
Setelah malam yang indah bersama sang isteri, sang mafia tidur bersama kelima anak dan isterinya. Lexis yang sebelumnya banyak bicara, kini telah diam dan memeluk tubuh mommynya dengan erat.
Alex menatap wajah ke lima anaknya yang sangat menggemaskan.
"Kalian jagoan daddy, kelak hanya kalian yang akan mewarisi kepemimpinan Death Angel dan Dounghun Farmasi." Sang mafia telah merencanakan segalanya, demi ketiga anaknya, dia akan lebih keras berkerja.
Alex belum mampu memejamkan matanya, dia masih teringat akan Asley Xie yang ternyata mengincar sang isteri saat kuliah dulu.
'Asley, dia dan Juna sama-sama brengsek. Aku tidak akan pernah memaafkannya jika menyentuh isteri dan anak-anakku' batin sang mafia merasa emosi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari waktu setempat.
Alex memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar utama. Matanya tertuju ke sebuah ruang rahasia miliknya.
"Aku harus mencari tahu tentang Asley di ruang rahasiaku." Alex mendekati sebuah rak buku, saat dia menarik salah satu buku, pintu itu langsung terbuka..
Di dalamnya terdapat meja kerja lengkap dengan ranjang di sampingnya, meskipun tak seluas kamar utama, tapi mampu membuatnya nyaman dalam bekerja ataupun istirahat.
Alex duduk di kursi kerjanya, dia membuka laptop lama miliknya. Di sana terdapat banyak informasi yang anak buahnya kumpulkan mengenai anak turun Naga Api yang dulu sempat memusuhi Tuan Fernando.
Sang mafia menghidupkan laptop itu. Setelah terlihat sempurna tampilan layarnya, dia mengklik bagian folder bertuliskan danger.
Klik!
File tersebut berisi tentang orang-orang yang bermasalah dan meresahkan Alex selama 2 tahun belakangan. Terutama orang-orang yang berhubungan dengan Dio, si bandar narkoba.
Alex menatap biografi Dio, di sana tertulis jika Dio bernama, Dio Mariles, anak seorang bos otomotif Tuan Mariles. Dia bahkan lulus universitas ternama. Tapi Dio memiliki jalan hidupnya sendiri dengan menjadi bandar narkoba.
"Ini menarik, Dio Mariles adalah pria dengan banyak relasi, sebelum dia terjun ke dunia narkotika, dia adalah seorang dosen." Sang mafia menatap layar laptop miliknya dengan seksama saat melihat ada dua foto yang ada di file tersebut.
__ADS_1
"Dio memiliki saudara kembar? ini seperti..." Alex mengingat tentang sosok yang ada di sebelah Dio, tetap ingatannya tentang wajah itu tiba-tiba menghilang, kepala sang mafia terasa sakit.
"Sial! dua hari ini aku tidak bisa tidur gara-gara dua foto ini, hampir saja aku mengingatnya, tetapi ingatan itu hilang dalam sekejap." Alex memijat tengkuknya, rasanya sangat pegal di sana.
Alex memejamkan mata, ia mengingat kembali tentang asal mula sang mafia mendapatkan foto tersebut.
"Saat itu, Franklin mengatakan kepadaku jika ada penyusup yang ingin menghancurkan Dounghun Farmasi, tetapi di saat bersamaan, muncul berita heboh soal fitnah Dounghun Farmasi sebagai perusahaan ilegal yang di lontarkan oleh pria di samping Dio ini. Franklin pernah menyebutnya dengan nama..." Alex tiba-tiba membuka mata, dan mengingat sesuatu.
"Astaga! A.X.I? apa itu Asley Xie?" Sang mafia mulai meraih ganggang telepon di atas meja kerjanya. Dia segera menghubungi Franklin.
Beberapa saat kemudian, Franklin menjawab panggilan telepon dari sang bos saat sebelumnya Alex harus menunggu.
"Maaf bos, aku sedang mengeksekusi dua pria penguntit, mereka belum juga mau mengakui siapa identitas bos keduanya," jelas Frank di sambungan telepon.
"Aku akan datang," ucap sang mafia.
"Tidak perlu bos, aku dan Zicko mampu melakukannya," jawab Franklin yang merasa jika sang mafia lebih baik beristirahat
Sang mafia mematikan laptop miliknya dan menutupnya. Dia segera beranjak dari tempat duduknya. Setelah keluar dari ruang rahasia itu, dia berjalan menuju kamar utama. Dengan perlahan sang mafia membuka pintunya, terlihat wajah sang isteri yang tersenyum kepadanya.
Alex mendekati sang isteri yang ternyata sedang membaca sebuah buku.
"Lex? ada apa?" Sang isteri melihat raut kekhawatiran di wajah sang mafia.
"Aku ingin ke markas sebentar, ada urusan yang harus aku selesaikan," bisik sang mafia.
"Tapi ini sudah tengah malam sayang? apa tidak sebaiknya besok saja?" ujar Laras memberikan saran.
"Sangat mendesak sayang, aku janji akan segera kembali," jawab Alex meyakinkan.
__ADS_1
Laras meletakan bukunya di atas meja, dia segera bangkit dari tempat duduknya. Sang isteri mencium bibir Alex mesra, "Hati-hati sayang." Senyum manis mengembang di bibir keduanya.
Alex mencium kening Laras sebagai salam perpisahan. Setelah mendapatkan izin dari sang isteri, sang mafia siap untuk menuju markas. Dia melihat kelima anak kembarnya yang tidur dengan lelap berselimut mimpi.
Sang mafia melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamar utama. Segera ia membuka pintu utama, langkah kakinya masih berlanjut menuju garasi mobil.
Alex memilih menaiki mobil mewah miliknya yang berwarna hitam.
"Akan ku pastikan, kalian berdua mengaku siapa bos yang terlalu berani mengusikku." Sang mafia mengendalikan mobil miliknya dengan perlahan, semakin lama mobil itu telah lenyap di telan gelapnya malam.
Sepanjang perjalanan menuju markas, Alex menelepon Franklin untuk mengetahui kabar selanjutnya mengenai dua tawanan yang masih saja bungkam.
"Bos, mereka sudah mulai mengungkap identitas nya, tetapi enggan mengatakan siap bos mereka." Franklin memberikan kabar terbaru tentang kedua tawanan yang sudah mulai terbuka.
"Siapa mereka?" Sang mafia menanyakan tentang siapa sebenarnya dua penguntit itu.
"Mereka bilang, dia dari geng yang ada di kota timur," ucap Franklin memberikan informasi terbaru.
Alex berpikir tentang geng yang ada di kota timur, dia rasa kedua orang itu terlalu nekat dan berani. Bagaimana tidak? mereka bahkan menyusul sang mafia sampai ke New York.
"Jangan biarkan mereka membuatmu emosi, aku tahu, kedua orang itu hanya memancing kita agar membunuh mereka. Geng yang ada di kota timur, memilki riwayat yang cukup bagus. Mereka memiliki banyak strategi jitu melawan musuh." Sang mafia mengingat kejadian saat salah satu geng di kota timur menemuinya dan meminta bantuan. Geng tersebut memiliki strategi yang luar biasa terperinci, dia tidak akan membahayakan dirinya dalam sebuah pertarungan. Mereka hanya akan memprovokasi lawan sampai membunuh mereka. Setelahnya, rumor baru akan tercipta. Sang pemimpin geng justru akan membalikkan fakta, akan banyak hal buruk terjadi jika lawan tidak waspada dengan geng yang berasal dari kota timur.
"Siap bos!" jawab Franklin.
Sang mafia menutup panggilan tersebut, dan memasukkan ponsel di saku celananya. Dia bahkan masih mengenakan piyama.
Beberapa menit kemudian, dia telah sampai markas. Ia segera memarkir mobilnya, perlahan dia turun dari mobil mewahnya. Kedatangan sang mafia di markas, di sambut Zicko.
Melihat sang bos mengenakan piyama mahalnya, Zicko sebenarnya ingin tersenyum namun ia menahannya, khawatir jika sang bos akan memarahinya.
__ADS_1
"Apa kau terlihat seperti lelucon?" Alex menyadari jika dirinya memang terlihat kurang garang.
"Tidak bos!" Sang anak buah tetap tegap, meski dalam hati berbeda respon.