
Sementara itu di rumah Guru Fu, Laras merasakan kerinduan yang mendalam terhadap sang suami. Meskipun baru beberapa jam saja tidak bertemu, tapi rasanya sudah satu tahun tidak berjumpa. Aarav sedari tadi memperhatikan wajah sang mommy, dia khawatir dengan keadaan mommynya. Dia beranjak dari tempat duduknya, langkah kaki kecil Aarav mantap menuju sang mommy yang sedang berdiri di depan jendela dan menatap lurus ke luar jendela.
"Mom!" ucap Aarav sembari menarik baju sang mommy.
"Iya sayang, ada apa?" jawab Laras yang terkejut saat bajunya di tarik oleh anak kembar pertamanya itu.
"Mommy pasti sedang memikirkan daddy, aku tahu." Aarav seperti pria dewasa yang akan mengerti perasaan Laras.
"Tidak sayang, mommy hanya melihat bunga indah di luar sana. Aarav sudah selesai bermain?" tanya Laras mencoba mengalihkan pembicaraan, namun Aarav tidak begitu saja percaya dengan ucapan Laras.
"Aku mengetahui apa yang orang dewasa pikirkan, apalagi mommy dan daddy saling mencintai," ucap Aarav membuat Laras benar-benar terpukul. Dia merasa gagal menyembunyikan kesedihannya dari sang putra.
Laras menggendong tubuh Aarav, dia menimang putranya yang sudah beranjak dewasa itu.
"Mommy, aku ingin menjadi bayi lagi. sepertinya lebih asyik karena selalu bersama mommy dan daddy kemanapun aku pergi," jelas Aarav penuh rasa kasih. Dia merindukan masa kecilnya saat bersama daddy dan mommynya.
__ADS_1
"Apa Aarav tidak bahagia sudah berusia 5 tahun? kan daddy sudah bilang akan membuatkan Taman Hiburan, besok kalian bisa bermain dengan binatang kesukaan. Itu lebih baik dari menjadi bayi," tukas Laras mencoba menghibur sang putra yang meragukan kebahagiaan di masa depan.
Laras mencium kening Aarav, ke empat anaknya yang lain memandang Laras dengan tatapan cemburu.
"Oh, hanya kak Aarav saja di mata mommy?" ucap Lexis, si pencemburu tingkat dewa.
"Iya, hanya kakak Aarav, tidak ada kami di hati mommy!" Adya marah, dia melipatkan tangan di dada dengan bibir yang mengerucut.
Adelio dan Arsenio juga melakukan protes yang sama.
Laras tersenyum bahagia karena melihat kelima putranya yang sangat menyayanginya. Dia terharu, sampai meneteskan air mata..
"Maafkan aku dan adik-adikku mommy, bukan maksud kami membuat mommy menangis," jelas Aarav mewakili ke empat saudaranya meminta maaf kepada Laras.
Laras menurunkan tubuh Aarav, sang mommy berjongkok, kini sang mommy berada diantara kelima anaknya, ia memeluk anak-anaknya dengan penuh kasih dan sayang.
__ADS_1
"Mommy menangis karena bahagia, kalian adalah anak-anak mommy yang paling mami sayangi. Mommy hanya sedang memikirkan sesuatu, jangan terlalu mengkhawatirkan mommy ya?" ucap Laras yang ingin menunjukkan ketegarannya di depan semua putranya.
Tapi sepertinya apa yang dilakukan gagal, sang putra mampu mengetahui apa yang ada di dalam hati mommynya.
"Daddy akan baik-baik saja, dia adalah pria yang kuat." Lexis mengatakan hal tersebut seolah-olah dia pria dewasa.
"Iya, benar apa yang dikatakan oleh adik. Mommy tenang saja ya? kelak setelah kami dewasa, kami akan berlatih beladiri bersama daddy dan akan senantiasa menjaga mommy, kami akan bertaruh nyawa jika ada seseorang yang menyakiti mommy. Kami janji!" ucap Aarav penuh kasih sayang.
Airmata Laras tertumpah sudah, dia tidak bisa menahan lagi betapa bahagia dirinya saat mendengar apa yang dikatakan oleh putranya yang sudah seperti pria dewasa itu.
Di saat rasa haru itu menyelimuti, Nyonya Fira tiba-tiba muncul. Dia memberikan kabar gembira kepada sang putri.
"Laras, suamimu ingin bicara denganmu," ucap Nyonya Fira dengan wajah berbinar-binar.
Seperti mendapatkan keberuntungan yang bertubi-tubi, wajah Laras seketika menjadi lebih bercahaya.
__ADS_1
"Syukurlah jika pria itu baik-baik saja, awas saja jika tidak kembali. Aku tidak mau melahirkan anak perempuan untuknya," jawab Laras yang sepertinya kesal, tapi sebenarnya dia sangat bahagia.
Mendengar kabar sang suami masih hidup saja dia sudah lega. Apalagi bisa bertemu dengannya, sebuah kebahagian tak terkira dari seorang istri yang sangat merindukan kehadiran suami di sisinya.