
Laras memarkirkan mobil milik Alex tepat di depan apartemen kekasihnya itu. Dia teringat akan gadis yang mengaku telah di lecehkan oleh Alex. Ingatan akan hal itu membuatnya kesal.
"Aku akan sangat marah jika Tuan Alex benar-benar memiliki gadis lain." Batin Laras.
Angela heran melihat Laras yang hanya diam sambil terus memegang stir mobil, Ia kemudian menepuk pundak Laras pelan untuk menyadarkan gadis cantik itu dari lamunannya.
"Nona, apa kau tidak ingin turun?" Tanya Angela.
"Bayang-bayang gadis yang mengaku pernah satu ranjang dengan kekasihku itu membuat otakku mendidih." Batin Laras.
Melihat sang gadis tidak merespon, dia kembali menepuk pundak Laras untuk kedua kalinya. Kali ini Laras merespon, dia mengatakan jika dirinya sedang memikirkan sesuatu hal.
"Nona, apa kau ada masalah yang membuatmu dalam kesulitan hingga harus memikirkannya begitu keras?" Tanya Angela.
"Tidak seperti yang kau pikirkan, Angela. Hanya hal kecil yang bisa ku selesaikan sendiri. Lebih baik kita langsung masuk ke apartemen Tuan Alex saja." Pinta Laras.
"Baik, nona." Jawab Angela.
Mereka turun dari mobil dan segera melangkahkan kedua kaki mereka menuju apartemen milik bos mafia itu. Untuk mencapai apartemen milik Alex, mereka harus naik lift. Setelah masuk ke dalam lift, Angela menekan tombol angka yang sesuai dengan nomor apartemen milik sang bos. Setelah pintu lift itu terbuka, segera saja keduanya melangkah keluar dari lift tersebut dan menuju apartemen yang di maksud. Di depan pintu apartemen nomor 15, mereka berdua berhenti. Angela menggesekkan kunci kartu kemudian menekan tombol angka yang menjadi kata sandi apartemen tersebut. Pintu besi itu pun terbuka, keduanya segera masuk ke dalam.
"Nona, beristirahatlah. Aku ingin ke kamar mandi sebentar." Ucap Angela.
"Baiklah." Jawab Laras.
Saat Angela sedang berada di kamar mandi, Ia meninggalkan ponselnya di atas sofa. Laras yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa terkejut dengan getaran ponsel milik Angela. Dia ingin meletakan ponsel itu di atas meja, namun saat Ia melihat ada nama Alex tertera di layar ponsel itu, dia ingin sekali menjawab panggilan tersebut. Namun, karena itu ponsel milik Angela, Laras mengabaikan panggilan tersebut.
Laras merasa bosan, dia memutuskan untuk menonton televisi. Dia meraih remote televisi yang berada di atas meja di depannya dan segera menekan tombol on di remote tersebut. Setelah televisi itu menyala, tidak sengaja channel televisi itu terhenti di sebuah acara berita. Pemberitaan dalam acara tersebut menanyangkan jika Tuan Xiauling telah resmi menjadi pemilik Perusahaan Farmasi Dounghun. Berita ini membuat Laras terkejut, segera saja Ia menelpon sang Ibu.
Ia mengambil ponsel yang ada di saku bajunya dan menghubungi nomor ponsel Ibunya, tetapi tidak kunjung mendapatkan jawaban.
"Ayolah Ibu, angkat telepon dariku." Ucap Laras cemas.
Di saat kekhawatiran melanda gadis cantik itu, Angela keluar dari kamar mandi dan menegur Laras yang terlihat sangat serius menonton televisi.
"Nona, apa yang kau tonton? serius sekali?" Tanya Angela sembari mendekati Laras dan duduk di sampingnya.
"Aku tidak sengaja melihat pemberitaan tentang perusahaan ibuku yang telah di kuasai oleh Tuan Xiauling. Aku harus memberitahu Ibuku. Namun, entah Ibu pergi kemana hingga saat ku menelponnya, panggilan telepon dariku tak kunjung mendapatkan jawaban darinya." Jelas Laras.
__ADS_1
"Kau tenanglah, bos ku yang akan mengurusnya, kau tidak perlu khawatir." Pinta Angela.
"Bagaimana aku tidak khawatir? Perusahaan itu menjadi aset berharga keluarga kami. Ibuku telah bekerja keras untuk tetap bertahan di kondisi apapun dalam mengelola perusahaan itu dan akhirnya mencapai kesuksesan seperti sekarang ini." Jawab Laras penuh kekhawatiran.
"Iya, aku tahu nona. Tetapi saat ini ibumu juga pasti sudah mengetahuinya, lebih baik kau beristirahat. Aku akan berjaga di sini. Soal Dounghun Farmasi, kita masih bisa membahasnya lain waktu." Pinta Angela.
Dengan langkah gontai, Laras menuju kamar milik bos Alex, setelah itu dirinya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Di atas ranjangpun, pikirannya masih belum tenang. Dia masih memikirkan Ibunya.
"Kalau ibuku benar-benar sudah mengetahui hal ini, pasti dia akan sedih. Aku mengira ucapan Tuan Xiauling hanyalah omong kosong, tak ku sangka jika pria tua itu benar-benar ingin menghancurkan Ibuku." Gumam Laras.
Di saat kekhawatiran di dalam hatinya melanda, tiba-tiba ponsel miliknya bergetar, Ia segera mengecek siapa yang menelponnya. Di layar ponselnya tertera private number, Ia enggan menjawab telepon tersebut, namun nomor itu terus saja menelpon. Dia kemudian mematikan ponsel miliknya dan meletakan ponsel miliknya di atas nakas.
Laras menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, dia mencoba mengalihkan kekhawatirannya dengan memaksa kedua matanya terpejam. Namun, hal ini tak kunjung berhasil membuatnya tenang, justru bayang-bayang gadis yang mengaku telah bermalam dengan kekasihnya itu kembali menghantuinya.
Tok... tok... tok...
Terdengar suara ketukan pintu, Laras bangkit dari ranjangnya dan segera membuka pintu.
"Ada apa Angela?" Tanya Laras.
"Bos baru saja menelponku karena aku lupa melapor kepadanya jika kita sudah sampai di apartemen miliknya. Dia menanyakan tentang nomor ponsel milikmu, dia berulang kali menghubungimu, tetapi sama sekali tidak terhubung." Jelas Angela.
Saat keduanya sedang berbincang, Alex kembali menelpon Angela.
"Kau lihat? bosku kembali menelpon. Kau saja yang menjawab." Pinta Angela.
"Sebenarnya aku sedang tidak ingin bicara di telepon dengannya. Tetapi agar dia tidak khawatir kepadaku lebih baik aku jawab saja." Gumam Laras.
"Nona? hey? nona Laras? apa kau mendengarku?" Tanya Angela.
"Maaf Angela, aku sedang memikirkan banyak hal, jadi aku tidak fokus." Jawab Laras.
"Tidak masalah nona, lebih baik kau bicarakan saja semua masalahmu dengan bos Alex agar dia bisa membantumu." Pinta Angela.
Angela memberikan ponselnya kepada kekasih bosnya itu, kemudian Laras masuk ke dalam kamar dan duduk di samping ranjang.
"Ada apa kau mencariku?" Ucap Laras menjawab panggilan telepon dari kekasihnya.
__ADS_1
"Syukurlah, akhirnya kau menjawab panggilan telepon dariku." Jawab Alex lega.
"Ada apa?" Tanya Laras ketus.
"Terdengar dari suaramu, sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik." Terka Alex.
"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Laras datar.
"Nomor ponselmu susah sekali di hubungi, bagaimana bisa baik-baik saja?" Tanya Alex.
"Ada orang yang menerorku, dia menghubungi dengan private number berkali-kali membuatku kesal, jadi aku mematikan ponselku." Jawab Laras masih dengan memendam rasa kesal di hatinya.
"Apa ada hal yang ingin kau sampaikan kepadaku? aku merasa kau sedang marah padaku?"
Laras terkejut saat sang kekasih mampu membaca isi hati dan pikirannya. Namun, dia tetap bungkam.
Mereka diam untuk beberapa menit, kemudian terdengar suara tangisan Laras. Seketika Alex panik, dia berkali-kali memanggil nama sang kekasih untuk memastikan keadaannya.
"Sayang? apa yang terjadi padamu? Laras? Laras? hallo? apa kau mendengarku? Laras? sayang? sayangku?" Ucap Alex.
"Aku tidak mampu menahan perasaan ini terlalu lama." Jawab Laras dengan tangis sesenggukan.
"Sayang? ada apa? katakan saja kepadaku apapun itu." Pinta Alex.
Laras kemudian menceritakan hal yang membuat dirinya begitu ketus hari ini. Saat Alex mendengar alasan sang kekasih, dia tertawa hingga membuat Laras terheran-heran.
"Hey bos mafia? kau ini jarang sekali tertawa, tetapi sekali tertawa kau malah menertawaiku. Kau tega sekali." Ucap Laras.
"Kau sangat lucu, kau percaya begitu saja dengan perkataan Angela. Gadis yang di sebutkannya itu memang ibuku, kau ini memang gadis pencemburu. Kau begitu menggemaskan." Jawab Alex.
"Hey? aku serius Tuan!! Apa lagi saat aku sampai di apartemen ini, aku langsung teringat akan gadis yang mengaku telah di lecehkan olehmu itu." Ucap Laras.
"Sayang, aku kan sudah menjelaskan jika dia orang suruhan Tuan Xiauling, ternyata kau masih meragukanku ya?" Tanya Alex.
"Iya, aku ragu." Jawab Laras tegas.
"Baiklah, tunggu aku sayang, aku akan datang ke apartemenku setelah urusan dengan musuhku usai. Akan aku buktikan jika kau salah telah meragukanku." Ucap Alex.
__ADS_1
"Hm." Jawab Laras masih kesal.
Dia menutup begitu saja panggilan telepon dari sang kekasih.