
Di tempat lain, Tuan Hans dan Nyonya Fira sedang berbincang bersama isteri Guru Fu. Mereka begitu antusias menanyakan banyak hal tentang perkebunan bunga yang ada di green house tersebut.
"Nyonya, sudah lama kalian tinggal di sini?" tanya Nyonya Fira penasaran karena banyak jenis bunga yang unik dan menarik yang hanya ditanam di tempat itu.
"Sebenarnya sudah, tetapi karena suamiku memiliki pekerjaan di tempat lain, kami mempercayakan rumah dan green house ini kepada seseorang pekerja kebun agar merawat semua yang ada di sini. Pekerjaan suamiku tidak menentu, sewaktu-waktu bisa berpindah dari negara A ke negara B hanya dalam waktu beberapa menit saja," jelas isteri Guru Fu yang sengaja menyembunyikan identitas asli sang suami. Dia tidak ingin orang tahu jika dia adalah seorang pria dari geng Blue Sea, karena itu yang sudah tertanam di dirinya. Meskipun di depannya kini adalah keluarga dari Alex, tidak ada pengecualian tentang hal tersebut.
"Oh, jika seperti itu, pasti suamimu sangat sibuk ya?" Nyonya Fira masih ingin membahas tentang keluarga Guru Fu, tetapi saat isteri sang Guru ingin menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba ada suara derap kaki yang semakin lama semakin keras terdengar.
"Kakek!" pekik seorang pria kecil yang berlari menuju sang kakek dan memeluknya.
__ADS_1
"Aduh! pria kecil ini, mengapa kau berlari? dimana mommymu?" tanya Tuan Hans, dia melihat di belakang sayang sudah tidak ada siapapun selain dirinya.
"Mommy sedang bersama yang lain bermain sepak bola di belakang rumah kakek temannya daddy," jelas Adya dengan muka yang menggemaskan.
"Ayo kakek, ikutlah bersama kami bermain sepak bola!" pinta sang cucu, dia tidak bisa menolak jika itu yang meminta adalah sang cucu tercinta. Dengan penuh kebahagiaan dia menuruti permintaan Adya.
"Isteriku, aku pergi dulu ya." pamit Tuan Hans. Dia tidak bisa berkutik lagi saat si kecil menarik tangannya agar segera keluar dari green house dan bermain bersamanya di belakang rumah tersebut.
Setelah kepergian si kecil dan suaminya, Nyonya Fira dan isteri Guru Fu, terlibat perbincangan yang penting.
__ADS_1
"Nyonya, maaf! bukannya aku lancang, Aku penasaran apakah musuh-musuh Alex di masa lalu kembali muncul?" tanya Nyonya Fira penasaran, ingin sekali mengetahui fakta yang sebenarnya. Karena sebelumnya dia juga mendapatkan teror tentang pria yang berinisial M.R memperingatkan untuk berhati-hati dan menjauhi sang bos mafia.
"Ada sebenarnya yang terjadi?" imbuh Nyonya Fira yang tidak sabar mendengar jawaban dari isteri Guru Fu itu.
"Apa kau juga mendapatkan teror yang sama?" tanya isteri sang Guru, ini dia lebih serius dan penekanan dalam menyampaikan kata-katanya.
"Iya, ada pesan di secarik kertas dari seseorang dengan inisial M.R, tetapi itu sudah seminggu yang lalu. Aku ingin berbicara dengan Alex tentang hal ini, tetapi menurutku jika hanya lewat sambungan telepon kurang puas, jadi aku memutuskan untuk menemuinya, sekaligus ingin mengobati rindu kepada kelima cucuku." Nyonya Fira akhirnya menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya, karena selama ini dia menyembunyikan tentang teror ini dari sang suami. Dia berpikir jika sang suami terlalu mencampuri urusan para mafia, akan sangat berbahaya bagi Tuan Hans dan dirinya.
"Kau bisa ikut membahasnya dengan Alex di di lantai 2, mereka juga sudah membicarakan tentang teror yang dilancarkan oleh orang tidak bertanggung," pinta isteri sang Guru, dia menyarankan agar Nyonya Fira segera menemui Alex dan Guru, agar permasalahan tentang teror segera bisa di atasi.
__ADS_1
"Aku pergi dulu Nyonya," ucap Nyonya Fira berpamitan dengan isteri Guru Fu untuk mengikuti saran dari isteri Guru Fu.
'Baiklah! semoga permasalahan ini segera usai,' batin Nyonya Fira melangkah yakin menuju lantai dua rumah itu.