
Dua hari kemudian...
"Menjalani hidup seperti manusia normal pada umumnya, ternyata menyenangkan juga. Akhirnya aku bisa kuliah lagi, menikmati udara sejuk dan makan cemilan sambil mengerjakan tugas di bawah pohon yang rindang seperti sebelumnya." Gumam Laras.
Gadis cantik itu kini sedang menikmati menjadi "manusia biasa" tanpa embel-embel menjadi "kekasih bos mafia" karena di kampusnya dia hanya di kenal sebagai anak dari kepala polisi, Tuan Hans.
Sudah dua hari ini dia belum bertemu dengan Alex karena kesibukan masing-masing, dia dan sang kekasih hanya saling berkabar saat Alex menghubungi Laras lewat panggilan telefon, selain itu, mereka hanya akan saling menyimpan rasa rindu yang di rasa, bila sudah tak tertahan, mereka akan saling mengirim beberapa pesan singkat untuk sekedar memberikan semangat.
Kini Laras merasa menjadi mahasiswi seutuhnya, dia melakukan hal yang biasa di lakukannya saat kuliah. Laras lebih menyukai kesendirian saat mengerjakan tugas kuliahnya, biasanya Ia akan duduk di bawah pohon rindang dan membawa serta laptop, beberapa camilan dan satu botol air mineral bersamanya. Dia lebih suka berada di sana, karena siang hari yang panas dan terik ini membuat kepalanya pusing. Di saat dirinya menikmati udara sejuk, tiba-tiba saja ada pria yang mendekatinya, sosok pria itu nyaris sama seperti beberapa bulan yang lalu. Dia masih berkacamata, sopan, dan terlihat elegan. Wajahnya semakin tampan dan mempesona. Dia adalah seorang mahasiswa yang menjadi idola di kampus Laras. Laras hanya menatap wajah pria berkacamata itu sekilas saja karena menurut Laras, pria yang kini sedang duduk di sampingnya ini membuatnya jenuh untuk di pandang terlalu lama.
"Apa kabar, Laras?" Sapa pria yang kini duduk di sampingnya.
Laras enggan menjawab sapaan pria itu, namun sang pria tidak menyerah. Dia tetap mengajak Laras berbicara meski sang gadis tak kunjung merespon ucapannya.
"Apa kau tahu? saat seorang berkhianat, dia akan merasakan karma yang pedih? atau setidaknya dia akan merasakan hal yang sama persis seperti apa yang di lakukannya kepada gadis yang telah di campakkannya dulu. Memang ya, rasa penyesalan itu datangnya di akhir." Ucap pria berkacamata itu.
Laras masih menatap laptop miliknya dengan fokus. Kesepuluh jarinya berlarian kesana kemari di atas keyboard laptop. Laras tidak menyukai kedatangan pria berkacamata yang banyak bicara dan sangat menyebalkan itu, baginya, apapun yang keluar dari mulut pria berkacamata itu adalah sampah.
"Katakanlah sesuatu, beruang kecilku? apa kau akan mendiamkanku hingga diriku tiada?"
__ADS_1
Sang pria berkacamata itu kemudian menutup laptop Laras dan membuat gadis itu kesal, tapi sebisa mungkin dia tidak menunjukkannya. Dia tidak ingin sang pria berkacamata melakukan hal yang akan membuatnya repot sendiri.
"Apa yang kau inginkan? mengapa tiba-tiba datang dan menggangguku. Pergilah, aku sedang sibuk." Jawab Laras ketus.
Gadis cantik itu mulai membuka kembali laptop yang telah di tutup layarnya oleh pria berkacamata tadi, dia kembali mengerjakan tugas kuliahnya.
"Maafkan aku beruang kecilku, aku mengaku salah. Kembalilah kepadaku." Ucap pria berkacamata sambil bersimpuh di hadapan Laras.
"Kau tidak perlu mengatakan dan melakukan apapun. Kisah kita telah berakhir saat kau mencampakkanku. Aku katakan sekali lagi, pergilah Juna, aku tidak ingin berurusan denganmu lagi." Jelas Laras yang sama sekali tidak memandang wajah tampan itu yang kini begitu lemah tak berdaya.
Kedatangan Juna membuatnya teringat akan sosok pria yang pernah menjadi pemilik hatinya di masa lalu. Waktu itu, pertama kali bertemu dengan Juna, dirinya masih menjadi mahasiswi baru di kampusnya, Juna adalah satu-satunya pria yang mampu meluluhkan hatinya, Juna juga menjadi pria pertama yang mengisi hari-harinya selama kurang lebih dua tahun terakhir ini. Kedua orang tua Laras tidak terlalu setuju jika Laras menjalin kasih dengan Juna Albram karena pria itu memiliki ayah yang sombong dan angkuh, sedangkan ibunya terkenal sebagai sosialita tingkat tinggi yang tidak mau bergaul dengan sembarang orang. Atas dasar itu, Tuan Hans dan Nyonya Fira meminta anak gadisnya untuk segera mengakhiri kisah cintanya bersama Juna. Tetapi ucapan kedua orang tuanya, tidak di indahkan sang gadis, hingga peristiwa kelam itu terjadi. Laras melihat sendiri pria yang sangat di cintainya sedang memadu kasih bersama sang sahabat di rumahnya sendiri saat dia sedang keluar untuk membeli makanan. Dia tidak menyangka jika pria yang sangat di cintainya dan sang sahabat tega mengkhianati dirinya tepat di depan matanya.
Juna tidak tinggal diam saat sang kekasih beraksi ketika menangkap basah dirinya, bukannya merasa bersalah atau malu, Juna justru membalikkan fakta tentang apa yang terjadi, dia bermain api dengan sahabat Laras karena merasa jenuh dengan kisah asmaranya bersama Laras yang menurutnya tidak berwarna sama sekali. Laras adalah gadis polos yang tidak mengerti cara menyenangkan dirinya, gadis itu hanya akan mengajaknya pergi makan, jalan-jalan dan hal yang biasa di lakukan pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta. Padahal baginya, cinta bukan hanya sekedar itu, dia ingin Laras menjadi miliknya seorang. Gadis itu mengatakan jika dirinya belum siap melakukannya, dia akan siap jika sudah menikah kelak.
Sebelum pergi dari rumah Laras, Juna mengatakan jika dirinya tidak mencintai sang gadis dan hanya bermain-main dengannya. Juna mencampakkan Laras begitu saja, dia pergi bersama Clara dan meninggalkan luka yang mendalam di hati gadis cantik itu. Laras yang di khianati, tetapi dia yang di salahkan dan di sakiti. Sungguh hari yang buruk untuknya.
"Apa setelah itu kau pergi mabuk, Laras? aku mendengarmu sangat terluka ketika aku pergi meninggalkanmu bersama Clara saat itu, dan beberapa hari setelahnya kau menghilang tanpa jejak." Ucap Juna.
"Apa perdulimu, Tuan Juna Albram? jalani saja hidupmu yang sempurna itu bersama Clara, aku telah melupakan kisah kita. Jauhi aku dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Jawab Laras mulai emosi.
__ADS_1
"Apa di hatimu sudah ada pria lain? setahuku kau hanya dekat denganku saja." Ejek Juna.
"Sudah ada dan dia jauh lebih baik darimu. Cih, apa kau pikir aku senaif itu? hingga hanya memikirkan dirimu saja? aku bukan Laras yang lemah dan mudah kau tipu seperti dulu. Tuan Juna, bisa kah kau menyingkir? aku ingin masuk kelas, jangan menghalangi langkahku." Pinta Laras.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau kembali padaku, Laras, maafkan semua kesalahanku, kita mulai semua dari awal lagi. Aku berjanji tidak akan mengkhianati dirimu ataupun berbohong kepadamu. Tolong berikan aku kesempatan kedua. Kisahku dan Clara telah berakhir, dia pergi bersama pria lain yang lebih kaya dan populer dariku." Jawab Juna memohon.
Laras tak bergeming, dia tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan Juna, meski pria itu berlutut bahkan mencium kakinya sekalipun. Rasa sakit di hatinya sudah cukup menjadi saksi betapa menyedihkannya Laras saat di tinggalkan begitu saja oleh Juna. Hingga dia harus melewati hari-hari yang sulit akibat ulah sang mantan kekasih.
"Hey Tuan Juna Albram yang terhormat? apa kau tidak punya harga diri sama sekali? kau itu orang paling tidak tahu malu yang pernah aku temui, kau dulu telah mencampakkanku dan kini memohon untuk kembali bersamaku? kau memang pria tidak masuk akal. Jika Clara berbuat demikian, itu sudah sepantasnya, karena dia memang gadis matre yang hanya ingin uangmu saja. Dia tidak akan puas dengan satu pria, apalagi pria sok kaya raya sepertimu. Lebih baik kau mengintropeksi dirimu sendiri." Ucap Laras.
"Jika kau tidak mau dengan cara lembut, akan ku lakukan dengan cara kasar. Kau hanya akan menjadi milikku!!!" Jawab Juna yang kini mulai memperlihatkan sifat aslinya yang arogan.
Juna menarik tangan Laras dan mengajaknya pergi. Namun, langkahnya terhenti saat ada pria gagah dan tampan berjas hitam berdiri di depannya.
"Lepaskan tangan gadis itu atau kau akan habis di tanganku." Ucap pria itu sambil mengarahkan moncong senjata apinya tepat di kepala Juna.
Mantan kekasih Laras itu tidak merasa takut sama sekali, justru dia semakin berani.
"Cih, kau hanya mengertakku saja. Aku sedang tidak ingin berurusan dengan pria tidak jelas dan sok pahlawan sepertimu. Enyah dari hadapanku!!!'
__ADS_1
Sikap angkuh Juna membuatnya dalam masalah, dia tidak tahu dengan siapa dia berurusan.