Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Chapter 77


__ADS_3

Pertemuan antara Gerald dan Wang Zhie di Bar pusat kota membuat keduanya sepakat untuk bekerja sama dalam melenyapkan Alex Fernando.


Mereka menyiapkan strategi agar tidak mudah di kalahkan oleh bos Death Angel itu.


"Setahuku jika Alex itu orang yang cerdik, jadi kita harus mengikuti apa yang dia lakukan agar kemenangan menjadi milik kita." ucap Gerald.


"Apa rencanamu?" tanya Wang Zhie.


"Aku akan menyamar menjadi salah satu anggotanya, menyusup masuk dan langsung menghancurkan dirinya." saran Gerald.


"Tidak semudah itu, kau akan menjadi mangsa empuk Alex dan Death Angel." jawab Wang Zhie.


"Lalu?" tanya Gerald.


"Kau dekati kekasihnya, buat dia jatuh cinta padamu. Titik kelemahannya adalah dia." jawab Wang Zhie.


"Kekasih? apa dia memiliki seorang kekasih?" tanya Gerald penasaran.


"Iya, dia menjalin hubungan dengan anak dari kepala polisi Han." jawab Wang Zhie.


Seketika jantung Gerald berdegup kencang kala nama gadis yang pernah singgah di hatinya itu di sebut.


"Laras Nugraheni?" tanya Gerald memastikan.


"Iya, kau tahu banyak mengenai keluarga itu, apa kau mengenal mereka?" jawab Wang Zhie.


"Tidak, aku tidak mengenal Laras ataupun keluarganya. Siapa yang tidak mengenal polisi Han dan keluarganya, mereka termasuk keluarga yang cukup terkenal." ucap Gerald.


"Bagus, kau adalah ahli dalam merayu gadis. Lakukan tugasmu dengan baik." pinta Wang Zhie.


"Baiklah, bukan masalah besar. Lalu apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Gerald.


"Sementara itu saja." ucap Wang Zhie.


Wang Zhie beranjak dari tempat duduknya, Ia mengajak Gerald berjabat tangan dan segera meninggalkan Bar pusat kota itu. Semakin lama semakin hilang, sosok Wang Zhie kini telah lenyap dari pandangan Gerald.

__ADS_1


'Laras, bagaimana kabarmu? lama sekali aku tidak bertemu denganmu.' gumam Gerald.


Gerald teringat akan kisah yang pernah Ia rajut bersama Laras, entah sampai kapan dia akan terus bersembunyi dari gadis itu. Gerald merasakan tiba-tiba rindu yang dulu sempat hilang, kini hadir kembali di hatinya.


Gerald menghubungi salah satu anak buahnya dan menyuruhnya untuk mendapatkan informasi lengkap tentang Tuan Hans dan keluarganya.


"Laras Nugraheni, anak dari polisi Hans dan nyonya Fira, Ia memiliki hubungan dengan seorang bos mafia." jawab anak buah Gerald.


"Hanya itu?" ucap Gerald.


"Iya bos, sulit sekali mengakses informasi tentang gadis bernama Laras dan keluarganya itu." jawab sang anak buah.


"Kau harus segera mencari informasi tentang mereka lagi, bagaimanapun caranya, kau harus segera mendapatkannya." ucap Gerald yang langsung menutup panggilan itu.


Gerald beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari Bar pusat kota itu. Dengan memakai kacamata hitamnya, dia mendekati mobil miliknya, segera membuka pintunya dan bergegas meninggalkan tempat itu.


Pria itu mengendarai mobilnya menuju tempat yang menjadi kenangan indah antara dirinya dan Laras. Dia menuju ke tempat yang pernah Ia singgahi bersama kedua orang tuanya. Perjalanan menuju rumah lamanya itu tidak terlalu jauh dari Bar pusat kota, jadi Gerald tidak perlu menempuh perjalanan yang jauh.


Bos dari geng mafia Blood Lion itu menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang menjadi saksi bisu kedekatan antara dirinya dan Laras. Saat Ia hendak masuk ke dalam, ternyata pintu rumah Laras terkunci.


Gerald berinisiatif untuk menghubungi Laras lewat sambungan telepon, namun Ia ragu, nomor ponsel milik Laras yang Ia simpan sudah lama sekali.


"Apa salahnya aku mencoba menghubunginya dengan nomor itu," ucap Gerald sambil mencari nomor ponsel gadis itu di menu kontak ponselnya, saat dia menekankan tombol call, dia merasa cemas. Bos mafia Blood Lion itu salah tingkah dengan apa yang Ia lakukan.


Saat nomor ponsel itu masih aktif, raut wajah Gerald menjadi sumringah. Sesaat kemudian terdengar suara yang ingin sekali Ia dengar. Seseorang yang selalu menjadi yang utama di hatinya selama kurang lebih dua puluh tahun ini.


"Halo? siapa ini?" tanya Laras.


Beberapa saat Gerald terdiam, entah apa yang terjadi padanya, pria tampan itu merasakan bahagia yang berlebih hingga tak mampu berucap meski hanya sekedar menjawab panggilan telepon itu.


"Halo? siapa ini? jika kau hanya ingin bercanda, tolong tutup panggilanmu jangan menggangguku, aku sedang sibuk." ucap Laras mulai kesal.


Gerald menghela nafasnya dan memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan gadis yang memiliki tempat istimewa di hatinya itu.


"Laras, apa kabar?" tanya Gerald.

__ADS_1


"Siapa kau? darimana kau mengetahui nomor ponselku?" tanya Laras.


"Dari dulu nomormu selalu ku simpan, apa kau tidak mengenali suaraku?" jawab Gerald.


"Tidak, katakan saja kau siapa, aku tidak bisa terlalu lama berbicara denganmu, aku masih banyak pekerjaan." ucap Laras.


"Aku Gerald Leonard." jawab bos Blood Lion itu.


"Astaga, apa benar itu kau? si imut G?" ucap Laras dengan nada suara yang lebih akrab.


"Iya ini aku si imut G, tapi aku tidak imut lagi, aku sudah terlalu tampan. Kau hampir tidak akan mengenaliku jika kita bertemu. Nomor ponselmu juga masih yang ini, aku kira kau sudah menggantinya." jawab Gerald.


"Cih, memang kadar tampanmu bertambah berapa persen? iya, banyak hal yang terjadi dan aku masih terus mempertahankan nomor ponselku ini." ucap Laras.


"Seribu persen, Laras, aku sedang berada di depan rumahmu tetapi rupanya kau sedang tidak ada di tempat." ucap Gerald.


"Iya, aku sedang berada di suatu tempat, maaf Gerald, kekasihku sedang menelpon, besok lagi kita berbincang, masih banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu. Kau tutup saja panggilanmu, nanti kau bisa menghubungiku lagi." jawab Laras.


"Baiklah," ucap Gerald terpaksa menutup panggilan telepon itu.


"Sial!! Alex Fernando, kau telah membuat gadis manisku menjadi milikmu, tidak akan ku biarkan kau hidup. Akan ku rebut kembali apa yang menjadi hakku." ucap Gerald penuh amarah.


Pria tampan itu bergegas meninggalkan rumah Laras menuju hotel Mariana, kemudian dia menelpon seseorang.


"Mery, kau datanglah padaku, temui aku di hotel Mariana, kamar nomor 216." ucap Gerald kepada gadis yang selalu bisa menyenangkannya itu.


"Baik sayang, aku akan segera datang." jawab gadis yang bernama Mery itu.


Sesampainya di hotel, Ia langsung menuju kamar nomor 216, dia merebahkan tubuhnya di ranjang. Tidak lama kemudian, gadis bernama Mery datang. Gadis itu langsung mendekati bos Blood Lion itu dengan membawa beberapa botol minuman agar membuat relaks bos Blood Lion itu, namun kali ini, Gerald sedang tidak berselera dengan minuman atau tubuh sang gadis yang sudah berpakaian minim itu, Gerald membayar Mery hanya untuk menemaninya mengobrol.


"Kau seperti pria yang sedang patah hati sayang?" ucap Mery.


"Bagaimana cara meluluhkan hati seorang gadis? apa yang dia cari dari pria brengsek seperti Alex Fernando?" umpat Gerald.


'Sial!!! dari banyaknya bos mafia yang ku temui, mengapa aku harus berurusan dengannya Alex Fernando lagi?' gumam Mery.

__ADS_1


__ADS_2