
Di kamar utama sang mafia...
Alex membuka pintu kamarnya, langkah kakinya gontai, apa yang dia inginkan tak kunjung di dapatkannya. Tetapi saat melihat sang isteri sudah membuka mata sembari menatap wajahnya, sang mafia begitu bersemangat, namun ia menjaga imagenya, Alex tidak ingin terlihat terlalu menginginkan Laras.
"Kau sudah bangun?" Alex duduk di sofa, ia membaca buku yang ia letakkan di sana semalam.
"Apa kau baik-baik saja sayang?" Laras merasa ada yang aneh dengan sang mafia, sang isteri beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan menuju sofa, dimana sang suami berada.
Laras duduk di samping sang suami, ia sangat heran dengan pandangan mata Alex yang hanya tertuju kepada sebuah buku.
"Sayang?" tanya Laras masih heran.
"Apa sayang? aku sedang membaca buku, apa kau ingin membaca juga?" Alex masih sok sibuk, Laras tersenyum saat mengetahui sang suami yang tidak menyadari jika buku yang di baca terbalik.
"Sayang, apa kau punya keahlian khusus?" tanya Laras masih menggoda suaminya.
"Aku tidak punya hal semacam itu, memangnya kenapa? tumben kau banyak tanya," Alex merasa jika sang isteri banyak bicara kali ini.
Sang mafia masih percaya diri, namun saat buku itu Laras balik, baru Alex menyadari, fokusnya bukan membaca, tapi kepada hal yang lainnya.
"Jika ada masalah, kau cerita saja kepadaku, mengapa harus diam dan sok sempurna? aku kan isterimu," Laras memeluk tubuh sang suami. Ia sukses membuat jantung sang mafia berdebar-debar.
Laras membiarkan suara debaran jantung itu menyatu dengan tubuhnya, perlahan Laras mencium pipi sang suami, ia meletakan dagu dan tangannya di pundak sang suami. Mata mereka saling memandang, perlahan bibir itu sudah saling menyentuh namun belum sepenuhnya bertaut. Hembusan nafas keduanya mampu membuat suasana semakin memanas. Alex membelai wajah Laras dengan mesra, wanita itu memejamkan matanya, ia mencoba merasakan sentuhan hangat dari jari-jari sang suami yang menyentuh wajahnya.
"Kau yang memulainya sayang, jangan salahkan aku jika akan sedikit membuatmu terengah-engah," bisik sang mafia di telinga Laras. Laras tersenyum, ia sangat sensitif di bagian itu.
Alex memulainya lagi, kini bibirnya telah menyergap pipi hingga bibir sang isteri. Pertautan bibir antara suami dan isteri itu akhirnya terjadi namun hanya sekejap saja karena Alex menghentikannya, " Maaf sayang, bukannya aku rakus tapi aku hanya ingin melakukannya saja, demi anak kita, apa kau sudah siap?" Alex benar-benar menyampaikan keluh kesahnya.
"Lakukan dengan perlahan sayang karena aku mudah lelah," jelas Laras memberikan pengertian kepada sang suami.
Alex mengangguk, sang suami menempatkan tubuh sang isteri berada di pangkuannya. Laras melingkarkan kedua tangan di leher sang suami, sedangkan Alex melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang isteri. Pertautan bibir itu berlanjut, meskipun terkesan lambat, namun mampu memacu gairah sang mafia.
Sambil terus memakan bibir sang isteri dengan lahap, tangan Alex mulai bergerilya. Dia berhenti di tempat lembut nan menggairahkan itu, dua aset berharga milik sang isteri yang membuatnya candu, apalagi saat Laras hamil, aset itu menjadi semakin kenyal dan berisi.
"Sekarang ya?" Manik mata Alex menyiratkan sesuatu yang sangat diinginkannya sejak kemarin.
Laras menganggukkan kepalanya, ia mengizinkan sang suami menanggalkan helai kain di tubuhnya tanpa tersisa. Jantung sang mafia berdegup kencang, ia meraih dua aset itu kembali dan memainkannya dengan mulut nakalnya.
Gerakan tubuh Laras semakin tidak beraturan. Alex yang masih mampu menahan diri, meminta sang isteri untuk berhati-hati.
Alex mengangkat tubuh sang isteri perlahan, ia segera melepas helai kain di tubuhnya, kini kedua insan itu telah sama-sama polos tanpa benang sehelaipun.
Alex menarik dengan lembut pinggang sang isteri agar menempatkan diri di pangkuannya, tanpa aba-aba, Laras telah melakukan penyatuan dengan sang suami, membuat Alex terkejut.
Laras kembali melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami, gerakan naik turun penuh irama ia lakukan, sesekali terdengar suara indah dari mulutnya.
__ADS_1
"Kau ternyata lebih nakal," ucap sang mafia yang sangat senang dengan inisiatif Laras.
"Diamlah sayang, ini kan yang kau mau," Laras telah berada jauh dari alam bawah sadarnya, ia kini di surga dunia yang Alex sebutkan tadi pagi.
Perlahan gerakan itu beritme cepat, beberapa detik kemudian Laras lunglai, dia memeluk tubuh sang suami dengan nafas yang menderu.
Kedua kening suami isteri itu saling menempel, nafas keduanya terasa hangat di wajah masing-masing,Alex merasa jika kini gilirannya, namun melihat sang isteri yang penuh peluh, ia bertanya lebih dulu.
"Apa kau baik-baik saja?" Alex memastikan kondisi sang isteri dulu, ia tidak mau terjadi apapun terhadap Laras hanya karena dirinya yang tak mampu menahan diri.
"Baik, segeralah tuntaskan sayang," Lampu hijau dari sang isteri menyala sempurna. Alex mulai beraksi kembali, ia kini yang menguasai permainan, Laras hanya boleh menurut saja. Alex tak ingin berlama-lama bermain karena ia sadar kondisi sang isteri yang tidak memungkinkan untuk diajak berduel.
Penyatuan yang singkat namun bermakna, kini Alex merasa nyaman yang teramat di sekujur tubuhnya. Kini hasratnya telah tersalurkan, tidak ada lagi alasan untuk tidak bahagia. Setelah sekian lama ia menunggu momen ini, momen dimana cinta kasihnya benar-benar membekas di relung sanubarinya.
"Terimakasih sayang, kau memang selalu membuatku candu," Alex mencium kening sang isteri yang masih berada di pangkuannya.
"Syukurlah jika kau merasa tenang, kau bicarakan segalanya padaku, jangan hanya kau pendam sendiri nanti kau sakit," Laras membelai wajah sang suami dengan lembut.
"Untuk yang satu ini sangat sensitif sayang, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, melihatmu terlelap, aku tidak tega, namun dadaku sesak saat tak mampu menahan diri, maaf!" Alex memainkan rambut sang isteri yang sudah mulai memanjang.
"Apa kau suka rambut panjangku?" tanya Laras yang menyadari jika sang suami sedang bermain dengan rambutnya.
"Aku lebih suka rambut sebahumu, terlihat lebih fresh," ucap sang mafia sembari menatap wajah isteri tercintanya.
"Setelah melahirkan, aku akan memotong rambutku," jawab Laras yang beranjak dari pangkuan sang suami. Ia merasa pegal di pinggangnya, " Maaf sayang, tolong kau pakaian baju di tubuhku, pinggangku sakit," pinta sang isteri.
"Kau sangat sexy," ucap sang mafia.
Laras tersipu malu," Hentikan rayuanmu itu," jawab sang isteri. Kini helai kain yang berserakan di lantai itu kembali menempel di tubuh pemiliknya.
Alex memeluk tubuh sang isteri dan mencium pucuk rambutnya," I love you my wife, really love you!" Kata-kata cinta dari mulut Alex mendayu-dayu di telinga Laras, menyisakan senyum manis sang isteri, ia merasa tenang berada di pelukan sang mafia, tanpa beban tanpa keraguan. Segalanya berjalan apa adanya.
#Memorythisday
NB :
Hayoo...lagi pada ngapain? lagi halu ya? π π π , ketahuan kan? π π π
Pastilah! karena othor juga menghayati tiap partnya, semoga para reader juga bisa ikut mengalir seperti air saat membaca tiap kata yang othor sampaikan...π€π€π€
Nah, sesuai ucapan othor tadi pagi, kini othor mau kasih visual babang Alex...
Siapkan mental untuk bertemu si mafia tampan Alex Fernando...
Othor persembahan...
__ADS_1
Jeng...Jeng...Jeng...
...Alex Fernando...
Aku munculin lagi si neng Laras...
...Laras Nugraheni...
...Bonus visual Angela, Richi, Livy dan Gerald...
...Angela Davidson...
...Richard Frederick...
...Livy Garcia...
...Gerald Jeff Dexter...
[Gambar othor ambil dari google ya gaes π€π€π€]
Ganteng gak? ganteng gak? ganteng donk, masa enggak πππ
Cantik gak? cantik gak? cantik donk, masa enggak ππ€π
Gimana gaes? cocok gak mereka berdua?
Semoga tidak mengecewakan karena babang tampan males kalau di foto, dia mah maunya dipeluk sama neng Laras dan kalau kita maunya bang tampan di bungkus bawa pulang, πππ
Sekian dan terimakasih!
__ADS_1
Semoga terhiburβ€οΈπ