
Setelah 10 menit berlalu, Alex telah datang di lapangan futsal tersebut. Anak-anak tidak terlalu antusias karena masih marah dengan Deddy mereka.
"Sayang? bagaimana kabar kalian? mengapa tidak menyambut Daddy?" tanya Alex yang merasa jika anak-anaknya menjauh.
Mereka semua diam, Alex tetap mereka agar mau berbicara dengannya.
"Sayang, maafkan daddy. Oke, daddy mengalah setelah ini. Nanti, Daddy akan mengajari kalian bela diri." Sang mafia tetap membujuk, meskipun tidak mendapatkan respon yang baik dari kelima baby-nya.
"Oke, daddy yang salah! bisakah kalian memaafkanku?" Alex memegang kedua telinganya, dia meminta ampun atas semua kesalahannya.
Kelima baby A masih berdiri membelakangi sang daddy, namun saat mendengar permintaan maaf itu, seketika mereka berbalik dan memeluk Alex.
Joan sangat senang melihat mereka semua akur dan damai.
"Daddy jangan ingkar, setelah ini, harus membawa kami ke tempat pelatihan bela diri!"
Permintaan mencengangkan dari kelima baby super cerdas milik Alex, baru lima tahun sudah memiliki pemikiran ingin jago berkelahi.
Usia 20 tahun, mereka akan menjadi orang yang luar biasa seperti daddynya.
Alex tidak ingin berdebat lagi, dia menyanggupi apapun yang diinginkan oleh para bocil kesayangannya.
__ADS_1
Perdamaian anak dan ayah telah terwujud, kini kondisi telah pulih kembali.
Alex menemani Joan, menjaga kelima baby-nya. Mereka terlihat bahagia saat mengolah si kulit bundar, apalagi ada sang daddy kesayangan.
Pengalaman hari ini sangatlah menyenangkan.
Tap ... tap ... tap
Terdengar derap langkah seseorang yang perlahan mendekati lapangan futsal mini, orang yang sangat Alex cintai dan sayangi.
Laras Nugraheni, menyusul suami dan anaknya ke lapangan futsal mini tersebut.
Ada pria lain yang bersama Alex, dia hanya bergumam saja tidak berani bertanya.
Jika dia membahas pria lain, Alex pasti akan marah.
Usia bermain bola ...
Ketujuh pria tampan tengah duduk di lapangan futsal mini.
Kemudian Laras datang di tengah-tengah para pria itu.
__ADS_1
"Mau minum?" Laras menyodorkan satu kresek dingin.
Mereka mau dan saling berebut.
Dengan tubuh penuh keringat, Alex menarik tubuh Laras di atas pangkuannya.
"Baby, lama sekali! aku rindu," bisik sang mafia. Dia melakukannya di depan Joan tanpa rasa malu.
"Baby, ada anak-anak, dan pria muda itu. Apa kau tidak malu?" Laras berusaha keluar dari lilitan si ular ganas itu, tetapi tangan Alex terlalu kokoh untuk di singkirkan.
"Mereka tidak melihat, sudahlah! apa kau tidak suka jika aku bau keringat?" tanya Alex sembari menarik dagu Laras dan mengecupnya.
"Lex! ini tidak baik, jika anak-anak melihat ...." Belum sempat Laras melanjutkan bicaranya, tiba-tiba saja sudah tidak ada orang di lapangan futsal mini tersebut.
"Kau boleh menoleh, tidak ada anak-anak di sini. Kau bisa kuperlakukan dengan lembut di tempat ini," ucap sang mafia yang kini sudah mulai nakal, sentuhannya sudah menjalar ke mana-mana.
"Lex, kita lakukan di rumah saja!" jawab Laras, saya tidak ingin mendapatkan masalah di tempat hiburan ini jika melakukan tindakan mesum.
"Haha, oke! aku hanya bercanda, mari kita menyusul anak-anak." Alex meminta sang istri untuk bangkit dari pangkuannya, setelah itu keduanya beranjak dari lapangan futsal mini menuju tempat lain yang sedang anak-anak mereka eksplor.
....
__ADS_1