Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Taktik cerdas!


__ADS_3

Laras mengajak sang suami masuk ke dalam kamar utama karena ingin membicarakan hal penting tentang kecurigaannya.


Keduanya beriringan masuk ke dalam kamar utama, setelah berada di dalam, Laras mengunci pintu tersebut.


"Mengapa kau menguncinya? ingin mesum denganku ya?"


"Astaga Lex! apa yang ada di pikiranmu hanya mesum saja? tidak, aku ingin membicarakan tentang kecurigaanku terhadap sikap ayah yang aneh akhir-akhir ini."


"Tidak ada yang aneh, semua baik-baik saja."


Alex mencoba menenangkan sang istri agar tidak terlalu memikirkan hal yang belum tentu kebenarannya.


"Tapi Lex, aku mohon! kau harus memantau gerak gerik ayah, dia itu polisi teliti, apapun yang dia lakukan pasti terencana dan rapat."


"Iya, aku paham sayang."


Cup!


Alex tiba-tiba saja mendaratkan ciuman di bibir Laras, kali ini hanya mengambang tanpa penekanan.


"Lex? kau selalu nakal!"


"Kalau tidak nakal bukan Alex Fernando."


Laras mendorong dada bidang Alex yang menempel di dadanya dengan perlahan.


"Minggir sayang!"


"Iya, aku tidak akan memaksamu."


Tubuh kekar Alex menjauh dari tubuh Laras. Wanita itu heran dengan sikap Alex, biasanya dia akan memaksakan kehendaknya, tetapi kali ini tidak.


"Sedang puasa menahan diri?" sindir Laras.


"Iya."


Jawaban singkat Alex menyisakan misteri.


Apa dia marah padaku?


Laras menatap punggung sang suami yang perlahan menghilang di balik pintu kamar utama.

__ADS_1


"Lex, maaf! aku sedang tidak enak badan, rasanya sesak dada ini. Entah apa yang terjadi dengan tubuhku."


Laras merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Rasa tidak nyaman yang membuatnya mengingat masa lalunya.


* * *


Alex berjalan menuju kamar kedua mertuanya, dia mengetuk pintunya.


Beberapa menit kemudian, tiba-tiba dua orang muncul secara bersamaan menatap dirinya dengan waspada.


"Mau apa?" tanya Tuan Hans heran.


"Ada apa? apa kau mendapat masalah?" Sang mafia langsung to the point.


"Laras mengadu?" Tuan Hans beranggapan jika anaknya itu mengetahui permasalahan yang sedang ia hadapi.


"Tidak, dia hanya memintaku untuk membantumu."


"Masuklah, aku memilih rencana bagus untuk menjebak Raf!"


"Oke!"


Tuan Hans mengajak sang mafia duduk di atas sofa, bersama Nyonya Fira juga yang berada di samping ayah mertuanya.


"Lex, dengarkan aku baik-baik. Aku akan menjadi umpan Raf, kau harus mencari bukti kongkrit semua kejahatannya yang tersembunyi. Aku tidak masalah jika harus mendekam di balik jeruji besi, sebagai gantinya kau jalankan misi ini. Aku hanya butuh waktu dua hari sebelum kasusku naik ke pengadilan."


"Dia ingin membuat ayah mendekap di balik jeruji besi? bajinga*an itu? beraninya membuat ayah mertuaku terhina?"


Kemarahan Alex sudah berada di ubun-ubun. Ingin rasanya mencekik kemudian menghujamkan katana di arah tubuh Raf tanpa henti.


"Sabar Lex, jangan gegabah! kau percaya saja padaku, setelah semua tahu jika aku tidak bersekongkol denganmu, Raf otomatis akan jatuh, di tambah track recordnya di dunia kejahatan. Kita pasti menang, percaya kepadaku!"


"Tapi ayah? Laras bagaimana? dia akan sedih."


"Nanti kau sampaikan padanya, jika ini bagaian dari misi."


Alex merasa gundah, tetapi sebagai bos mafia, dia harus melakukan segalanya dengan matang dan keyakinan penuh.


Mau tidak mau sang mafia harus memutuskan segalanya dengan hati-hati dan kali ini, dia membuat keputusan untuk membantu melancarkan misi Tuan Hans.


"Aku serahkan padamu Lex."

__ADS_1


Tuan Hans menepuk pundak Alex dengan senyum penuh arti.


* * *


Di kantor kepolisian...


"Hahaha ... betapa malunya Tuan Hans saat dirinya harus mendapatkan surat panggilan dari kepolisian melalui email dan dia datang sendiri untuk menyerahkan diri! Hahaha ... mengapa kebahagiaan ini terlalu cepat datang? aku ingin dia lebih malu lagi, sepertinya yang selalu menggantung keputusannya atas lamaranku terhadap Laras."


Raf merasa di atas angin, satu musuh telah berhasil ditaklukkan. Kini tinggal sang mafia yang harus segera di basmi.


"Membasmi Alex cukup mudah, dengan mata terpejam, dia pasti sudah mati."


Dia merasa sombong, angkuh dan tidak mau kalah. Padahal di balik kemenangan pribadi itu, dadanya terasa sesak karena Laras tak kunjung ia dapatkan.


"Datangi rumah mafia itu, ajak Tuan detektif! ringkus semua orang yang ada di dalamnya!" perintah Raf di sambungan telepon.


"Tuan, apa tidak terlalu terburu-buru? kita pastikan Tuan Hans masuk ke dalam penjara lebih dahulu. Baru setelah itu kita mengurus Alex Fernando!"


"Di sini yang berkuasa adalah aku, kau hanyalah bawahan! tidak pantas memerintah bos sepertiku! harusnya kau mati setelah ini karena berani menyinggungku!"


Raf di penuhi amarah yang membara karena anak buahnya terlalu banyak bicara dan tidak menuruti ucapannya.


"Maaf bos, aku hanya..."


Belum sempat sang anak buah menjawab perkataan bosnya, panggilan telepon itu sudah berakhir.


Raf melakukan panggilan telepon lagi dengan salah satu anggota yang bertugas menjadi jagal.


"Bunuh anak buahku yang membangkang! dia ada di perbatasan, segera datang padanya, tebas kepalanya berikan padaku!"


"Siap bos!"


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2