Cinta Satu Malam Bos Mafia

Cinta Satu Malam Bos Mafia
Kegelisahan Laras!


__ADS_3

Sementara itu, di rumah sang mafia, Laras mengalami perasaan gelisah yang akut. Dia tiba-tiba memikirkan keadaan sang suami. Di saat rasa itu memenuhi hati dan pikirannya...


Dering telepon rumah yang ada di kamarnya membuat Laras berfikir jika itu adalah sang suami.


"Halo Lex? kau dimana?" ucap Laras, instingnya mengatakan jika sang penelepon adalah suaminya.


"Helo baby? kau mengenaliku sebelum aku bicara? luar biasa!"


"Hey pria tidak tahu diri, mengapa kau pergi begitu saja? dimana kau sekarang?"


"Aku ada di markas, sedang bekerja keras!"


"Oh, ya sudah selamat bekerja!"


"Mengapa hanya berkata seperti itu? kiss mana? kiss?"


"Haissh! apa lah, ya ya.. biar kau puas! Muaaaaacchh!"


"Ingin peluk."


"Sudah, sana kerja!"


"Oke, jaga hati ya? aku pulang, kita bermesraan, bagaimana?"


"Iya."


Percakapan antara Laras dan sang suami berhenti sampai di situ saja, tidak kurang dan tidak lebih.


Laras kini merasa lega saat mengetahui jika sang suami sedang bekerja.


"Huft, pikiranku sudah tidak karuan. Syukurlah semuanya masih aman terkendali." ucap Laras yang memutuskan untuk menemui kelima baby A nya.


Laras berjalan perlahan menuju kamar anak-anak, kelima anaknya sejak dini hari masih saja belum ingin tidur. Membuat Laras khawatir, tetapi keras kepala Alex memang menurun kepada baby A nya, sekuat apapun Laras memberikan pengertian, sekuat itupun mereka akan memberi banyak alasan.


KLEK!


Laras membuka pintu kamar sang baby, dia melihat kelima babynya terlelap tidur di ranjang masing-masing. Dia masuk ke dalam kamar sembari memberikan ciuman selamat tidur.


"Kalian adalah harta berharga yang mommy miliki, tidak ada yang lain. Uang berapa triliun 'pun tidak akan bisa menggantikan posisi kalian berlima di hati mommy."

__ADS_1


Wanita itu mencintai anak-anaknya lebih dari apapun, namun akhir-akhir ini dia merasa sedih karena kesehatannya menurun drastis. Dia mudah sekali lelah dan kurang napsu makan, berat badannya suka turun berapa kilo, tetapi Alex pernah mengeluh akan hal itu, dia hanya mengatakan agar sang istri makan dan tidur secara teratur.


Di rumah mereka, kini sudah ada kedua orang tua Laras, semuanya akan lebih terkendali. Apalagi, Tuan Hans juga sangat menyukai cucunya, boros tidak akan kelelahan lagi dalam menjaga kelima babynya.


Namun kali ini, rasa lelah yang ia rasakan berbeda, kepalanya merasa pusing dan badannya lemas sekali.


Hingga...


Bug!


Tubuh Laras ambruk.


* * *


Di kamar tamu...


"Kau coba cari anakmu, aku tiba-tiba memikirkannya," pinta Tuan Hans.


"Baiklah, kau tetap istirahat saja. Setelah ini, akan menemui pria kurang ajar itu pasti akan membutuhkan banyak tenaga."


"Iya, aku mengetahui hal itu, makanya aku menyuruhmu."


Senyum tipis menghiasi bibirnya saat mengingat sang suami begitu perhatian kepadanya.


"Dia kadang menyebalkan, tetapi lebih baik begitu, daripada dia harus mendekati wanita lain untuk diperhatikan?"


Nyonya Fira menggeleng-gelengkan kepalanya, saya berharap hal itu tidak akan terjadi karena hanya Tuan Hans yang ada di hatinya.


Meskipun sering sekali bertengkar, tetapi sebenarnya mereka berdua adalah pasangan yang serasi.


Langkah kaki Nyonya Fira terhenti saat berada di depan pintu kamar anak-anak.


Tanpa menaruh curiga sedikitpun, dia membuka pintu tersebut.


Saat pintu itu sudah terbuka, saat mendapati sang Laras telah tergeletak tak berdaya di atas lantai.


Nyonya Fira panik, dia berteriak memanggil suaminya, beberapa menit kemudian, barulah sang suami datang.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Anak kita pingsan!"


"Astaga! aku akan mengendongnya, kau siapkan mobil."


"Baik!"


Nyonya Fira dan Tuan Hans masuk ke dalam mobil bersama Laras yang sedang pingsan.


Nyonya Fira meminta Tuan Hans agar tetap di rumah, dia akan pergi ke rumah sakit bersama salah satu anak buah sang mafia.


Awalnya Tuan Hans tidak setuju dengan rencana ini, tetapi karena dia memiliki urusan yang lain, alhasil dirinya harus tetap di rumah.


Nyonya Fira mengendarai mobil milik Alex dan meminta bantuan 2 anggota untuk menemaninya.


Dia tancap gas dengan mobil mewah sang mafia sedangkan sang suami berada di rumah untuk menjaga baby A untuk sementara waktu, sebelum dirinya pergi memenuhi panggilan dari pihak kepolisian.


"Semoga anakku baik-baik saja, tidak biasanya dia sakit seperti ini."


Harapan Tuan Hans untuk anak semata wayang yang sangat ia cintai. Tidak lain dan tidak bukan adalah agar sang anak tetap sehat, dan penyakit yang Laras derita tidak semakin parah.


Langkahnya gontai menuju kamar cucunya, dia ingin menemani kelima cucunya, agar saat mereka terbangun tidak sedih tanpa kehadiran Laras dan Alex.


Sedangkan di luar rumah, para anggota galau saat Nyonya besar pingsan.


"Lebih baik telepon bos atau tidak?" ucap anggota A.


"Tidak perlu, nanti bos tidak fokus, rencana akan gagal," jawab anggota B.


"Kau benar, lebih baik kita biarkan saja bos tidak mengetahui hal ini," saran anggota C.


Semua anggota Death Angel setuju untuk menyembunyikan kabar jika Nyonya besar pingsan.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2