Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Jejak Cleo!


__ADS_3

Di rumah bos mafia...


Malam itu, semuanya terasa begitu indah. Kebersamaan yang terjalin antara pasangan suami istri itu menandakan sebuah hubungan romantis dan penuh gairah. Laras memberikan cinta dengan tulus, sedangkan sang mafia juga memberikan hal yang sama.


Tepat pukul 00.00


Alex terbangun, dia membuka matanya dan langsung menatap wajah ayu istri yang berada dalam pelukannya. Wajah itu terlihat sangat tenang dan damai, ia mengecup bibir sang istri lembut, ingin rasanya mengulangi kebahagiaan seperti yang baru saja ia lakukan bersama sang istri, namun karena sang istri sudah kelelahan, sang mafia harus mengurungkan niatnya dan menunggu waktu yang lebih tepat lagi.


Dia ingin sekali beranjak dari tempat tidurnya, tetapi apa daya sang istri menggunakan tangan kekarnya untuk bantalan tidur, saat ia bergerak sedikit saja, istri akan terbangun. Dia tidak ingin membangunkan Laras di saat ia terlelap tidur.


Drrt...drt..


Dering telepon rumah yang ada di atas nakas membuat sang istri menggeliat, posisi Laras semakin erat memeluk sang suami.


"Dalam kondisi terlelap tidur, kau tidak mau jauh dariku, kau memang sangat mencintaiku," ucap Alex sembari mengusap rambut sang istri lembut.


Suara dering telepon rumah masih saja terdengar, Alex kesal di buatnya.


"Apakah tidak ada waktu lain untuk menelepon? ini sudah tengah malam dan orang yang membuat panggilan telepon ini pasti orang kesepian! Haish!" Alex memang kesal, namun mau tidak mau harus menjawab panggilan tersebut agar sang istri tidak terganggu.


Dalam posisi masih memeluk Laras, tangannya yang lain mencoba meraih gagang telepon yang berada di atas nakas.


Setelah mendapatkan gagang itu dan menempelkan di telinganya, dia mendengar suara yang tak asing.


"Selamat dini hari bosku yang tampan! Ehm, bukan mantan bosku yang tampan dan mempesona!" ucap si penelepon dengan nada angkuh.


"Cih! memangnya aku tidak hafal suaramu? kau ingin seperti orang misterius yang menerorku? nyalimu besar juga!" Alex tidak pernah melupakan para anggotanya yang paling dominan di Death Angel, terutama Cleo, yang harus enyah karena ucapan menyakitkan dari sang mafia.


"Hahaha! kau masih mengenalku hanya dari suaraku saja? kau memang bos terbaik! tetapi sayangnya, mulutmu terlalu menyebalkan!" Si penelepon yang sudah di ketahui jati dirinya, langsung menyindir Alex.


"Cleo Rauna. Pria angkuh dengan insting luar biasa, salah satu anggota terbaikku harus pergi karena tingkahnya yang kekanak-kanakan dan tak tahu aturan!" Alex membalas ucapan Cleo dengan kata-kata yang lebih menohok.


"Haha, aku hanya mengikuti semua ucapan yang pernah kudengar darimu, jika kau menganggapku melakukan hal yang tidak sesuai aturan dan kekanak-kanakan, berarti dirimu juga sama sepertiku!" Cleo memutar balikkan fakta, dia bukan anggota sang mafia lagi, apapun yang ia katakan adalah suatu hal yang berdasar dari hati bukan perintah sang bos, jadi dia tidak perlu sok ramah dan sok patuh lagi.


"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk membunuh musuh yang sudah menyerah dan mengaku kalah! tetapi mengapa kau melakukannya? bahkan kau memberikan tembakan bertubi-tubi kepada mereka yang tidak berdaya! aku tidak pernah mengajarimu harus seperti itu," ucap sang mafia mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat ia bertarung melawan salah satu geng mafia, dia berada di perbatasan bersama Richi, salah satu anggotanya mengabarkan bahwa Cleo melakukan hal yang diluar batas atas nama keadilan, sebab orang yang ia habisi adalah pria yang akan menghancurkan sang mafia. Tetapi pria tersebut sudah tidak berdaya, itu yang menjadi masalahnya.


Cleo tidak boleh bertarung selama 1 bulan, setelahnya dia mendapatkan hukuman lagi tidak boleh memakai senjata api, tugasnya hanya berjaga di markas utama saja. Cleo merasa di anak tirikan, padahal dia merupakan salah satu anggota yang paling setia selain Richi dan Angela serta beberapa anggota pilihan sang mafia.


Dia sudah bosan menjadi pria munafik, pada akhirnya salah satu anggota terbaik bos Alex tersebut mundur dari geng yang membesarkan namanya.


Sejak saat itu, keduanya tidak pernah bertemu atau pun saling mengirim kabar.

__ADS_1


Alex tidak mentolerir apa yang dilakukan oleh anak buahnya itu, karena ia beranggapan jika seorang musuh sudah mengaku kalah kita tidak boleh melakukan hal buruk kepadanya kecuali mereka menyerang kembali, Alex pasti akan memberikan perintah untuk segera menghabisi orang tersebut.


Mereka berdua terdiam, Cleo masih berada di sambungan telepon tanpa mengatakan sepatah kata pun begitu juga dengan mantan bosnya.


"Aku akan segera datang untuk menghancurkanmu bos!"


Tut..tut...


"Cih, dia itu sedang bermimpi atau apa? dasar kurang kerjaan, tapi aku curiga jika dia berada di kota yang sama denganku, bagaimana bisa menemukanku begitu cepat?" Alex masih memikirkan kemunculan mantan anggota terbaik itu.


Namun, dia mencoba untuk tenang dalam menanggapi ancaman dari mantan anggotanya itu. Perlahan dia meletakkan gagang telepon kembali pada tempatnya, setelah itu, ia memeluk erat tubuh sang istri.


"Lex? apa tadi itu mantan anggotamu yang membangkang?" tanya Laras sembari mendongakkan kepalanya dan menatap wajah sang suami.


"Kau masih terjaga rupanya? maaf aku mengganggu tidurmu!" Alex mencoba mengalihkan perhatian sang istri tetapi sepertinya Laras lebih menyukai sang suami yang berkata jujur.


"Katakan saja! aku tidak akan marah, karena apapun yang terjadi pada dirimu, seharusnya aku mengetahui segalanya!" Laras memaksa sang suami mengatakan hal yang sebenarnya, yaitu tentang salah satu anggota yang berada diluar jalur Death Angel.


"Dia hanya pria tidak berguna dan sok berkuasa! kau tidak perlu mengetahui segalanya tentang orang tersebut, yang harus kau lakukan adalah mengandung anak perempuan untukku!" Alex tidak ingin sang istri selalu memikirkan hal rumit di dalam gengnya, dia terus saja mengalihkan perhatian sang istri agar Laras tidak terlalu banyak bertanya.


"Bosan! kau itu pria yang membosankan!" Laras kesal, ia segera menjauh dari tubuh kekar sang mafia dan berbaring membelakangi tubuh Alex.


"Oh, kau sedang merajuk ya? oke, aku mandi saja." Kini sang mafia yang justru berakting marah. Dia ingin mengetahui respon sang istri saat dia tidak terlalu memperdulikan ucapan Laras.


"Aw!" Laras terkejut saat tubuhnya berada di gendongan sang mafia, tapi keduanya tidak memakai benang sehelai pun. Alex berdiri di atas ranjang kemudian melompat ke bawah.


"Haha, aku sudah seperti seorang superhero belum?" ucap Alex sembari berjalan menuju kamar mandi.


"Kondisikan milikmu itu sayang! yang boleh melihatnya hanya aku seorang!" Laras mengingatkan kepada sang mafia agar tidak bertindak terlalu berlebihan saat bercanda.


"Sudah aku kunci pintunya, yang bisa melihat memang hanya kau? semoga aku memperlihatkan kepada gadis lain, hal yang buruk pada milikku itu!" Alex tidak bisa membayangkan saat dirinya mengalami hal tersebut karena kepergok menemui seorang gadis dan sang istri sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Padahal sampai mati pun dia tidak akan melihat gadis lain, hanyalah seorang di hatinya. Sang istri menatap wajah sang suami dengan tatapan mata yang tajam.


"Lex! apakah kau membayangkan seorang gadis saat bersamaku? apakah itu yang ada dipikiranmu?" Laras masih saja mencurigai sang suami yang hanya mencintai dirinya itu.


Tanpa basa-basi Alex langsung membungkam mulut sang istri dengan mulutnya, pertautan itu begitu panas tetapi sang istri tidak membalas aksi sang suami. Dia hanya diam saja seperti patung, bibir dan lidahnya sama sekali tidak mau bermain di dalam mulut sang suami.


Namun sepertinya sang suami tidak terlalu memperdulikan itu, sambil berjalan menuju kamar mandi, dia masih saja melanjutkan aksinya tanpa respon berarti dari Laras.


KLEK!


Setelah pintu kamar mandi terbuka, Alex menghentikan aksinya dan masuk ke dalam bak mandi bersama sang istri.

__ADS_1


"Okelah aku akan menceritakan apapun kepadamu, jangan marah lagi!" Alex coba merayu sang istri yang sedang marah kepadanya itu.


"Jika ingin mandi mengapa tidak ada air?" Laras menggerutu, dia memprotes bak mandi yang kosong tanpa air setetes pun.


"Ini seperti hatiku yang kering karena kau mengacuhkanku!" ucap sang mafia langsung kepada inti permasalahannya.


"Ehm, lebih baik kau katakan apa yang sebenarnya terjadi, tidak perlu menyembunyikan itu dariku karena aku sudah mengetahuinya!" Laras tetap keukeuh ingin mengetahui kebenaran tentang percakapan antara Cleo dan suaminya.


"Oke, aku mulai dari mana?" tanya sang mafia yang pura-pura tidak tahu apa-apa, dia sebenarnya hanya ingin menggoda saja.


"Bertele-tele, membosankan!" Laras ingin beranjak dari bak mandi, namun ia meraih tangan mungil Laras dan menjatuhkannya tepat di dada bidangnya.


"Tidak bisa pergi jauh dariku, meskipun hanya sedetik saja! aku akan menceritakan kepadamu tentang orang itu, tetaplah duduk di pangkuanku!" Bibir sang mafia sudah mendekati bibir sang istri, namun ia tak melakukan apapun.


"Dia adalah anggotaku yang berkhianat," ucap sang mafia sembari membalikkan tubuh sang istri. Kini posisi tubuh Laras berbaring di dada bidang Alex.


"Lalu?" Laras memejamkan matanya saat tangan Anakal Alex menyergap dua aset sensitif miliknya. Dia bermain cukup lama di sana, tak lupa bibirnya juga berada di leher sang istri, dia mencium area itu hingga meninggalkan bekas kepemilikan.


"Dia membuatku marah, aku mengatakan hal yang menyakiti hatinya, jadi dia membenciku!" ucap Alex di sela aksi nakalnya yang semakin menjadi.


"Lex! hentikan! bercerita sambil bergerilya membuatku tidak fokus!" protes sang istri.


Alex tidak memperdulikan ucapan sang istri, dia tetap melancarkan aksinya.


"Aku dan dia tidak lagi satu misi, aku berusaha memberikan pengampunan kepadanya, tetapi dia ingin melawanku, aku sangat kesal kepadanya!" Sang mafia kini semakin menggila, tangannya memang tidak bisa di kondisikan saat berada dekat dengan Laras.


"Lex! cukup!" Mulutnya boleh menolak, tetapi tubuhnya menerima saja.


"Lanjut ya?" Alex terus saja menggoda sang istri hingga suara bising dari balik pintu kamar utamanya membuatnya terkejut.


"Dadddy! dadyy! dadddy!"


Suara nyaring di selingi ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2