
Beberapa minggu kemudian...
Laras tidak terlihat bersemangat seperti sebelumnya, wajahnya pucat dan sering merasa mual. Alex sangat khawatir dengan keadaan ini, secara khusus, dia merawat Laras dengan tangannya sendiri.
"Sayang, terima kasih, kau selalu ada untukku," ucap Laras yang merasa beruntung memiliki suami baik hati seperti bos Alex.
"Aku sudah mengabdikan diriku padamu, tidak masalah jika hanya merawatmu," jawab bos Alex sembari menyuapi sang isteri dengan bubur ayam buatannya.
"Hoek...hoek...," Laras beranjak dari ranjangnya dan berlari menuju kamar mandi.
Bos mafia mengekor langkah sang isteri yang merasa mual tapi tak kunjung bisa muntah itu. Alex memijat tengkuk sang isteri dengan lembut, Laras sudah merasa baikan. Dia memapah tubuh sang isteri untuk kembali berbaring di ranjang.
"Sayang, apa kau sedang hamil?" tanya bos Alex.
"Darimana kau tahu jika aku sedang hamil?" jawab Laras.
"Diam-diam aku sering membaca buku yang ibumu tinggalkan di kamar tamu, di dalamnya ada ciri-ciri seorang wanita yang sedang hamil, gejalanya persis seperti yang kau alami," ucap bos Alex.
"Wah kau daddy siaga ternyata," puji Laras.
"Tentu saja, coba kau bayangkan, aku ingin lima baby boy darimu dan itu pasti sangat melelahkan, tugasku sebagai bos mafia bukan apa-apanya dari tugas mengurus lima jagoanku nanti," ucap bos mafia.
Alex tiba-tiba menyerahkan sebuah benda kecil yang masih di segel bungkusnya.
"Apa ini sayang?" tanya Laras menguji bos Alex.
"Dari buku ibumu, aku mengetahui jika itu namanya testpack," jawab Alex.
"Astaga, kau juga tahu testpack? luar biasa, kau ini mafia yang mengetahui segalanya!" ucap Laras kagum.
"Biasa saja sayang, jika kita mau belajar pastilah mengetahui banyak hal," jawab Alex.
"Aku mau coba alat ini, semoga saja benar aku hamil," tukas Laras.
Laras sangat antusias untuk mencoba testpack itu di dalam kamar mandi, setelah beberapa menit, Laras tak kunjung kembali. Alex merasa khawatir, dia menyusul sang isteri. Saat masuk ke dalam kamar mandi, dia melihat sang isteri sedang menangis, dia mulai panik.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? apa kau tidak hamil? jangan bersedih jika kau tidak hamil, kita bisa berusaha lagi," ucap bos Alex menenangkan sang isteri yang belum juga berhenti menangis.
"Aku hamil sayang!" jawab Laras yang langsung memeluk tubuh sang suami.
Rasa haru mulai terasa, Alex tidak menyangka jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah, baby A yang di nanti akan segera hadir.
"Terimakasih sayang, yes! love u mommy baby A," ucap Alex yang langsung mengendong tubuh sang isteri dan merebahkan di atas ranjang dengan hati-hati.
Alex seketika menjadi ayah posesif, Laras tidak boleh melakukan apapun tanpa pengawasan sang suami. Dia membatasi ruang gerak Laras.
"Bolehkah aku mencium baby ku?" tanya Alex yang kini duduk di sebelah sang isteri.
"Boleh," jawab Laras.
Sang mafia mencium perut Laras dengan mesra, dia seolah-olah berbicara dengan calon baby A.
"Baby A, my baby boy, kalian sehat-sehat ya di perut mommy, jangan buat mommy kelelahan karena itu adalah tugas daddy," celetuk Alex.
"Bicaralah hal yang masuk akal," ledek Laras.
"Tapi kau jangan melakukan apapun selama aku hamil, akan membahayakan baby kita," jawab Laras.
"Mana mungkin! di buku itu mengatakan boleh berhubungan saat isteri hamil tetapi jangan membuat hal yang berlebihan," tukas bos Alex.
"Syukurlah jika kau paham," jelas Laras.
Alex masih bermalas-malasan di pangkuan sang isteri, dia merasa sangat bahagia.
"Sayang, siapa ya nama untuk baby A kita?" tanya Alex sembari menatap wajah Laras.
"Aku ikut kau saja sayang," jawab Laras.
"Nama mereka adalah, Aarav (bijaksana), Arsenio (gagah berani), Alexi (pejuang), Adya (pertama, tiada bandingan), Adelio (pangeran yang mulia)," ucap Alex.
"Sayang, nama mereka sangat luar biasa, kau pandai mencari nama, kau ini pria langka, dalam sekejap mampu belajar apapun," ucap Laras.
__ADS_1
"Kalau ingin mempunyai baby harus memiliki mental dan persiapan yang matang, nama adalah faktor utama, doa untuk keturunan kita," jelas bos Alex.
Laras membelai rambut sang suami dengan lembut, sedangkan sang suami masih menghadapkan wajahnya ke arah perut Laras dan rebahan di pangkuannya, Alex sangat antusias ketika baby A telah ada di perut sang isteri.
"Sayang? kau tidur?" tanya Laras.
"Tidak, aku hanya sedang membayangkan saat memilki banyak baby, mereka akan berlarian kesana kemari, dimana-mana mainan berserakan, dan masih banyak lagi hal tidak terduga," jawab Alex.
"Kita jalani saja, semoga mereka sehat terus sampai saatnya aku melahirkan," jelas Laras.
Alex membuka kedua matanya dan menatap wajah sang isteri, dia melihat sang isteri semakin cantik dan seksi. Tanpa berkedip, ia masih setia memandang Laras, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Mengapa kau melihatku sampai seperti itu?" tanya Laras.
"Jika aku tiada lebih dulu, apa kau akan menikah lagi?" tanya Alex penuh makna tersembunyi.
"Kita tidak akan tiada sebelum anak-anak kita dewasa, kita pasti akan menua bersama mereka, jangan katakan tentang kematian karena aku tidak sanggup hidup tanpamu," jawab Laras.
Butiran air mata itu, tanpa sadar jatuh begitu saja, menetes di wajah Alex.
"Sayang, apa kau menangis?" tanya sang mafia.
"Tentu saja aku menangis, baru saja aku merasakan kebahagiaan, tetapi kematian yang kau bahas," gerutu Laras.
"Maaf ya, maafkan aku! bukan bermaksud untuk membuatmu sedih, sudah...sudah, kita bahas yang lain saja," jawab Alex sembari mengusap airmata sang isteri.
Laras sebenarnya paham apa maksud perkataan sang suami, hanya saja dia belum ingin terbangun dari tidur panjangnya, dia masih ingin bersama sang suami yang hanya untuknya itu. Seorang bos mafia, yang biasanya sibuk tiba-tiba menjadi pengangguran, beruntungnya Laras memiliki suami macam bos Alex.
"Aku memahami ucapanmu, aku menangis karena kau mengingatkan akan kenyataan tentang dirimu yang tak luput dari kematian setiap harinya, kita akan mendidik anak kita menjadi para jagoan tangguh, masa depan mereka adalah tanggung jawab kita bersama," tukas Laras.
"Tentu saja, aku akan mengajari mereka banyak hal, tentang bertarung dan bertahan hidup, serta ilmu pengetahuan, mungkin mereka tidak akan seperti aku, kelak akan ku bangun universitas untuk kelima anakku, kampus pribadi," jawab Alex.
"Haha, kau banyak uang ya sayang? aku kira kau pria miskin yang hanya bisa bertarung," ledek Laras.
"Aku memang terlihat miskin, tapi sebenarnya banyak uang, ada dua ratus triliun lebih aset pribadiku di seluruh penjuru kota, kau saja yang tidak tahu, tenang saja kau dan anak-anak kita tidak akan kekurangan sampai sepuluh turunan," jelas bos Alex.
__ADS_1
Laras tersenyum mendengar ucapan bos Alex yang sedang pamer kekayaan itu. Tetapi dia suka, di saat seperti ini, sang mafia terlihat lebih imut dan penurut.