
Justin sudah mulai mengemasi barangnya dan berpamitan kepada guru Fu, teman dari Justin yang bernama Waylin enggan ikut bersamanya karena sudah nyaman di tempat itu, selain hutannya yang menenangkan, banyak hal yang ia sembunyikan dari sang bos, dia tidak ingin mati sia-sia jika dia dan guru Fu menjadi pendukung setia Alex Fernando. Waylin sudah bertobat dan mengabdi seumur hidup kepada guru Fu Renzo.
"Terima kasih guru Fu, aku akan selalu menghormatimu sebagai penyelamatku, jika Waylin benar-benar tidak ingin pergi bersamaku, jaga dia tuan, mungkin dia sedikit merepotkan, namun di adalah anak yang baik dan patuh," ucap Justin sebelum pergi.
"Baik tuanku, temui aku jika kau butuh bantuan," jawab guru Fu.
"Baik, aku pergi," pamit Justin.
"Ya, hati-hati di jalan," ucap Justin.
Justin kemudian berjalan meninggalkan tempat persembunyian guru Fu, perjalanan yang Justin lalui tidak menemukan halangan yang berarti. Dia butuh dua jam untuk keluar dari hutan itu.
Setelah menemukan jalan raya, dia mencoba menghentikan mobil, tetapi tidak ada yang berhenti dan memberinya tumpangan kepadanya. Dia tetap berusaha, pada akhirnya ada orang yang rela memberinya tumpangan.
"Tuan? aku ingin pergi ke apartemen X di pusat kota, apa kau bisa menolongku pergi ke sana?" tanya Justin.
"Tentu saja, mari aku antar kau ke sana," jawab pemilik mobil.
Di dalam mobil, mereka terlibat pembicaraan yang terkesan basa-basi, karena melihat Justin adalah orang yang baik, sang pemilik kendaraan meminta kakak Alex Fernando itu menjaga mobilnya sebentar saat dia ingin berhenti untuk buang air kecil, namun anggapan sang pemilik mobil itu salah, bukannya berterima kasih karena telah di beri tumpangan, Justin justru membawa kabur mobil itu.
Sang pemilik mobil kemudian menelpon polisi, saat membuat laporan dia menyertakan plat mobil miliknya agar mudah di cari oleh anggota kepolisian.
"Banyak orang bodoh di dunia ini," tukas Justin dengan lihainya mengendarai mobil itu tanpa merasa bersalah. Dia telah berbuat licik kepada orang yang menolongnya dan itu adalah sifat Justin yang sangat menonjol.
Justin mengendarai mobil itu dengan cepat. Satu jam kemudian, sampailah dia di bar pusat kota. Dia masuk ke dalam bar itu dan menemui seseorang disana.
Justin menghampiri bartender dan menanyakan tentang orang bernama Lim yang bekerja sebagai pelayan di bar tersebut, namun bartender itu mengatakan jika Lim telah berhenti bekerja tiga tahun yang lalu.
"Apa kau tahu dia dimana?" tanya Justin.
"Setahuku dia pernah bilang ingin ikut bersama kakaknya bernama Morgan untuk bergabung dengan geng yang bernama Lucifer, namun aku tidak tahu pasti, dia benar bergabung atau tidak," jelas sang bartender
"Lucifer? dengan bos bernama Wang Zhie yang koma itu?" tanya Justin.
__ADS_1
"Entah tuan, yang aku tahu saat dia pergi, pernah sekali mengucapkan nama itu, tapi hanya sekali, setelahnya dia bilang akan pergi ke sebuah desa di kota barat untuk bertemu Morgan," tukas sang bartender.
"Kau tahu alamatnya dimana?" tanya Morgan.
"Ini tuan," jawab sang bartender sambil menuliskan alamat rumah kakak Lim.
Saat Justin melihat alamat itu, dia terkejut karena alamat yang di berikan oleh sang bartender merupakan desa yang di jadikan tempat persembunyian tuan Xiauling. Justin langsung beranjak dari bar itu dan bergegas pergi mengendarai mobil menuju alamat yang di tulis oleh sang bartender.
Butuh waktu satu jam untuk sampai di sana. Justin mengendarai mobil itu perlahan, di tengah jalan, dia bertanya kepada seorang penduduk desa.
"Apa kau tahu dimana rumah Morgan?" tanya Justin.
"Di sini tidak ada yang bernama Morgan," jawab sang penduduk desa.
"Apa kau tahu di sini sering banyak orang asing yang berlalu lalang?" tanya Justin.
"Iya tuan, mereka sering datang dan beberapa hari ini tidak pernah terlihat lagi," jawab sang penduduk desa.
"Orang asing itu tinggal dimana?" tanya Justin.
"Dimana hutan itu?" tanya Justin.
"Kau lurus saja, saat kau menemukan sebuah rumah dengan pekarangan yang luas, kau harus berjalan kaki selama lima belas menit untuk sampai di hutan itu," tukas sang penduduk.
Tanpa mengucapkan terimakasih, Justin langsung pergi begitu saja.
'Pria yang mencurigakan," gumam sang penduduk.
Sesampainya di sebuah perkarangan rumah yang luas, dia memarkirkan mobilnya di sana. Justin turun dari mobil dan berjalan menuju hutan yang di maksud, setelah lima belas menit kemudian, sampailah dia di tempat persembunyian tuan Xiauling.
'Tak menemukan Morgan juga bukan masalah besar, masih ada tuan Xiauling yang harus aku temui, tapi apakah tuan Xiauling ada di markas itu?' batin Justin.
Dia merasa ragu jika tuan Xiauling berada di tempat persembunyiannya, setahu dia, tuan Xiauling jarang datang ke tempat itu jika tidak dalam keadaan darurat.
__ADS_1
'Apa salahnya jika aku masuk,' gumam Justin.
Justin melangkahkan kedua kakinya mendekati tempat persembunyian tuan Xiauling, semakin dekat dengan tempat itu, semakin tercium bau anyir.
Justin mencoba masuk ke dalam rumah itu, bau anyir itu semakin tajam menusuk hidung Justin tapi dia tidak menghiraukannya. Kemudian dia berjalan mengikuti bau anyir itu berasal, bau itu menyeruak ke seluruh ruangan di dapur dan meja makan, alangkah terkejutnya dia saat melihat para anggota Toxic tergeletak tidak berdaya dengan tubuh berlumuran darah dan diantara para anggota Toxic, ada sosok yang ingin di temuinya telah menjadi mayat seperti anggota yang lain.
"Tuan Xiauling?dia tewas?" tukas Justin tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Justin membanting pintu dengan penuh amarah, dia pergi menjauhi tempat persembunyian tuan Xiauling yang telah menjadi kuburan massal itu.
"Sial! siapa yang berani melakukan semua ini? aku harus melenyapkannya dengan segera!" ucap Justin penuh amarah.
Justin memutuskan untuk menuju perbatasan di kota barat dengan mengendarai mobil curian itu dan kembali mencari jejak para anggota Toxic yang lain di sana.
'Masih ada Thomas yang masih berpihak padaku, aku harus menemuinya di perbatasan,' batin Justin.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya dia sampai di perbatasan yang berada di bibir pantai kota barat.
"Thomas!" pekik Justin.
Pria yang sedang berdiri di bibir pantai itu menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
Justin berjalan mendekati Thomas, pria itu terkejut dengan kedatangan Justin.
"Justin? kau? masih hidup?" tanya Thomas.
"Iya, aku masih hidup." jawab Justin.
"Bagaimana bisa kau selamat dari kecelakaan itu?" tanya Thomas.
"Ceritanya panjang, aku kemari untuk meminta bantuanmu," pinta Justin.
"Apa yang bisa aku bantu Justin?" ucap Thomas.
__ADS_1
"Bantu aku mencari siapa pembunuh anggotaku dan tuan Xiualing!" tukas Justin.