Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Bertemu Guru Fu Renzo


__ADS_3

Keduanya telah sepakat bertemu di sebuah kafe yang biasa Alex datangi di akhir pekan bersama Laras dan anak-anak tengilnya. Tetapi sang mafia mengatakan ingin menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Guru Fu bersedia menunggu karena dia masih berada di hotel yang kebetulan dekat dengan kafe yang di maksud oleh sang mafia.


Satu jam kemudian, semua pekerjaan Alex telah selesai. Dia merengangkan otot tangan dan kepalanya yang terasa sangat pegal karena harus menandatangani banyak sekali dokumen.


Perlahan dia beranjak dari kursi kerjanya, dan keluar dari ruangan CEO Dounghun.


"Yuna, aku pergi sebentar, jika ada orang yang mencariku, katakan saja aku sedang menemui klien penting," ucap sang mafia kepada sang sekretaris.


"Baik bos," jawab Yuna sembari berdiri dan membungkukkan badannya.


Alex mempercepat langkahnya, dia ingin sekali bertemu dengan Guru Fu karena sebuah kesempatan langka bisa bersua dengannya setelah sekian lama. Dia berpikir akan lebih mudah mendiskusikan tentang pria tua yang datang ke kantornya tadi dengan Guru Fu.


Langkahnya telah sampai di tempat parkir , dia segera naik ke dalam mobil, perlahan menghidupkan mesin mobilnya dan segera melajukan kendaraannya menuju kafe tempat keduanya membuat janji ingin bertemu.


Di sepanjang perjalanan, dia teringat akan masa lalunya, mengingat tentang sang kakak tercinta.


"Seandainya, kau masih hidup kak. Hidupku akan jauh lebih sulit, karena kau akan membuat segalanya menjadi rumit." Alex menyadari banyak hal tentang sifat sang kakak yang serakah dan penuh intrik. Dia akan sering bersinggungan dengan Justin karena sifat mereka yang bertolak belakang. Dengan tewasnya Justin, sudah mengurangi bebannya.


Hanya butuh dua puluh menit saja, akhirnya mobil Alex berhenti tepat di depan kafe bernama Orchid Family.


Sebuah kafe yang mengusung tema anggrek menjadi dekorasinya.

__ADS_1


Alex turun dari mobil mewahnya, dia berjalan menuju ke dalam kafe.


Di sana dia menelisik ke seluruh sudut, sang mafia sedang mencari dimana Guru Fu memesan meja. Setelah ia melihat ada seseorang melambaikan tangan kepadanya, dia tersenyum dan menghampiri orang tersebut.


"Guru!" Alex segera memeluk erat Guru Fu Renzo yang ada didepannya, saat dia melepas pelukan tangan kanan ayahnya itu, terdengar suara lembut dari seorang wanita di samping Guru Fu.


"Nak Alex, duduk dulu." Suara itu berasal dari wanita yang seumuran dengan Guru Fu, senyumnya sangat manis.


"Apa nyonya ini, isteri Guru Fu?"Alex menatap ke arah Guru Fu.


"Iya, namanya Dian Zhi." Guru memperkenalkan isterinya kepada Alex.


"Nyonya, kau sangat beruntung mendapatkan Guru Fu. Dia sangat baik dan penyabar," ucap sang mafia membanggakan Guru Fu Renzo.


"Iya, dia memang baik. Tetapi aku sedih saat melihat Fudo yang tidak ingin menikah, padahal dia sudah berumur," jelas Nyonya Dian Zhi yang merasa keputusan Tuan Fudo terlalu beresiko.


Alex hanya menanggapi dengan senyuman ucapan dari Nyonya Dian, karena pada dasarnya ini karena cinta mati Tuan Fudo hanya untuk Haruka. Tuan Fudo bukan pria yang mudah jatuh cinta, jika dia menyukai Haruka, sampai mati dia akan mempertahankan cinta itu.


Cukup menyeramkan.


"Oh ya, kau anaknya Tuan Fernando kan? aku dulu pernah bertemu Raihana saat masih bersama Xiauling. Aku merasa bersedih saat kehidupan ibumu begitu menyedihkan. Dia harus bersama Tuan Fernando saat hamil anak Xiauling, aku mengira jika ayahmu adalah pria yang jahat, tetapi setelah aku melihat ketulusan hati Tuan Fernando, aku sangat bahagia." Nyonya Dian membuka lagi kenangan di masa lalu, Alex yang memahami situasi ini justru penasaran dengan sosok isteri Guru Fu.

__ADS_1


"Kau teman ibuku?" tanya Alex heran karena Nyonya Dian Zhi mengetahui segalanya tentang kisah cinta segitiga Tuan Xiualing, ibunya dan sang ayah.


"Aku adalah seorang mata-mata dari geng Naga Api, ayah dan ibuku terbunuh saat Naga Api menyerang Blue Sea. Melihat geng itu melakukan hal yang tidak sesuai kata hatiku, aku kabur dan memilih jalanku sendiri. Selama lebih dari 20 tahun aku tinggal di gunung berduri bersama beberapa pertapa. Saat aku berada di hutan kota utara untuk menemui Guruku, aku bertemu dengan Fu Renzo yang juga berguru di tempat yang sama. Latar belakang kami berdua yang mengetahui tentang seluk beluk Blue Sea dan Naga Api, membuat chemistry antara kita berdua terjalin. Tepat satu tahun yang lalu kami menikah. Fu Renzo mengajakku pindah domisili ke New York, dia bilang ingin bertemu denganmu dan mengatakan bahwa ada salah satu anak turun Naga Api yang masih belum puas sebelum anak dari Tuan Fernando tewas." Penjelasan dari Nyonya Dian Zhi yang cukup membuat Alex terkejut.


"Siapa dia?" tanya sang mafia dengan mengerutkan keningnya.


"Seorang pria bernama Asley Xie. Generasi ke lima Naga Api. Dia di kabarkan telah memata-matai dirimu. Kau harus berhati-hati Lex," jawab Nyonya Dian Zhi.


"Apa ada hubungannya dengan perusahaan T-Blum? atau X-Ride?" sang mafia mulai menerka-nerka.


"Ya itu, mereka mendirikan perusahaan itu di bekas markas Toxic. Mereka akan membuat rencana besar untukmu, tetapi aku belum mengetahui apa itu. Kami berdua sedang mencari tahu." Guru Fu khawatir akan kemunculan dua Perusahaan Farmasi yang berhubungan dengan Naga Api mulai mendekati sang mafia.


"Untuk sementara, bawa anak dan isterimu ke rumahku, di sana aman karena jauh dari perkotaan. Aku akan menjaga anak cucu Tuan Fernando sampai maut menjemput." Dedikasi yang begitu tinggi dari seorang Guru Fu. Meskipun sang bos telah tiada bertahun-tahun yang lalu, namun dia tetap setia menjaga generasi penerus Death Angel.


"Baiklah jika memang harus seperti itu, aku percaya kepadamu. Tapi anak-anakku super usil, maaf jika mereka merepotkanmu nanti." Sang mafia menyadari jika kelima kembar jeniusnya super aktif dan selalu banyak ide.


"Apa kau lupa jika aku dulu juga mengasuhmu dan Justin. Kau lebih menyebalkan mungkin daripada anak-anakmu," ledek Guru Fu yang mengetahui masa kecil bos mafia yang tingkahnya luar biasa menguras tenaga.


"Hahaha, aku lupa seberapa tengilnya diriku di masa lalu, yang aku tahu adalah keisengan yang ku buat membuat kak Justin jatuh dan mengeluarkan darah dari hidungnya." Alex mengingat saat dirinya bermain kejar-kejaran dengan sang kakak, karena sang kakak mengambil mainan kesukaannya, dia mendorong Justin hingga jatuh dan mimisan. Meskipun dulu usianya baru enam tahun, tetapi jiwa dan kekuatan mafia telah melekat di dalam dirinya.


"Semoga anakmu lebih baik darimu Lex, kau sangat menyebalkan waktu itu. Ayahmu bahkan menghukummu push up dan sit up 100x dan kau tak kesulitan melakukannya. Kau dari kecil memang sudah hebat." puji Guru Fu, bangga dengan sang mafia.

__ADS_1


__ADS_2