkan aku," jawab sang anak buah.


Sang anak buah segera membawa bos Gerald menuju kediamannya di kawasan perumahan elit di kota barat, tidak butuh waktu lama untuk sang anak buah mengemudikan mobilnya untuk sampai di rumah orang tua Gerald.


Tetapi saat dia sampai di gerbang rumah itu, dia kecewa karena rumah itu telah di sita oleh bank.


"Sial! kedua orang tua itu juga menggadaikan rumah ini," ucap Gerald kesal.


"Bos, rumah ini telah di sita, kita akan mencari kemana lagi?" tanya sang anak buah.


"Kita pergi ke bar pusat kota, mereka pasti ada di sana," pinta Gerald.


"Siap bos!" jawab sang anak buah yang langsung meluncur ke tempat yang bos Gerald inginkan.


"Bos, selama ini kau tidak pernah sekalipun ingin bertemu kedua orang tuamu, tapi mengapa sekarang kau sangat ingin menemui mereka?" tanya sang anak buah.


"Aku ingin kedua orang tuaku bertemu dengan orang tua Laras, aku ingin melamar gadis pujaanku," ucap bos Gerald dengan senyum sumringah.


"Bagaimana dengan Mery?" tanya sang anak buah.


"Dia hanya pemuas hasratku tidak lebih, aku sengaja meninggalkannya di Jepang agar dia tidak bisa mengacaukan acara lamaranku," jawab Gerald sangat antusias.


"Setahuku, gadismu itu adalah kekasih bos Death Angel, apa kau sudah mempertimbangkan hal itu?" tanya sang anak buah.


"Justru itu adalah waktu yang tepat untukku bertemu dengan Alex," jawab Gerald dengan senyum menyeringai.


...☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2